Cerita Detoks Digital Generasi Zaman Now: Menulis dan Mengirim Surat
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah dunia yang serba cepat, di mana notifikasi terus berdenging dan jempol kita lelah melakukan scrolling, muncul sebuah gerakan perlawanan yang tenang, yakni menulis surat dengan tangan.
Melansir AP News, kegiatan yang sempat dianggap kuno ini kini kembali populer. Banyak orang, terutama generasi muda, mulai meninggalkan layar sejenak untuk mencari koneksi yang lebih dalam dan nyata melalui kertas dan tinta.
Aktivitas terkait sentuhan mulai dari menulis surat dan klub mesin tik hingga komunitas TikTok yang menampilkan keterampilan kaligrafi dan segel lilin memberikan kebangkitan kembali pada alat tulis retro. Lebih dari sekadar barang antik, kegiatan ini dianggap mampu memperlambat ritme hidup dan membangun koneksi yang lebih personal dengan orang lain.
"Saya merasa seolah-olah teman pena saya adalah teman saya. Saya tidak menganggap mereka jauh berbeda daripada jika saya mengobrol dengan teman di telepon, di kedai kopi, atau di rumah orang lain," kata Melissa Bobbitt (42) seorang penulis surat yang setia dari Claremont, California, Amerika Serikat, seperti dilansir AP, Rabu (21/1/2026).
Tak tanggung-tanggung, ia bahkan memiliki hingga 40 teman pena sekaligus. Menurutnya, berfokus pada satu orang dan benar-benar membaca apa yang mereka katakan, dan berbagi apa yang ada di hati seperti sesi terapi.
Tinta, kertas, dan alat-alat lain yang dulunya merupakan satu-satunya cara untuk mengirim surat dari jauh terus menyatukan orang-orang dari seluruh dunia.
Menulis bisa menjadi pelarian
Dalam masyarakat yang dibentuk oleh ketersediaan yang konstan, hobi praktis seperti menulis surat dan membuat buku tempel membutuhkan fokus dan kesabaran. Tindakan mengambil pena, menyegel amplop dengan lilin, dan menata halaman mungkin menghasilkan hasil yang estetis, tetapi juga menciptakan ruang untuk refleksi.
Stephania Kontopanos, seorang mahasiswa berusia 21 tahun di Chicago, mengatakan bahwa sulit untuk menyingkirkan ponsel dan komputernya, terutama ketika tampaknya semua teman dan rekan-rekannya berada di media sosial dan kelas serta kehidupan pribadinya berputar di sekitar aktivitas daring.
"Ada kalanya ketika saya bersama teman-teman saya dan saat makan malam, saya menyadari bahwa kami semua sedang menggunakan ponsel kami," kata Kontopanos.
Kontopanos juga secara sadar melepaskan diri dari kesibukan dengan mengirim kartu pos kepada keluarga dan teman-temannya, membuat buku tempel (scrapbooking), dan membuat jurnal sampah (junk journaling), yang melibatkan penggunaan kembali bahan-bahan sehari-hari seperti tiket dan kwitansi untuk mendokumentasikan kenangan atau ide.
Nostalgia dapat menumbuhkan rasa kebersamaan
Menulis dan mengirim surat membangkitkan nostalgia bagi KiKi Klassen, yang tinggal di Ontario, Kanada. Wanita berusia 28 tahun ini mengatakan hal itu membantunya merasa lebih terhubung dengan mendiang ibunya, yang merupakan anggota Serikat Pekerja Pos Kanada, yang mewakili pengantar surat dan karyawan pos lainnya.
Pada Oktober 2024, Klassen meluncurkan Lucky Duck Mail Club, layanan surat bulanan berbasis langganan yang mengirimkan karya seninya, kutipan inspiratif, dan pesan kepada para peserta. Ia mengatakan keanggotaannya mencakup lebih dari 1.000 orang di lebih dari 36 negara.
"Ketika saya duduk, saya dipaksa untuk merenung dan memilih kata-kata saya dengan hati-hati. Hal itu juga mendorong kerentanan karena lebih mudah untuk menuliskan perasaan Anda. Saya pernah menerima balasan surat dari orang-orang dan saya menangis mendengar begitu banyak cerita yang menyentuh," kata Klassen.
Cara Memulai
Meskipun menulis surat dan terlibat dalam kegiatan vintage lainnya mungkin tampak mudah diakses, tapi ternyata tidak selalu mudah untuk terlibat. Bagi banyak orang, meluangkan waktu untuk bersantai bisa terasa seperti kewajiban lain dalam jadwal yang penuh dengan tugas. Kontopanos mengaku memutuskan penting baginya untuk memprioritaskan kembali waktunya.
"Semakin tua saya, semakin saya menyadari betapa banyak waktu yang terbuang di ponsel saya. Menciptakan ruang untuk bereksplorasi memungkinkannya menemukan hobi yang cukup ia sukai untuk menjadikannya prioritas, kata Kontopanos.
Sementara itu, Klassen mengatakan bahwa berdasarkan unggahan yang dilihatnya di media sosial, menghidupkan kembali alat tulis antik dan hal-hal kecil yang menyenangkan secara taktil mungkin akan segera menjadi tren.
"Para perempuan akan kembali ke analog pada tahun 2026," katanya.
(miq/miq)