Riset Ungkap Segini Uang yang Dibutuhkan Manusia agar Bahagia

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
26 January 2026 14:45
Ilustrasi Orang Terkaya. (Dok, Pexel)
Foto: Ilustrasi Orang Terkaya. (Dok, Pexel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kesenjangan pendapatan yang kian melebar antara si kaya dan si miskin, satu pertanyaan klasik kembali mengemuka, sebenarnya, berapa banyak uang yang dibutuhkan manusia untuk hidup bahagia?

Melansir The Independent, Senin (26/1/2026), berbagai riset menunjukkan persepsi publik tentang kesenjangan upah kerap jauh dari realitas. Studi di Amerika Serikat menemukan masyarakat memperkirakan CEO hanya menerima gaji sekitar 10 kali lipat dari pekerja rata-rata, dan idealnya selisih itu cukup lima kali lipat saja.

Faktanya, selama satu dekade terakhir, CEO di AS diperkirakan memperoleh pendapatan sekitar 265 hingga 300 kali lebih besar dibandingkan pekerja rata-rata. Di Australia, publik mengira selisihnya tujuh kali lipat, padahal studi jangka panjang menunjukkan CEO di 100 perusahaan terbesar menerima gaji 55 kali lebih tinggi dari pekerja biasa pada tahun fiskal terakhir.

Jadi, Berapa Uang yang Cukup?

Pertanyaan ini sebenarnya sudah dipikirkan manusia sejak ribuan tahun lalu. Filsuf Yunani kuno Aristoteles memperkenalkan konsep eudaimonia atau "hidup yang baik", yang menekankan kebahagiaan sejati lebih banyak lahir dari karakter, akal budi, dan keseimbangan hidup, bukan dari penumpukan harta semata. Aristotle tidak menolak kekayaan, namun menegaskan uang seharusnya tidak menjadi satu-satunya tujuan hidup.

Penelitian modern pun menunjukkan hasil yang beragam. Sebuah studi di AS pada 2010 menyimpulkan kesejahteraan cenderung mencapai titik optimal di kisaran US$75.000 atau Rp1,18 miliar per tahun. Jika disesuaikan dengan inflasi saat ini, angka tersebut setara sekitar US$111.000 atau Rp1,74 miliar, dengan catatan biaya hidup tiap wilayah berbeda-beda.

Temuan lain menunjukkan kebahagiaan memang bisa meningkat seiring bertambahnya kekayaan, tetapi dampaknya tidak lagi sebesar ketika seseorang naik dari kemiskinan ke kelas menengah. Dengan kata lain, lonjakan kebahagiaan dari US$1 juta ke US$10 juta jauh lebih kecil dibandingkan perubahan hidup dari penghasilan rendah ke stabil.

Eksperimen Uang Tunai dan Kebahagiaan

Sebuah eksperimen pada 2022 melibatkan 200 orang dari Brasil, Indonesia, Kenya, Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan Inggris. Para peserta dipilih secara acak untuk menerima US$10.000 atau sekitar Rp157 juta.

Hasilnya, peserta di negara berpendapatan rendah mencatatkan peningkatan kebahagiaan tiga kali lebih besar dibandingkan mereka yang tinggal di negara berpendapatan tinggi. Meski demikian, manfaat finansial masih terasa hingga kelompok dengan pendapatan rumah tangga mencapai US$123.000 per tahun.

Yang tak kalah mengejutkan, lebih dari dua pertiga uang tersebut justru dibagikan kembali kepada keluarga, teman, orang asing, hingga lembaga amal. Berbagai riset internasional selama puluhan tahun juga menemukan, tujuan hidup yang terlalu materialistis justru berpotensi menurunkan kesejahteraan.

Mengejar kekayaan demi citra dan status sering kali berangkat dari rasa tidak aman dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Ini dikenal sebagai hedonic treadmill, saat seseorang cepat terbiasa dengan standar hidup baru, lalu membutuhkan lebih banyak lagi untuk merasa puas.

Selain itu, waktu dan energi yang dihabiskan untuk mengejar uang kerap mengorbankan hal-hal lain yang justru berperan besar dalam kebahagiaan, seperti hubungan sosial, hobi, dan waktu bersama orang terdekat. Singkatnya, riset demi riset kembali menegaskan, bahwa uang memang penting, tetapi bukan satu-satunya kunci hidup bahagia.

(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Benarkah Uang Bisa Membawa Kebahagiaan? Simak Penelitiannya


Most Popular
Features