Belum Ada Obatnya, Apa Itu Penyakit Polio yang Jadi KLB?

Lifestyle - Rindi Salsabilla, CNBC Indonesia
22 November 2022 16:45
A child is measured before receiving a polio capsule during a child stunting prevention programme at an integrated services post in Banda Acehon November 14, 2022. (Photo by CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP) Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) polio di Indonesia setelah adanya temuan satu kasus Polio Tipe 2 dan Sabin Tipe 3 di Kabupaten Pidie, Aceh. Padahal, sebelumnya Indonesia sudah dinyatakan bebas polio pada 2014.

"Telah terjadi pengecilan pada otot paha dan betis kiri. Tidak memiliki riwayat imunisasi, tidak memiliki riwayat perjalanan/kontak dengan pelaku perjalanan," ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu dalam konferensi pers, Sabtu (19/11/2022).

Sebenarnya, apa itu penyakit polio? Apa penyebab sebenarnya?

Polio adalah salah satu penyakit yang sangat mudah menular dan dapat menyebabkan paralisis atau kelumpuhan akibat gangguan saraf. Hingga saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan polio. 

Dalam beberapa kasus, penyakit yang disebabkan oleh virus polio dapat menyebabkan kematian pada penderitanya.

"Virus penyebab polio ada tiga serotipe, (yaitu) tipe 1, tipe 2, dan tipe 3. Virus polio ini memasuki tubuh melalui mulut, bukan kulit atau hidung. Artinya (polio menular melalui) mengonsumsi makanan ataupun minuman," jelas Epidemiolog dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman kepada CNBC Indonesia, Selasa (22/11/2022).

Dicky menjelaskan, setelah memasuki tubuh, virus polio akan berkembang biak di orofaring atau bagian tengah tenggorokan dan usus kecil. Bila virus telah keluar melalui feses atau kotoran manusia, kotoran tersebut dapat menyebarkan dan menularkan virus polio ke lingkungan sekitar.

"Virus polio memang menginvasi jaringan limfoid (jaringan dalam tubuh) di saluran cerna. Paling berbahaya adalah ketika virus memasuki pembuluh darah dan menyebar sampai ke susunan saraf pusat yang menyebabkan kelumpuhan," jelas Dicky.

Menurut Kemenkes, umumnya masa inkubasi polio memakan waktu 3 hingga 6 hari dengan kelumpuhan yang terjadi dalam waktu 7 sampai 21 hari. Sedangkan, gejala virus polio muncul pada 7 hingga 10 hari setelah terinfeksi dengan rentang 4 sampai 35 hari.

Sebagian besar pasien polio atau sekitar 90 persen disebutkan tidak memiliki gejala, bergejala ringan, dan umumnya tidak dikenali. Gejala awal polio adalah demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, mengalami kaku di leher, dan nyeri di tungkai.

Kemenkes menyebutkan, terdapat tiga kelompok gejala polio, yaitu.

  1. Polio non-paralisis dengan gejala muntah, lemah otot, demam, meningitis, letih, sakit tenggorokan, sakit kepala, serta kaki, tangan, leher dan punggung terasa kaku dan nyeri.

  2. Polio paralisis dengan gejala sakit kepala, demam, lemah otot, kaki dan lengan terasa lemah, dan kehilangan refleks tubuh.

  3. Sindrom pasca-polio dengan gejala sulit bernapas atau menelan, sulit berkonsentrasi, lemah otot, depresi, gangguan tidur dengan kesulitan bernapas, mudah lelah dan massa otot tubuh menurun.

Dicky menyatakan, salah satu penyebab eksternal utama terjadinya polio adalah sanitasi lingkungan yang buruk. Sebab, polio menular atau ditularkan melalui transmisi fetal-oral atau proses masuknya virus ke mulut manusia melalui makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi kotoran pasien terinfeksi.

"Masalahnya, di Indonesia banyak daerah yang sanitasi lingkungannya buruk. Bahkan di kota-kota besar masih ada orang yang Buang Air Besar (BAB) di tempat-tempat yang tidak sehat," sebut Dicky terkait salah satu kondisi yang membuat Indonesia masih rawan polio.

Maka dari itu, selain menggalakkan vaksinasi imunisasi polio pada anak sebagai upaya pencegahan polio, Dicky meminta pemerintah untuk melakukan pembangunan yang merata di seluruh Indonesia dalam hal sanitasi lingkungan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pria Ini Ngaku Kena Flu Singapura, Bibirnya Menghitam


(hsy/hsy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading