Terungkap! 10 Sisi Kelam Kehidupan di Korea Selatan

Lifestyle - Anisa Sopiah, CNBC Indonesia
19 November 2022 20:00
Kim Mi-sung checks her daughter's homework before leaving for school, at their home in Seoul, South Korea, December 19, 2018. Picture taken December 19, 2018.   REUTERS/Kim Hong-Ji Foto: Angka Kelahiran bayi di Korea Selatan (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ungkapan 'hidup tak selalu semulus drama Korea' kini tak asing lagi. Gemerlap dan kehidupan penuh romantis yang disuguhkan drama produksi Korea Selatan harus diakui sukses membuat penggemar memimpikan hal serupa. 

Tapi tunggu dulu.

Pada kenyataannya, kehidupan di Korea Selatan tidaklah seindah yang ditampilkan drama-drama romantis tersebut. Bahkan, banyak orang menyebut Korea Selatan adalah negara yang paling pandai memoles diri karena apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan nyata negeri para idola tersebut jauh berbeda dengan tampilannya di layar kaca.

1. Budaya Kompetitif dan Tekanan Sosial yang Tinggi

Di Korea Selatan, ada 'budaya' merasa bersalah jika beristirahat. Hal ini diungkapkan YouTuber Priscilla Lee, putri dari pasangan berdarah Korea yang kini tinggal di Indonesia, sebagai akibat dari budaya kompetitif dan tekanan sosial yang tinggi. Bahkan budaya ini berlanjut hingga ke Universitas dan dunia professional.

"Saking kompetitifnya, istirahat pun kamu merasa bersalah. Aku selalu merasa begitu pas tinggal di Korea. Misal aku mau rebahan saja enggak enak sama diri sendiri, terbebani," ujarnya, lewat video yang diunggah di kanal YouTube Priscilla Lee.

"Kesannya nggak normal kalau kamu enggak capek," tambahnya.

2. Obsesi terhadap universitas bergengsi

Selain merasa terbebani dengan tekanan kompetitif yang tinggi, masyarakat Korea Selatan juga sangat terobsesi pada sekolah yang bagus dan bergengsi. Bahkan obsesi ini sudah dikenalkan kepada anak-anak mereka sejak sekolah dasar (SD).

Hal yang lumrah jika ditemui anak-anak SD di sana mengikuti kursus tambahan setelah pulang sekolah hingga larut malam, bahkan sampai pukul 10 malam.

Saking terobsesinya, kritikus mengatakan bahwa beberapa dari mereka melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, seperti memalsukan karya ilmiah karena universitas ternama menuntut mereka memiliki prestasi akademik dan keterampilan yang sempurna.

Fenomena ini dapat ditemui di serial Sky Castle yang tayang pada 2019 lalu. Sky Castle mengungkap bagaimana sisi gelap obsesi terhadap sekolah-sekolah elit yang menampilkan para wanita dari kalangan superkaya: istri politisi dan istri dokter.

Tekanan sosial yang dibebankan pada siswa memaksa seorang anak perempuan berbohong bahwa dia berkuliah di Universitas Harvard selama satu tahun.

3. Angka bunuh diri yang tinggi

Budaya kompetitif yang ada di Korea Selatan menyebabkan mereka hidup dalam tekanan sosial yang tinggi. Orang yang tidak tahan dengan kehidupan seperti ini tentu saja akan depresi.

Di Korea, Anda akan sering mendengar berita siswa yang bunuh diri karena tidak lulus ujian masuk perguruan tinggi. Korea Selatan memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di antara negara-negara yang menjadi anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Dalam laporan yang disampaikan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan, angka kematian bunuh diri Korea, atau jumlah bunuh diri per 100.000 orang, adalah 24,7 pada 2018. Angka tersebut dua kali lipat lebih tinggi dibanding rata-rata tingkat bunuh diri negara OECD, yakni di level 11.

Para ahli mengatakan penyebab bunuh diri sangat kompleks, tidak hanya karena masalah kesehatan pribadi dan mental tetapi juga terkait dengan faktor ekonomi dan tekanan sosial. Fakta ini salah satunya terlihat dari laporan tentang sejumlah artis dan selebriti Korea Selatan yang bunuh diri.

4. Banyak orang nggak menikah dan punya anak

Korea Selatan mengalami krisis populasi akibat kebanyakan dari masyarakat memilih untuk tinggal sendiri dibandingkan berkeluarga. Hal ini terpaksa dipilih mereka akibat kesulitan ekonomi dan sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak.

