CNBC Insight

Terserang Stroke, Wanita di Jawa Mendadak Berbicara dengan Logat Asing

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
21 February 2026 15:00
Medical illustration of a brain with stroke symptoms
Foto: Getty Images/iStockphoto/peterschreiber.media

Jakarta, CNBC Indonesia — Logat bicara biasanya terbentuk dari lingkungan, budaya, dan kebiasaan hidup sejak kecil. Tapi bagaimana jadinya jika logat itu berubah mendadak bukan karena pindah lingkungan atau belajar bahasa baru, tapi akibat stroke?

Hal ini dialami seorang perempuan berusia 54 tahun yang berobat ke RSUD Dr. Moewardi, Surakarta, Jawa Tengah. Diceritakan, beberapa tahun sebelumnya, dia terserang stroke yang membuat aktivitas sehari-hari terganggu, termasuk kemampuan berjalan dan berbicara. Perlahan, kondisinya berubah dan pasien menjalani pengobatan lanjutan di RSUD Dr. Moewardi.

Saat dilakukan pemeriksaan, ditemukan beberapa anomali, seperti kesemutan, kelemahan pada sisi kanan anggota tubuh, dan yang paling mencolok, perubahan aksen atau logat bahasa.

"Seorang perempuan 54 tahun mengeluhkan kesemutan dan kelemahan pada ekstremitas (red, anggota tubuh) kanan serta perubahan aksen bahasa saat berkunjung ke Klinik Neurologi RSUD Dr. Moewardi," ungkap riset dari Departemen Neurologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret dalam laporan "Patient With Foreign Accent Syndrome in Post Infarct Thrombotic Stroke: A Case Report" (2024).

Sepanjang hidupnya, pasien diketahui selalu tinggal di lingkungan dan budaya yang sama, yakni Jawa. Saat terserang stroke, pasien masih fasih dan memiliki logat Jawa.

Namun beberapa tahun kemudian, hingga saat pemeriksaan di RSUD Moewardi, logat pasien berubah menjadi Madura. Padahal pasien bukan orang Madura dan tidak pernah tinggal di sana.

Pasien juga mengaku tidak pernah mengalami trauma kepala atau operasi. Masalah medis yang ada hanyalah stroke dengan riwayat hipertensi.

Atas dasar ini, tim dari Departemen Neurologi melakukan pemeriksaan MRI otak. Hasilnya menunjukkan gangguan pada lobus frontal bilateral. Ini merupakan area yang berperan penting dalam fungsi bahasa, memori, dan kontrol motorik bicara. Dari sini, tim mengambil kesimpulan bahwa kejadian pada pasien tersebut merupakan kasus langka bernama Foreign Accent Syndrome (FAS).

"Perubahan aksen pada pasien ini, yang dikenal sebagai Sindrom Aksen Asing (Foreign Accent Syndrome/FAS), diyakini disebabkan oleh stroke yang memengaruhi lobus frontal bilateral," ungkap tim peneliti, yakni Firstiafina Tiffany, Ira Ristinawati, Shafira Nur Hanifa

Menurut situs Cleveland Clinic, FAS adalah kondisi langka di mana cara bicara seseorang berubah secara tiba-tiba dan sangat mencolok.

"Seperti namanya, bagi orang lain terdengar seperti Anda mulai berbicara dengan aksen asing. FAS mungkin mengindikasikan adanya gangguan pada fungsi otak Anda," tulis Cleveland Clinic.

Kasus pasien perempuan 54 tahun itu bukan yang pertama. Di luar negeri, kasus serupa juga dilaporkan, meski sangat jarang. Salah satunya dialami seorang perempuan berusia 34 tahun di Amerika Serikat. Diketahui, perempuan tersebut tumbuh besar di AS dan punya riwayat schizophrenia. 

Namun, dikutip dari riset berjudul "Foreign Accent Syndrome, a Rare Presentation of Schizophrenia in a 34-Year-Old African American Female: A Case Report and Literature Review" (2016), pasien tersebut perlahan mengalami FAS dengan perubahan aksen dari logat Amerika ke logat Inggris. Padahal pasien tidak pernah tinggal di Inggris dan keluarganya juga tidak ada yang berasal dari Inggris.

Sampai 2016, di seluruh dunia hanya ada 100 laporan kasus serupa. Atas dasar inilah, peneliti mengkategorikan kasus tersebut langka. 

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini dengan relevansinnya pada masa lalu.
(mfa/mfa) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Jangan Abaikan, Kerokan Picu 8 Efek Berbahaya-Tak Cuma Iritasi Kulit


Most Popular
Features