Berapa Batas Aman Makan Mi Instan? Ini Saran dari Dokter
Jakarta, CNBC Indonesia - Mi instan menjadi makanan populer dan kerap jadi 'penyelamat' ketika lapar melanda. Namun ternyata, mi instan termasuk kategori ultra processed food (UPF) yang tidak disarankan dikonsumsi berlebihan, terutama jika tidak diimbangi dengan asupan serat, protein, dan nutrisi lain yang lengkap.
Ahli gizi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Tri Kurniawati, menyarankan agar konsumsi mi instan dibatasi maksimal dua bungkus per minggu. Dia menjelaskan, kandungan gizi dalam mi instan tidak seimbang karena tinggi karbohidrat tetapi rendah protein, vitamin, dan mineral.
"Konsumsi mi instan lebih dari dua bungkus seminggu dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik pada wanita," jelas Tri dikutip dari laman UM Surabaya.
Agar lebih bergizi, ia menyarankan untuk menambahkan sayuran dan sumber protein seperti telur, ayam, atau tahu saat mengkonsumsinya. Dengan begitu, kata ia, kebutuhan gizi tubuh tetap bisa terpenuhi.
Dampak terlalu banyak makan mi instan
Mi instan terbuat dari tepung terigu yang diperkaya dengan bentuk sintetis dari nutrisi tertentu seperti zat besi dan vitamin B untuk membuat mi lebih bergizi, seperti dilaporkan Healthline. Namun, mi instan kekurangan banyak nutrisi penting, termasuk protein, serat, vitamin A, vitamin C, vitamin B12, kalsium, magnesium, dan kalium.
Mie instan memiliki kandungan garam yang sangat tinggi, dengan satu kemasan mengandung 1.760 mg natrium, atau 88% dari rekomendasi 2 gram yang disarankan oleh WHO.
Mengonsumsi terlalu banyak garam dapat berdampak negatif pada kesehatan bahkan dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker lambung, penyakit jantung, dan stroke.
Terlebih lagi, pada orang-orang tertentu yang dianggap sensitif terhadap garam, diet tinggi natrium dapat meningkatkan tekanan darah, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan jantung dan ginjal.
(hsy/hsy)[Gambas:Video CNBC]