AI Masuk Dunia Medis, Deteksi Kanker Jadi Lebih Cepat

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
26 February 2026 10:45
Ilustrasi artificial Intelegence (AI). (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)
Foto: Ilustrasi artificial Intelegence (AI). (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai masuk ke ruang diagnostik kanker di Indonesia. Teknologi ini digunakan sebagai first reader atau pembaca awal dalam proses skrining dan analisis kanker payudara serta kanker paru, namun para dokter menegaskan, AI tidak menggantikan peran tenaga medis.

"AI tidak akan menggantikan dokter. Tapi dokter yang tidak pakai AI bisa kalah dengan yang pakai AI," ujar Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, dalam diskusi "Hari Kanker Sedunia: Transformasi Skrining dan Diagnosis Kanker dengan AI" oleh AstraZeneca dan Siloam Hospital di Jakarta, Rabu (25/2/2026).

dr. Jeffry mengatakan, berdasarkan data GLOBOCAN, tercatat sekitar 65 ribu kasus baru kanker payudara dan lebih dari 22 ribu kematian pada tahun 2020. Sebagian kasus kanker payudara berkaitan dengan ekspresi Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2), yaitu salah satu protein yang dapat mendorong pertumbuhan sel kanker secara lebih agresif.

"Melalui implementasi teknologi AI sebagai pendamping tenaga medis, proses identifikasi tipe kanker payudara, dapat dilakukan lebih cepat dan akurat, dan ini diharapkan mendukung pengambilan keputusan terapi yang lebih tepat dan tepat waktu di praktik klinis," jelas dr. Jeffrey.

Saat ini di beban kanker nasional terus meningkat dengan sekitar 400 ribu kasus baru terdeteksi setiap tahun dan angka kematian mencapai 240 ribu kasus. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus kanker di Indonesia diproyeksikan melonjak lebih dari 70% pada 2050 jika deteksi dini tidak diperkuat.

Sementara itu untuk kanker paru, masalahnya bukan hanya jumlah kasus, tetapi keterlambatan diagnosis. Sekitar 90% pasien datang dalam stadium lanjut. Padahal, menurut Dokter Pulmonologi Paru, Subspesialis Onkologi Toraks, dr. Sita Laksmi Andarini, progresi kanker paru dari stadium awal ke stadium lanjut bisa terjadi hanya dalam waktu sekitar 1 hingga 1,5 tahun.

"Artinya, jeda satu tahun saja bisa mengubah peluang terapi secara drastis dan perbedaan stadium juga berdampak langsung pada biaya," katanya.

Penanganan kanker pada stadium lanjut bisa mencapai empat hingga lima kali lebih mahal dibanding stadium awal. Oleh karena itu, percepatan skrining dan diagnosis menjadi krusial, bukan hanya untuk meningkatkan harapan hidup, tetapi juga untuk menekan beban pembiayaan kesehatan.

Peran AI

Di sinilah AI berperan. Pada kanker payudara, AI membantu penilaian status HER2, termasuk kategori HER2-low dan HER2-ultra low yang batasnya sangat tipis. Studi yang dipresentasikan dalam ASCO 2025 menunjukkan, penggunaan AI dapat meningkatkan deteksi HER2-ultra low hingga 40% serta mendorong akurasi penilaian mendekati 92%.

Sementara pada kanker paru, AI digunakan dalam pembacaan foto toraks untuk menandai nodul paru yang mencurigakan. Sistem ini membantu dokter radiologi memprioritaskan kasus abnormal.

"Bahkan, penggunaan AI dilaporkan mampu memangkas waktu penyelesaian laporan hingga sekitar 40%, sehingga alur kerja menjadi lebih efisien," ujar Doter Radiologi, dr. Dewi Tantra Hardiyanto, Sp.Rad.

Ia menegaskan, AI hanya bertindak sebagai pembaca awal yang menandai area berisiko sebelum diverifikasi secara klinis. Dokter tetap mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh, termasuk riwayat penyakit dan faktor risiko.

Dokter Patologi Anatomi, Dr. dr. Patricia Diana Prasetyo, Msi.Med, Sp.PA, mengatakan, dalam konteks Indonesia yang memiliki jumlah dokter patologi terbatas dan tantangan geografis sebagai negara kepulauan, integrasi AI memungkinkan hasil pemeriksaan dibagikan secara digital lintas fasilitas kesehatan. Konsultasi kasus, kata ia, bisa dilakukan jarak jauh tanpa harus memindahkan sampel fisik, memangkas waktu dan jarak.

Terkait implementasi di lapangan, AstraZeneca Indonesia bersama Siloam International Hospitals telah mengintegrasikan sistem berbasis AI untuk membantu mendeteksi berbagai kelainan paru. Teknologi ini dilengkapi sistem penilaian tervalidasi yang mampu membedakan nodul berisiko tinggi yang berpotensi kanker dan nodul berisiko rendah.

Kolaborasi ini disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem layanan kanker nasional melalui pemanfaatan teknologi digital. Fokusnya bukan sekadar menghadirkan alat baru, tetapi meningkatkan akurasi diagnosis dan mempercepat deteksi dini di tengah lonjakan kasus kanker.

Medical Director AstraZeneca Indonesia, Feddy mengatakan, peningkatan beban kanker menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi. Menurutnya, pemanfaatan AI menjadi langkah strategis untuk membantu tenaga medis mempercepat proses diagnostik, meningkatkan akurasi interpretasi klinis, serta memperkuat pengambilan keputusan berbasis data.

Presiden Direktur Siloam, David Utama menegaskan lagi bahwa, teknologi ini tidak ditujukan untuk menggantikan dokter. "AI menjadi pendamping yang memperkaya pengambilan keputusan klinis. Kami ingin mengembangkan model layanan yang dapat direplikasi secara nasional, agar masyarakat dapat mengakses perawatan kanker berstandar internasional tanpa harus ke luar negeri," ujarnya.

Senada, President Director AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menyebut kolaborasi ini sebagai bagian dari komitmen menghadirkan inovasi berbasis sains yang berdampak nyata bagi pasien. Ia berharap integrasi AI dapat memperkuat skrining dini, meningkatkan kualitas terapi, serta mendukung transformasi sistem layanan kanker nasional yang lebih efektif dan berkelanjutan.

(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Deteksi Dini Penting untuk Turunkan Kematian akibat Kanker Payudara


Most Popular
Features