Sepak Bola Tetangga RI Kacau-balau, Naturalisasi Berujung Sanksi FIFA
Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya meningkatkan prestasi sepak bola Malaysia melalui program naturalisasi pemain justru berbalik menjadi krisis besar. Skandal pemalsuan dokumen yang menyeret pemain kelahiran luar negeri berujung pada sanksi FIFA, mundurnya jajaran petinggi federasi, serta kemarahan publik di negara tetangga Indonesia (RI) tersebut.
Kekacauan mencapai puncaknya pada Rabu, ketika seluruh badan eksekutif Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) mengundurkan diri. Langkah ini diambil di tengah penyelidikan FIFA terkait tujuh pemain naturalisasi yang diduga menggunakan dokumen palsu untuk memenuhi syarat membela tim nasional.
FIFA menuding FAM menggunakan akta kelahiran palsu untuk mengklaim hubungan leluhur para pemain dengan Malaysia. Padahal, hubungan tersebut dinilai tidak sah, meski menjadi prasyarat utama untuk pemanggilan ke tim nasional.
Akibat pelanggaran tersebut, FIFA menjatuhkan sanksi berupa larangan bermain kepada para pemain serta denda lebih dari US$450.000, setara sekitar Rp7,1 miliar. Sanksi ini menjadi pukulan telak bagi sepak bola Malaysia yang tengah berupaya bangkit.
Namun FAM dan para pemain mengajukan banding ke arbitrasi, Court of Arbitration for Sport (CAS). Pengadilan olahraga internasional itu memberikan penangguhan sementara atas larangan 12 bulan hingga kasus ini ditinjau kembali pada akhir Februari.
Harapan Palsu Naturalisasi
Malaysia, negara berpenduduk sekitar 35 juta jiwa, merupakan penggemar fanatik sepak bola. Negara ini pun belum pernah lolos ke Piala Dunia dan saat ini berada di peringkat 121 FIFA, hanya satu tingkat di atas Indonesia.
Program naturalisasi yang diluncurkan pada 2018 sempat membangkitkan optimisme, terutama menjelang kualifikasi Piala Dunia 2022 di Qatar. Pemain kelahiran Gambia, Mohamadou Sumareh, menjadi salah satu nama pertama yang debut bersama tim nasional, disusul sejumlah pemain asing lainnya.
Secara total, 23 pemain kelahiran luar negeri diberikan kewarganegaraan Malaysia hingga akhir 2025. Namun hasilnya jauh dari harapan. Malaysia gagal lolos ke Piala Dunia 2022 dan kembali tersingkir dalam upaya menuju Piala Dunia edisi Amerika Utara.
Skandal dokumen ini pun memicu kekecewaan mendalam di kalangan publik. Ini disebut menyedihkan dan memengaruhi reputasi negara.
"Ini sangat memalukan," kata pengacara senior sekaligus anggota parlemen Malaysia, Ramkarpal Singh, dikutip AFP, Jumat (30/1/2026).
"Ketika kita melihat perkembangan sepak bola di negara ini menurun hingga level seperti ini, itu sangat menyedihkan. Masalah ini telah mempengaruhi reputasi dan nama baik negara."
[Gambas:Video CNBC]