Suka Dipakai Dukun, Tanaman RI Ini Ternyata Bisa Jadi Serum Kecantikan

Wiji Nur Hayat, CNBC Indonesia
Kamis, 14/05/2026 13:00 WIB
Foto: Ilustrasi Kemenyan. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tanaman yang selama ini identik dengan ritual tradisional dan praktik perdukunan ternyata mulai dilirik sebagai bahan baku industri kecantikan modern. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan kemenyan kini dikembangkan menjadi bahan aktif serum hingga sunscreen berbasis minyak atsiri alami.

Riset tersebut dipamerkan dalam ajang Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) 2026 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 6-8 Mei 2026 lalu. Di tengah dominasi bahan baku impor untuk industri kosmetik nasional, BRIN mencoba mendorong pemanfaatan biodiversitas lokal sebagai alternatif bahan aktif produk kecantikan.

Periset Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Cut Rizlani Kholibrina, mengatakan pihaknya mengembangkan serum dan sunscreen dengan memanfaatkan minyak atsiri dari sejumlah tanaman asli Indonesia. Teknologi tersebut disebut sudah mencapai Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 7 atau tahap menuju komersialisasi.


Dalam formulasi yang dikembangkan, kemenyan menjadi salah satu bahan utama karena dinilai memiliki manfaat untuk kesehatan kulit. Selain kemenyan, BRIN juga menggunakan sedap malam, cempaka, hingga cendana sebagai campuran bahan aktif alami.

"Kemenyan dimanfaatkan untuk regenerasi kulit, anti-aging, serta antioksidan dan anti-inflamasi yang lebih kuat dari bahan kimia," ujar Cut dalam keterangannya dikutip Kamis (14/5/2026).

Sedap malam atau tuberose memiliki efek anti-inflamasi sekaligus membantu relaksasi tubuh sehingga mendukung kualitas tidur. Sementara cempaka disebut mengandung antioksidan tinggi yang membantu regenerasi sel kulit, sedangkan cendana dimanfaatkan sebagai sumber antioksidan alami.

BRIN mengklaim penggunaan bahan alami dinilai lebih mudah diterima tubuh dan berpotensi meminimalkan residu kimia jangka panjang. Namun penggunaan minyak atsiri tetap dibatasi agar aman untuk kulit.

"Untuk menjamin keamanan konsumen, BRIN menetapkan standar formulasi minyak atsiri di bawah 2% guna menghindari risiko iritasi kulit," jelas Cut.

Tak hanya skincare, BRIN juga memamerkan inovasi parfum dan reed diffuser berbasis aroma khas Nusantara. Periset Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Aswandi, mengatakan pengembangan produk tersebut didorong tingginya impor bahan baku parfum di Indonesia.

Pasar parfum nasional mencapai Rp9 triliun per tahun. Namun sekitar 63% produk parfum masih berasal dari impor, sementara industri lokal juga masih bergantung pada bahan baku luar negeri.

"Kami menciptakan formulasi yang mencerminkan aroma khas Nusantara, seperti kemenyan dan kapur barus (kamper). Produk ini bukan hanya sekadar wangi, tetapi memiliki khasiat aromaterapi yang bisa membuat pengguna lebih rileks, fokus, dan bahagia," ungkap Aswandi.

Selain sektor kecantikan, BRIN juga memperkenalkan produk pasta gigi dan cairan kumur berbasis enzim laccase dari biodiversitas Indonesia. Produk tersebut dikembangkan sebagai antibakteri dan pemutih gigi alami untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Periset Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Dede Heri Yuli Yanto, mengatakan selama ini bahan baku enzim untuk produk oral care masih banyak didatangkan dari luar negeri.

"Selama ini bahan baku enzim kita masih impor, padahal kita punya kekayaan biodiversitas yang besar. Kami mengisolasi enzim lakase ini dari biodiversitas asli Indonesia untuk digunakan sebagai antibakteri dan pemutih gigi alami yang lebih aman serta harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan produk impor," ujar Dede.


(wur/wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Barcelona Jadi Juara Liga Spanyol Usai "Bantai" Real Madrid 2-0