6 Cara Mengenali Makanan Sehari-hari yang Memicu Kanker

Linda Hasibuan,  CNBC Indonesia
07 January 2026 11:50
Ilustrasi Sosis Bakar. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Sosis Bakar. (Dok. Freepik)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC IndonesiaMakanan ultra-proses seringkali terlihat tertata rapi di rak-rak toko atau supermarket dibalut klaim kesehatan, rasa yang familiar, dan nama merek ternama. Padahal makanan jenis ini telah kehilangan sebagian besar kualitas alami dari bahan aslinya.

Biasanya, makanan ultra-proses mengandung lima atau lebih bahan pembuat, baik berupa bahan utama maupun bahan tambahan lainnya. Tak cuma itu, makanan ultra-proses meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker kolorektal, payudara, ovarium, dan otak. 

Berikut adalah cara mengenali makanan kemasan ultra-olahan atau ultra-proses, mengutip Times of India.

1. Daftar ingredient yang sangat panjang

Jika ingredient atau daftar bahan terlihat panjang, maka Anda perlu berhati-hati. Sebab, makanan yang terbuat dari bahan-bahan alami jarang membutuhkan banyak komponen.

Produk ultra-olahan sering mengandung penstabil, pengemulsi, pengental, penambah rasa, dan pengawet, tambahan yang dirancang untuk memperpanjang umur simpan dan menstandarisasi rasa, bukan untuk menyehatkan tubuh.

Jika Anda kesulitan membayangkan memasak dengan setengah dari bahan-bahan yang tercantum di rumah, itu adalah sebuah tanda bahwa makanan tersebut masuk kategori ultra-proses.

2. Bahan-bahan yang tidak biasa dipakai di dapur

Kata-kata seperti maltodekstrin, mono- dan digliserida, karagenan, atau perasa buatan bukanlah sesuatu yang ilegal, tetapi merupakan penanda pengolahan yang berat.

Bahan-bahan ini ada untuk memanipulasi tekstur, rasa, atau penampilan. Semakin industrial bahasanya, biasanya semakin jauh makanan tersebut dari makanan asli dan sehat.

3. Klaim sehat terlalu berlebihan

Label yang mengiklankan protein tinggi, nol gula, dipanggang bukan digoreng, atau meningkatkan kekebalan tubuh seringkali mengalihkan perhatian dari apa yang sebenarnya ada di dalamnya. Banyak makanan ultra-olahan mengandalkan satu nutrisi positif untuk menutupi garam berlebih, minyak olahan, atau aditif.

Klaim kesehatan adalah alat pemasaran, bukan jaminan. Daftar bahan atau label kemasan tetap menjadi acuan yang paling benar.

4. Minyak olahan sebagai sumber lemak utama

Makanan ultra-olahan seringkali bergantung pada minyak nabati olahan seperti minyak sawit, minyak kedelai, atau lemak terhidrogenasi karena murah dan stabil. Minyak ini menjalani beberapa tahapan industri sebelum digunakan dan sering digunakan kembali di berbagai produk.

Ketika minyak olahan muncul di bagian atas ingredients, biasanya itu menunjukkan produk yang dibuat untuk bertahan lama ketika disimpan.

5. Rasa yang terasa sempurna

Jika makanan kemasan memiliki rasa yang sangat konsisten, rasa yang sama, setiap saat, di berbagai kelompok dan lokasi, keseragaman itu biasanya berasal dari rekayasa rasa.

Makanan ultra-olahan dirancang untuk menghasilkan sensasi rasa yang sama berulang kali, mengesampingkan sinyal nafsu makan alami. Makanan asli sedikit bervariasi.

6. Masa simpan yang tidak realistis

Makanan ringan yang tetap segar selama berbulan-bulan tanpa pendinginan seharusnya menimbulkan pertanyaan. Masa simpan yang diperpanjang seringkali membutuhkan pengawet, pengontrol kelembapan, dan penstabil yang menjaga tekstur dan rasa tetap utuh jauh melampaui batas alami.

Umur simpan yang panjang tidak selalu berbahaya, tetapi daya tahan yang ekstrem biasanya menunjukkan pengolahan yang berat.

(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tanpa Disadari, Cara Masak Bisa Picu Sel Kanker


Most Popular
Features