Pulau Terpadat di Dunia Ini Jadi Rebutan, Ada Kasino di Tengah Laut

Tim Redaksi, CNBC Indonesia
Jumat, 27/03/2026 09:20 WIB
Foto: Pulau Migingo yang dihuni oleh penduduk yang sebagian besar mencari ikan Nile perch di Danau Victoria di perbatasan Uganda dan Kenya. (AFP/YASUYOSHI CHIBA/File Foto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Migingo, sebuah pulau kecil di Danau Victoria, diyakini sebagai pulau dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia. Menurut laporan Al Jazeera, meskipun pulau ini hanya memiliki luas sekitar 2.000 meter persegi-kurang dari satu blok kota-namun ia menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 500 jiwa.

Karena letaknya yang strategis di perbatasan Kenya dan Uganda, tepat di perairan kaya ikan, pulau ini menjadi sumber sengketa antara kedua negara.

Pulau Migingo tak lebih dari batu terjal yang dulunya nyaris tenggelam sebelum permukaan Danau Victoria mulai surut di awal 1990-an. Tapi sekarang, batu ini berubah jadi tempat tinggal padat penduduk. Gubuk-gubuk seng berjejal, berfungsi sebagai tempat tinggal, warung, bar, rumah bordil, bahkan kasino terbuka.



Foto: Pulau Migingo yang padat penduduk di Danau Victoria di perbatasan Uganda dan Kenya. (AFP/YASUYOSHI CHIBA)

Migingo tidak lebih dari sekadar batu yang menjorok keluar dari air sebelum danau itu mulai surut pada awal 1990-an, menurut Emmanuel Kisiangani, seorang peneliti senior di kantor Institut Studi Keamanan Pretoria.

Hasil tangkapan ikan telah sangat berkurang selama bertahun-tahun di komunitas nelayan di sekitar Danau Victoria karena penangkapan ikan yang berlebihan dan invasi tanaman eceng gondok yang menghalangi transportasi di danau dan akses ke pelabuhan. Namun, spesies seperti ikan Nil (disebut juga ikan Barramundi Afrika) masih melimpah di perairan dalam sekitar Migingo, menjadikan pulau ini pusat penangkapan ikan yang berharga dan unik.


Sengketa Dua Negara: Kenya vs Uganda

Meski secara fisik kecil, Migingo menyulut ketegangan politik yang cukup panjang. Kenya dan Uganda sama-sama mengklaim kepemilikan pulau ini, bahkan membentuk komite bersama pada 2016 untuk menyelesaikan perbatasan. Tapi, hasilnya buntu karena kedua negara merujuk peta kolonial era 1920-an yang tak kunjung memberi kejelasan.

"Pulau ini sebenarnya tanah tak bertuan," kata Eddison Ouma, nelayan asal Uganda. Tak sedikit yang menyebut konflik ini sebagai "perang terkecil di Afrika".

Di tengah sempitnya ruang dan ketidakjelasan hukum, kehidupan di Migingo tetap berjalan. Nelayan datang dan pergi, membawa hasil tangkapan yang laris di pasar internasional. Tapi di balik itu, infrastruktur terbatas, sanitasi buruk, dan hukum yang kabur menjadi realitas sehari-hari.

Berkat ekspor yang terus berlanjut ke Uni Eropa dan melonjaknya permintaan ikan barramundi di Asia, ikan besar itu telah menjadi ekspor bernilai jutaan dolar lebih. Uganda mulai mengerahkan polisi bersenjata dan marinir ke Migingo untuk mengenakan pajak kepada nelayan.

Sementara, nelayan Kenya mulai mengeluh bahwa mereka dilecehkan oleh pasukan Uganda karena berbagai alasan, termasuk tuduhan penangkapan ikan ilegal di perairan Uganda. Sebagai tanggapan, pemerintah Kenya mengerahkan marinir ke Migingo yang hampir membuat kedua negara itu bertengkar.

Anggota dewan Kenya Oburu Oginga mendesak Presiden Uganda Yoweri Museveni untuk meredam kekerasan aparat dalam upaya pengambilalihan Pulau Migingo.

Menurut Pemerintah Kenya, aparat Uganda dengan perlengkapan militer sering melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk mengintimidasi nelayan dan pedagang Kenya, memaksa mereka pulang. 

"Saya memohon kepada Anda, tolong jadikan Danau Victoria sebagai fasilitas umum sehingga Anda dapat mengelola keamanan danau bersama-sama dengan kami (Kenya). Kami tidak menginginkan gangguan dari pihak kami dan pihak Anda. Tolong kembalikan seperti dulu ketika leluhur kami mengelolanya tanpa konflik sama sekali," katanya.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tren Kecantikan Perawatan Botox hingga Filler Untuk Anak Muda