10 Negara yang Pangkas Jam Kerja Selama Puasa Ramadan
Jakarta, CNBC Indonesia - Selama Ramadan, umat Muslim berpuasa dari fajar hingga matahari terbenam. Karena puasa bisa memengaruhi stamina, banyak negara dengan mayoritas penduduk Muslim mengatur pengurangan jam kerja. Tujuannya agar pekerja bisa menyeimbangkan kewajiban profesional dan ibadah.
Namun, aturan jam kerja Ramadan tidak seragam di setiap negara. Ada yang menetapkan batas harian, ada yang membatasi total jam mingguan, dan ada pula yang menyerahkan fleksibilitas kepada masing-masing perusahaan.
Berikut gambaran kebijakan jam kerja Ramadan 2026 di berbagai negara, melansir dari Times of India, Kamis (19/2/2026):
Negara-Negara Teluk: Aturan Tegas dan Jelas
1. Arab Saudi
Di Arab Saudi, karyawan Muslim bekerja maksimal enam jam per hari atau 36 jam per minggu selama Ramadan. Pegawai sektor publik umumnya mengikuti pola enam jam kerja per hari.
2. Bahrain
Bahrain juga membatasi jam kerja karyawan Muslim menjadi enam jam per hari atau 36 jam per minggu selama bulan suci.
3. Oman
Oman menerapkan batas maksimal enam jam per hari atau 36 jam per minggu bagi pekerja Muslim saat Ramadan.
4. Kuwait
Di Kuwait, batas kerja selama Ramadan adalah 36 jam per minggu dan berlaku bagi semua pekerja tanpa memandang agama. Pegawai sektor publik biasanya bekerja enam jam per hari.
5. Qatar
Qatar menetapkan batas 36 jam kerja per minggu selama Ramadan dan berlaku untuk semua karyawan. Di kawasan Qatar Financial Centre, pekerja yang berpuasa tidak boleh bekerja lebih dari enam jam per hari.
6. Uni Emirat Arab: Aturan Berbeda Tiap Kawasan
Uni Emirat Arab memiliki ketentuan khusus tergantung wilayah kerja.
- Onshore UAE: Berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan, jam kerja dikurangi dua jam per hari selama Ramadan untuk semua karyawan, baik yang berpuasa maupun tidak.
- Abu Dhabi Global Market (ADGM): Karyawan Muslim mendapat pengurangan 25% dari jam kerja harian tanpa pemotongan gaji.
- Dubai International Financial Centre (DIFC): Karyawan Muslim tidak diwajibkan bekerja lebih dari enam jam per hari selama Ramadan dengan gaji tetap penuh.
Asia Tenggara: Pendekatan Lebih Fleksibel
7. Indonesia
Indonesia tidak memiliki aturan nasional yang mewajibkan pengurangan jam kerja di sektor swasta. Namun, banyak perusahaan menerapkan jam fleksibel atau pulang lebih awal. Instansi pemerintah biasanya menyesuaikan jam operasional selama Ramadan.
8. Malaysia
Malaysia memiliki pola serupa. Tidak ada aturan nasional khusus bagi sektor swasta, tetapi banyak perusahaan memberikan penyesuaian shift atau jam pulang lebih cepat. Kantor pemerintah umumnya memangkas jam kerja.
9. Mesir & Pakistan
Di Mesir, lembaga pemerintah biasanya beroperasi lima hingga enam jam per hari selama Ramadan, dan banyak perusahaan swasta mengikuti pola tersebut. Pakistan juga menerapkan jam kerja lima hingga enam jam per hari di kantor pemerintahan, dengan sektor swasta yang cenderung mengikuti.
10. Turki
Turki tidak memiliki aturan resmi pengurangan jam kerja selama Ramadan. Namun, banyak perusahaan menyesuaikan jadwal agar karyawan bisa masuk lebih pagi dan pulang lebih awal.
Negara Minoritas Muslim
Di negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, dan Prancis, Ramadan bukan hari libur nasional. Namun, banyak perusahaan memberi fleksibilitas, seperti work from home, penyesuaian jam kerja, atau ruang khusus untuk salat.
Prancis yang dikenal dengan kebijakan sekularisme ketat pun tetap memberi ruang terbatas di sejumlah tempat kerja, seperti perpanjangan waktu istirahat untuk berbuka.
(hsy/hsy)