Studi Ungkap Golongan Darah yang Paling Berisiko Sakit Jantung

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Jumat, 02/01/2026 12:45 WIB
Foto: Ilustrasi sakit jantung akibat pembuluh darah yang tersumbat. (Istockphoto/wildpixel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Golongan darah ternyata bukan sekadar penanda identitas medis. Sejumlah penelitian menunjukkan, jenis golongan darah dapat memberi gambaran tentang risiko seseorang terhadap berbagai kondisi kesehatan, termasuk penyakit jantung dan diabetes tipe 2.



Meski mekanisme pastinya masih diteliti, para ahli menilai perbedaan golongan darah berkaitan dengan sejarah evolusi tubuh manusia, termasuk faktor keturunan dan respons terhadap infeksi di masa lalu.

Ahli hematologi dari Penn Medicine, Dr Douglas Guggenheim menjelaskan, keragaman golongan darah seperti A, B, AB, dan O kemungkinan muncul sebagai bentuk adaptasi biologis manusia terhadap lingkungan.

"Singkatnya, tubuh seolah berevolusi mengikuti lingkungannya demi melindungi diri sebaik mungkin," ujar Dr Guggenheim, dikutip dari CNET.

Sebagai contoh, individu bergolongan darah O cenderung mengalami kondisi kolera yang lebih berat, sementara mereka yang bergolongan darah A atau B lebih rentan mengalami gangguan pembekuan darah. Meski darah kita tidak bisa menyesuaikan diri dengan ancaman biologis atau virus secara real-time, golongan darah bisa mencerminkan apa yang terjadi di masa lalu.

Golongan Darah Paling Berisiko Sakit Jantung
Berdasarkan data American Heart Association (AHA), orang dengan golongan darah A, B, atau AB memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung maupun gagal jantung dibandingkan mereka yang bergolongan darah O. Studi berskala besar menunjukkan, pemilik golongan darah A atau B memiliki risiko 8 persen lebih tinggi terkena serangan jantung dan 10 persen lebih tinggi mengalami gagal jantung.

Risiko pembekuan darah bahkan jauh lebih signifikan. Dalam penelitian yang sama, individu bergolongan darah A dan B memiliki risiko 51 persen lebih tinggi mengalami trombosis vena dalam dan 47 persen lebih tinggi mengalami emboli paru.

Kedua kondisi tersebut dikenal sebagai gangguan pembekuan darah serius yang dapat meningkatkan risiko gagal jantung.

Mengapa Risikonya Lebih Tinggi?
Dr Guggenheim menjelaskan, salah satu penyebabnya diduga berkaitan dengan peradangan dalam tubuh pemilik golongan darah A, B, dan AB. Protein yang terdapat pada golongan darah tersebut diyakini dapat memicu penyempitan atau penebalan pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko pembekuan dan penyakit jantung.

Faktor ini juga diduga menjelaskan mengapa orang dengan golongan darah O tampak memiliki risiko lebih rendah mengalami COVID-19 berat. Meski pemilik golongan darah O memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit jantung dan pembekuan darah, mereka justru lebih rentan mengalami perdarahan.

Beberapa penelitian menunjukkan perempuan bergolongan darah O memiliki risiko lebih tinggi mengalami perdarahan pascapersalinan. Studi di jurnal Critical Care juga menemukan korban cedera berat dengan golongan darah O cenderung kehilangan lebih banyak darah.

Sementara itu, penelitian lain mengungkap individu dengan golongan darah AB berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kognitif, termasuk kesulitan mengingat, berkonsentrasi, dan mengambil keputusan.

Perlukah Menyesuaikan Gaya Hidup dengan Golongan Darah?
Meski golongan darah mempengaruhi risiko kesehatan, Dr Guggenheim menegaskan faktor utama kesehatan jantung tetap ditentukan oleh pola makan, aktivitas fisik, serta lingkungan. Ia menilai belum ada rekomendasi khusus berdasarkan golongan darah, selain menerapkan pola hidup sehat untuk jantung guna menurunkan peradangan.

Namun, ia menambahkan, penelitian lanjutan mungkin akan membantu dokter memberikan pendekatan lebih personal. Semisal, pasien bergolongan darah A dengan kolesterol sehat mungkin mendapat manfaat dari konsumsi aspirin harian, sementara pasien dengan kondisi serupa bergolongan darah O belum tentu membutuhkannya.

"Pola makan seimbang yang sehat untuk jantung adalah rekomendasi utama dari dokter mana pun, dan sistem ABO tidak mengubah hal itu," ujar Dr Guggenheim. "Dan memiliki golongan darah O bukan berarti seseorang sepenuhnya terlindungi," ujarnya menutup.

Artikel selengkapnya >>> Klik di sini




(miq/miq)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ragunan Catat Puncak Kunjungan 1 Januari, 113.398 Wisatawan