Profesor Oxford Ungkap Reaksi Otak Saat Lihat Video Monyet Punch

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
26 February 2026 11:25
Seekor bayi monyet bernama Punch menjadi pusat perhatian di media sosial. Punch merupakan bayi monyet di Kebun Binatang Ichikawa di Jepang. (Tangkapan layar media sosial)
Foto: Seekor bayi monyet bernama Punch menjadi pusat perhatian di media sosial. Punch merupakan bayi monyet di Kebun Binatang Ichikawa di Jepang. (Tangkapan layar media sosial)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seekor monyet makaka kecil di Kebun Binatang Kota Ichikawa, Jepang, mendadak viral setelah kisahnya menyentuh jutaan warganet. Monyet jantan bernama Punch itu ditolak oleh induknya tak lama setelah lahir dan kini terlihat selalu memeluk boneka orangutan sebagai "ibu pengganti".

Foto-foto Punch yang meringkuk sambil menggenggam boneka berbulu itu ramai dibagikan, bahkan memunculkan tagar #HangInTherePunch. Banyak yang mengaku tak kuasa menahan rasa haru melihatnya.

Penjelasan Ilmiah: Otak Kita 'Aktif' dalam Sepersekian Detik

Fenomena ini ternyata tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menarik perhatian ilmuwan. Profesor neurosains dari University of Oxford, Morten Kringelbach menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di otak saat kita melihat sosok seperti Punch.

Menurutnya, makhluk kecil dengan ciri 'bayi' seperti Punch dengan mata besar dan tubuh mungil memicu respons cepat di bagian emosional otak bernama orbitofrontal cortex. Aktivasi ini terjadi hanya dalam sepersekian detik, bahkan sebelum kita sadar sepenuhnya.

"Itu sebabnya kita spontan berkata 'aww'," jelasnya dikutip dari Instagram resmi @oxford_uni, Kamis (26/2/2026).

Respons terhadap hal-hal yang dianggap imut atau cute bukan sekadar reaksi biasa. Saat seseorang membuka diri terhadap rasa gemas, ia juga membuka ruang untuk empati dan welas asih.

Menurut Kringelbach, kisah Punch menyentuh karena mengingatkan kita pada hal paling mendasar sebagai manusia, yaitu kebutuhan untuk dirawat dan kemampuan untuk peduli.

Melihat bayi hewan mencari kenyamanan pada boneka, setelah ditolak induknya, memicu empati lintas spesies. Ada refleksi tentang rapuhnya kehidupan awal, sekaligus tentang pentingnya kehangatan dan perlindungan.

Kisah Punch bukan sekadar viral karena lucu. Ia menjadi pengingat bahwa naluri untuk merawat dan merasa terhubung adalah bagian dari mekanisme otak yang dalam, yang membuat kita mampu berempati, baik kepada manusia maupun hewan.

Dan mungkin, di tengah arus konten yang serba cepat, itulah alasan kenapa foto seekor monyet kecil memeluk boneka bisa terasa begitu menggetarkan.

Alasan Punch Ditinggalkan Ibunya

Punch lahir pada 26 Juli 2025 dengan berat sekitar 500 gram. Persalinan induknya disebut berlangsung sulit di tengah musim panas. Setelah melahirkan anak pertamanya, sang induk diduga kelelahan dan tidak menunjukkan tanda ingin merawat bayinya.

Penjaga kebun binatang kemudian mengambil alih perawatan. Mereka memisahkan Punch sementara dari kelompoknya dan memberinya susu agar tetap sehat.

Menurut pihak kebun binatang, penelantaran anak memang bisa terjadi pada persentase tertentu, terutama pada kelahiran pertama. Dalam kelompok monyet gunung, biasanya ada induk lain yang membantu, namun kali ini tidak ada yang mengambil peran tersebut.

Karena bayi monyet biasanya berpegangan pada bulu induknya untuk rasa aman sekaligus melatih otot, penjaga mencoba berbagai 'pengganti' seperti handuk gulung dan beberapa boneka. Dari semua pilihan itu, Punch justru paling menyukai boneka orangutan berbulu.

Tekstur bulu yang mudah digenggam serta bentuknya yang menyerupai primata lain diyakini memberi rasa nyaman. Pada malam hari, Punch terlihat memeluk boneka tersebut saat tidur.

(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Labubu Bikin Pop Mart Panen Cuan, Pendapatan Meledak Jadi Rp29 Triliun


Most Popular
Features