3 Makanan ini Ampuh Turunkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke

Linda Sari Hasibuan, CNBC Indonesia
Jumat, 06/02/2026 18:35 WIB
Foto: Ilustrasi Yogurt. (Dokumentasi Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tidak dimungkiri, konsumsi produk susu sering kali menjadi perdebatan dalam dunia kesehatan jantung karena kandungan lemak jenuhnya. Namun, sebuah studi skala besar terbaru yang dilakukan di China dan diterbitkan dalam Journal of Nutrition memberikan perspektif baru.

Melansir Eating Well, para ilmuwan meneliti bagaimana kebiasaan diet seseorang berkontribusi menurunkan risiko serangan jantung. Salah satu bidang yang menarik perhatian adalah konsumsi produk susu.


Studi ini menjadi sangat relevan karena dilakukan di populasi yang secara tradisional memiliki tingkat konsumsi produk susu yang rendah, namun kini mulai meningkat. Para peneliti ingin melihat apakah tren konsumsi ini membawa dampak positif bagi kesehatan kardiovaskular.

Berbeda dengan negara Barat yang sudah terbiasa dengan konsumsi susu tinggi, masyarakat China memberikan gambaran unik tentang bagaimana perubahan pola makan dari rendah ke moderat dapat memengaruhi tubuh. Hasilnya menunjukkan bahwa integrasi produk susu ke dalam diet harian berhubungan signifikan dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner dan serangan jantung.

Berikut adalah tiga jenis makanan berbasis produk susu yang disoroti dalam studi tersebut sebagai pelindung jantung:
- Susu Segar: Konsumsi rutin dalam jumlah moderat membantu menjaga elastisitas pembuluh darah.
- Yogurt: Kandungan probiotik dan nutrisinya terbukti membantu mengontrol tekanan darah dan peradangan.
- Keju: Meskipun sering dihindari, konsumsi dalam porsi yang tepat ternyata berkontribusi pada profil lipid yang lebih sehat dibandingkan sumber lemak lainnya.

Untuk menyelidiki hubungan antara produk susu dan kesehatan, para peneliti menggunakan China Kadoorie Biobank, sebuah studi prospektif besar-besaran. Mereka menganalisis data dari lebih dari 460.000 orang dewasa China berusia 30 hingga 79 tahun yang tidak memiliki riwayat penyakit utama seperti kanker, penyakit jantung, atau diabetes pada awalnya.

Peserta direkrut dari 10 wilayah yang beragam di seluruh China antara tahun 2004 dan 2008. Menggunakan kuesioner terperinci, para peneliti mengumpulkan informasi tentang gaya hidup, riwayat medis, dan seberapa sering mereka mengonsumsi 12 kelompok makanan utama, termasuk produk susu.

Pada awal penelitian, 70% peserta melaporkan jarang atau tidak pernah mengonsumsi susu, sementara hanya kurang dari 11% yang mengonsumsinya empat kali atau lebih dalam seminggu.

Selama periode tindak lanjut rata-rata hampir 12 tahun, para peneliti melacak siapa yang mengembangkan penyakit kardiometabolik dengan menghubungkannya ke asuransi kesehatan nasional dan registri penyakit. Pendekatan jangka panjang ini memungkinkan mereka untuk melihat bagaimana kebiasaan awal mengonsumsi susu berkorelasi dengan hasil kesehatan di masa mendatang.

Hasil studi
Setelah disesuaikan dengan berbagai faktor seperti usia, merokok, pendapatan, aktivitas fisik, dan indeks massa tubuh (BMI), studi ini mengungkapkan beberapa hubungan penting.

Pertama, asupan susu yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah untuk beberapa kejadian serius:
- Infark miokard akut (serangan jantung): risiko 12% lebih rendah.
- Perdarahan intraserebral, jenis stroke yang disebabkan oleh pendarahan di otak: risiko 31% lebih rendah.
- Kematian kardiovaskular: risiko 18% lebih rendah.

Namun, hasilnya tidak semuanya positif. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi setidaknya empat porsi produk susu setiap minggu memiliki risiko penyakit jantung iskemik 11% lebih tinggi, dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah atau jarang mengonsumsi produk susu.

Mengenai hubungan produk susu dengan diabetes, sebelum disesuaikan dengan BMI, hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan produk susu yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko diabetes yang lebih rendah. Tetapi setelah memperhitungkan BMI, hubungan ini menghilang, menunjukkan bahwa pengaruh produk susu terhadap risiko diabetes mungkin terkait erat dengan pengaruhnya terhadap berat badan.

Keterbatasan studi
Pertama, informasi diet dilaporkan sendiri dan dikumpulkan melalui kuesioner frekuensi, yang bisa kurang akurat dibandingkan dengan catatan harian makanan yang terperinci. Metode ini tidak memungkinkan analisis menyeluruh tentang total asupan energi.

Kedua, penelitian ini tidak dapat membedakan secara andal antara berbagai jenis produk susu, seperti susu, yogurt, atau keju. Efek kesehatan dari produk-produk ini mungkin bervariasi, dan penggabungan semuanya dapat menutupi hubungan yang lebih spesifik.

Ketiga, penelitian ini hanya melibatkan peserta dari China, yang dapat membatasi seberapa baik temuan ini berlaku untuk populasi lain dengan latar belakang genetik atau kebiasaan diet yang berbeda.

Terakhir, meskipun para peneliti telah menyesuaikan banyak faktor pengganggu potensial, tidak mungkin untuk mengesampingkan semuanya. Ini berarti penelitian ini menunjukkan asosiasi, tetapi tidak dapat secara definitif membuktikan bahwa konsumsi susu menyebabkan hasil tersebut.

Bagaimana ini Berlaku dalam Kehidupan Nyata?
Bagi orang-orang di China dan negara-negara lain di mana asupan susu umumnya rendah, hasil ini menunjukkan potensi manfaat dalam memasukkan lebih banyak susu dalam diet. Penelitian ini menemukan bahwa konsumsi susu yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah terhadap beberapa hasil serius, termasuk serangan jantung, stroke hemoragik, dan kematian kardiovaskular.

Asosiasi protektif ini menunjukkan bahwa asupan produk susu dalam jumlah sedang dapat memainkan peran positif dalam mendukung kesehatan jantung dan pembuluh darah, terutama dengan memengaruhi faktor-faktor seperti tekanan darah dan biomarker darah tertentu. Tentu saja, peningkatan risiko penyakit jantung iskemik tidak bisa diremehkan dan perlu terus dipantau.

Meskipun hubungan dengan penyakit jantung iskemik lebih kompleks, temuan keseluruhan menambah bukti yang semakin banyak bahwa makanan olahan susu, bila dikonsumsi sebagai bagian dari diet seimbang, dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat bagi banyak orang.


(miq/miq)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Strategi Bersaing, Pebisnis Hadirkan Kopi Rendah Kalori