Ahli Matematika India 'Ramal' Uang Kuantum akan Dipakai 20 Tahun Lagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Matematikawan ternama keturunan India, Nalini Joshi memprediksi dalam 20 tahun ke depan manusia akan menggunakan "uang kuantum". Ini menurutnya bisa saja terjadi seiring berkembangnya teknologi komputasi kuantum yang berpotensi mengubah sistem keuangan dan keamanan digital dunia.
Joshi dinobatkan sebagai NSW Scientist of the Year 2025 yang menjadikannya matematikawan pertama yang menerima penghargaan ilmiah tertinggi di negara bagian New South Wales, Australia. Saat ini, Joshi menjabat sebagai Chair of Applied Mathematics di University of Sydney dan dikenal sebagai salah satu pemimpin dunia dalam bidang integrable systems.
Ia juga mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang diangkat sebagai Profesor Matematika di universitas tersebut. Dalam riset terbarunya, Joshi fokus pada salah satu isu paling krusial di era digital, yakni kriptografi kuantum.
Meski komputer kuantum diyakini akan merevolusi banyak bidang, seperti perancangan obat dan ilmu material, teknologi ini juga berpotensi menjadi ancaman besar bagi sistem keamanan siber yang ada saat ini.
"Dua puluh tahun lalu kita belum mengenal smartphone. Sekarang hampir seluruh hidup kita bergantung pada ponsel, mulai dari membayar kopi sampai mengecek saldo rekening. Dua puluh tahun ke depan, kita akan berjalan dengan perangkat berbasis kuantum yang dipenuhi uang kuantum," ujar Joshi dikutip Times of India, Rabu (14/1/2026).
Namun ia memperingatkan, pemerintah dan industri global belum siap menghadapi perubahan besar tersebut. Menurutnya, basis industri saat ini masih minim pengetahuan untuk melindungi masyarakat di masa depan kuantum, bahkan di Australia hanya kurang dari selusin warga yang memiliki keahlian memadai di bidang ini.
"Matematika sangat penting untuk mengamankan masa depan kuantum kita," kata Joshi.
Selain pencapaian akademiknya, Joshi telah meraih berbagai penghargaan nasional dan internasional. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden International Mathematical Union periode 2019-2022, menjadi anggota kehormatan London Mathematical Society, serta Fellow Australian Academy of Science. Pada 2016, ia dianugerahi gelar Officer of the Order of Australia atas jasanya di bidang matematika.
Joshi merupakan lulusan University of Sydney dan peraih University Medalist, serta menyelesaikan doktoralnya di Princeton University. Di luar riset, ia dikenal sebagai advokat bagi perempuan dan kelompok minoritas di dunia sains serta aktif membimbing peneliti muda.
Pada 2018, ia menerima Eureka Prize for Outstanding Mentorship of Young Researchers. Pada ajang 2025 Premier's Prizes for Science, dua akademisi lain dari University of Sydney juga meraih penghargaan, yakni Professor Anita Ho-Baillie untuk kategori Matematika, Ilmu Bumi, Kimia atau Fisika, serta Professor Paul Keall untuk kategori Kepemimpinan Inovasi di New South Wales.
(miq/miq)