Karena banyak yang memilih tidak mempunyai anak, angka kelahiran bayi terus anjlok dari tahun ke tahun. Pada Februari 2022, jumlah rata-rata anak yang dikandung seorang wanita Korea Selatan dalam hidupnya mencapai titik terendah sepanjang masa, yakni hanya sebesar 0,81 tahun lalu, turun dari 0,84 tahun lalu.

Ini menandai tahun keempat berturut-turut di mana tingkat kesuburan berada di bawah 1 persen.

5. Kasus bullying hingga pelecehan seksual

Sebenarnya ada beberapa drama Korea Selatan yang menunjukkan sisi kelam kehidupan masyarakat di sana yang suka merendahkan dan melecehkan orang lain. Bullying dan pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Mirisnya, tindakan serupa juga terjadi di balik gemerlap industri hiburan Korea Selatan.

Seperti yang kerap diberitakan media, beberapa selebriti pun terjerat dalam kontroversi bullying. Bahkan, aksi bullying juga menimpa sejumlah staff yang bekerja di balik layar.

6. Jam kerja yang berlebihan

Hal ini sering kali terjadi pada industri hiburan Korea Selatan. Dilaporkan, baik para artis maupun orang di balik layar produksi drama di Korea seringkali lembur untuk mengejar target penyelesaian produksi drama.

Hal ini dikarenakan pihak produksi drama ingin menyelesaikan proses syuting secepat mungkin, terlebih karena tingginya biaya produksi. Bahkan, 4 episode awal sebuah drama biasanya melangsungkan proses syuting lebih dulu dalam satu waktu. Tidak sedikit pula aktor dan aktris yang hanya bisa tidur 1 jam selama syuting berlangsung.

Melansir informasi dari Min News, seorang asisten sutradara sebuah drama pada tahun 2016 melakukan bunuh diri. Adik dari asisten sutradara tersebut mengungkap jika sang kakak mengalami tekanan yang tinggi saat bekerja, hingga jam kerja yang berlebihan.

7. Pembayaran Gaji Aktor dan Aktris Korea yang Tak Adil

Aktor Park Jun Gyu lewat acara Happy Together mengungkapkan para aktor maupun aktris memperoleh bayaran yang sama yaitu full untuk 1 episode. Mereka tidak dibayar per adegan, dengan kata lain baik mereka telah menyelesaikan 10 adegan maupun hingga 50 adegan, bayaran yang diterima adalah sama.

Bahkan, untuk peran tertentu misalnya mereka berperan sebagai orang yang telah meninggal, maka bayarannya akan sedikit. Namun hal ini tidak berlaku untuk artis papan atas karena mereka akan dibayar jauh lebih besar.

Meski, sebenarnya isu tarif yang tak adil di kalangan artis bukan hal baru di industri hiburan. Dan, tak hanya di industri hiburan Korea Selatan.

8. Proses Menjadi Trainee Idol yang Sulit

Meskipun bergabung ke dalam Grup K-Pop terlihat menyenangkan karena banyak penggemar dan seperti menjalankan hobi yang dibayar.

Namun, ternyata melansir Koreaboo, proses perjalanan pelatihannya sangat panjang. Hal itu dapat dilihat melalui salah satu drama Korea yang berjudul Imitation yang turut menggambarkan realita sulitnya menjadi trainee idol.

9. Penggemar yang Terlalu Fanatik atau 'Sasaeng'

Penggemar yang terlalu terobsesi dengan idolanya dalam istilah Korea Selatan disebut sasaeng. Tidak jarang idol berhadapan dengan sasaeng yang kadang sampai mengganggu kehidupan pribadinya.

Berbeda dengan penggemar pada umumnya, sasaeng bisa melakukan berbagai hal nekat untuk bertemu si artis idola, mulai dari mencari kamar hotel tempat mereka menginap, menghubungi nomor ponsel, bahkan hingga menyentuh tubuh idola tanpa izin.

10. Cancel Culture yang Berdampak pada Reputasi Selebriti

Di Korea Selatan, artis selain menjadi sosok di industri hiburan harus menjadi figur contoh bagi publik. Mereka dituntut untuk bisa menjadi panutan dan melakukan hal baik.

Sehingga jika mereka melakukan tindakan yang menurut publik tak sesuai seperti terlibat kontroversi, sikap yang tidak menunjukkan sopan santun, hingga skandal yang menimbulkan pro kontra, maka reputasi mereka bisa 'lenyap' dalam sekejap akibat adanya cancel culture.

Dengan artian, mereka akan 'dihilangkan' dari dunia hiburan dan perhatian masyarakat.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Gawat! Oppa Korea Makin Ogah Punya Anak, Apa Sebabnya?


(dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading