Air Hujan Jakarta Mengandung Mikroplastik, Menkes Imbau Pakai Masker
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang diperkirakan meluas di sejumlah wilayah Jakarta dan sekitarnya hingga 27 Januari 2026.
Selain potensi banjir, warga Jakarta juga diimbau waspada terhadap paparan mikroplastik dari air hujan. Terkait hal ini, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat lebih waspada terhadap potensi dampak kesehatan dari paparan partikel mikroplastik yang dapat bertahan lama di dalam tubuh manusia.
"Imbauan saya buat masyarakat adalah kalau bisa, yang paling aman melindunginya pakai masker kalau jalan di luar," kata Menkes beberapa waktu lalu.
"Usahakan jangan jalan di luar sesudah hujan, karena ini turunnya kan dekat-dekat hujannya, partikelnya," tambahnya.
Mengapa air hujan di Jakarta mengandung mikroplastik?
Guru Besar IPB University dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Prof Etty Riani menyebut bahwa fenomena hujan yang mengandung mikroplastik memang bisa terjadi secara ilmiah.
"Mikroplastik, terutama yang berukuran sangat kecil atau nanoplastik, memiliki massa ringan sehingga mudah terangkat ke atmosfer," kata Prof Etty dalam keterangan seperti dikutip dari website resmi IPB University.
Menurutnya, partikel mikroplastik bisa berasal dari berbagai sumber di darat, mulai dari gesekan ban kendaraan, pelapukan sampah plastik kering yang terbawa angin, hingga serat pakaian berbahan sintetis. Saat partikel itu sudah berada di udara, ia bisa terbawa angin dan turun kembali ke bumi bersama air hujan.
"Hujan berperan seperti pencuci udara. Mikroplastik yang melayang di atmosfer akan menyatu dengan tetesan air hujan. Karena ukurannya sangat kecil, partikel itu tidak terlihat, sehingga air hujan tampak bersih padahal sudah tercemar," jelasnya.
Prof Etty menambahkan, sumber mikroplastik di udara perkotaan seperti Jakarta sangat beragam, dan faktor lingkungan seperti suhu tinggi serta udara kering dapat mempercepat pelapukan plastik. Akibatnya, partikel halus lebih mudah beterbangan dan masuk ke atmosfer.
"Tingginya penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari menjadi akar masalah. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, manusia tidak lepas dari plastik. Pada akhirnya, plastik itu terurai menjadi mikroplastik dan nanoplastik," ujarnya.
(hsy/hsy)