Mengapa Banyak Jenazah yang Dibiarkan di Gunung Everest Nepal?

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
29 April 2026 13:50
Foto: Gunung Everest, Nepal. (AP/Niranjan Shrestha)
Foto: Gunung Everest, Nepal. (AP/Niranjan Shrestha)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gunung Everest bukan hanya dikenal sebagai puncak tertinggi di dunia, tapi juga menyimpan sisi gelap yang jarang dibicarakan. Di balik ambisi para pendaki menaklukkan ketinggian, terdapat ratusan jenazah yang tetap berada di sana, tak pernah dipulangkan.

Berada di perbatasan Nepal dan Tibet, China, Everest selalu menjadi magnet bagi para pendaki dari seluruh dunia, terutama saat musim semi. Banyak yang datang dengan satu tujuan yaiitu mencapai titik tertinggi di bumi.

Namun, perjalanan menuju puncak bukan perkara mudah. Dibutuhkan latihan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Meski sudah siap secara fisik dan mental, tidak ada jaminan seseorang bisa kembali dengan selamat.

Pendakian Everest adalah pertaruhan nyawa. Perjalanan berlangsung berhari-hari, melewati kondisi ekstrem, oksigen tipis, serta cuaca yang tak bisa diprediksi.

Data menunjukkan lebih dari 310 orang meninggal sejak eksplorasi Everest dimulai pada awal 1900-an. Jumlah tersebut membuat keberadaan jenazah di jalur pendakian menjadi pemandangan yang bukan lagi hal langka.

"Sulit percara apa yang saya lihat di atas sana," kata pembuat film Everest, Ella Saikaly dikuti dari Instagramnya.

Ia menyebut apa yang dilihatnya sebagai "kematian, kekacauan, antrean, dan mayat di sepanjang jalur pendakian". Salah satu tragedi besar terjadi pada 2015, ketika longsoran salju menewaskan sedikitnya 19 orang. Namun, jumlah korban jiwa pada 2023 bahkan melampaui angka tersebut, seiring meningkatnya jumlah pendaki.

Pada musim pendakian 2023, Nepal mengeluarkan 463 izin pendakian. Jika ditambah para sherpa yang mendampingi, total sekitar 900 orang mencoba mencapai puncak Everest dann itu menjadikannya salah satu musim tersibuk dalam sejarah.

Lalu, kenapa jenazah-jenazah itu tidak dipulangkan?

Proses evakuasi di Everest sangat sulit, mahal, dan berisiko tinggi. Untuk menurunkan satu jenazah saja, biayanya bisa mencapai puluhan ribu dolar AS, bahkan sekitar US$70.000 atau setara lebih dari Rp1 miliar.

Risikonya juga tidak main-main. Pada 1984, dua pendaki asal Nepal dilaporkan tewas saat mencoba mengevakuasi jenazah dari gunung tersebut.

Karena faktor biaya dan bahaya tersebut, banyak jenazah akhirnya dibiarkan tetap berada di lokasi mereka meninggal. Bahkan, beberapa di antaranya menjadi penanda jalur bagi pendaki lain.

Lhakpa Sherpa, pendaki wanita yang memegang rekor terbanyak mencapai puncak Everest, mengaku melihat tujuh jenazah hanya dalam satu perjalanan menuju puncak pada 2018. Selama bertahun-tahun, kisah tentang jenazah juga berkembang menjadi semacam legenda di kalangan pendaki.

Salah satunya adalah sosok yang dijuluki "Green Boots", seorang pendaki yang ditemukan tewas di sebuah gua sekitar 1.130 kaki dari puncak dan kerap terlihat oleh pendaki lain.

(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]

Most Popular
Features