Ternyata, Tak Selalu Drama Korea Dipuja, Ini Buktinya

Lifestyle - Rindi Salsabila Putri, CNBC Indonesia
10 November 2022 19:21
Narco-Saints Foto: Narco-Saints

Jakarta, CNBC Indonesia - Awal tahun 2000-an menjadi salah satu sejarah besar bagi drama produksi Korea Selatan (drama Korea). Ditandai sejumlah drama yang mendunia, seperti Winter Sonata (2022) dan Jewel in the Palace (2003).

Sejak saat itulah, istilah Hallyu atau Korean Wave mulai populer. Korean Wave adalah istilah untuk menggambarkan popularitas hiburan Korea Selatan di dunia internasional.

Namun, di balik hiruk pikuk perhatian masyarakat global dengan drama Korea dan serial televisi Korea, ternyata menyimpan perdebatan. Salah satunya, yang disebut sebagai ketidakpekaan budaya yang mencolok.

Melansir dari The Korea Herald, saat ini, sebagian besar industri hiburan Korea dianggap tidak memiliki banyak pertimbangan matang terkait keberagaman budaya. Selain itu, hiburan-hiburan tersebut sering dianggap menyinggung pemirsa dari luar negeri melalui penggambaran budaya dan sejarah asing yang ditampilkan.

Sebut saja, saat komedian lokal Korea yang mencoba memancing tawa dengan menirukan aksen dan penampilan orang asing di luar Korea.

Salah satu acara MBC, Hot Brothers (2010-2011) sempat mendapatkan kecaman karena menampilkan salah satu anggota Beast, Lee Gi-kwang yang melakukan tindakan rasis berkedok menirukan salah satu karakter dari serial kartun lokal Baby-Saurus Dooly. Dalam episode tersebut, Lee Gi-kwang tampil dengan wajah yang sengaja dihitamkan.

Tidak hanya sampai situ, MBC kembali menuai kecaman setelah menampilkan dua komedian dengan wajah yang sengaja dihitamkan dalam acara World Changing Quiz Show pada 2012.

Akibat kecaman yang dilontarkan, video tersebut dihapus dan para staf meminta maaf kepada khalayak. Mereka menjelaskan, komedian tersebut hanya menirukan karakter kartun, bukan berniat untuk merendahkan suatu ras.

Tidak hanya itu, pada 2021, SBS harus mengeluarkan permintaan maaf resmi setelah menyajikan informasi yang menyesatkan tentang Indonesia dalam serial 'Racket Boys'. Indonesia digambarkan sebagai negara yang tidak kompeten dalam menyelenggarakan acara olahraga dan mendiskriminasi atlet asing.

Ada juga, aktor Park Eun-seok juga mengeluarkan permintaan maaf resmi atas penggambaran rasis dari karakternya, Alex Lee, dalam drama populer SBS The Penthouse 3: War in Life. Park mengatakan, karakter itu tidak bermaksud untuk menjelekkan atau tidak menghormati orang kulit hitam.

Dan yang terbaru, tudingan tidak peda perbedaan budaya juga dihadapi serial Korea, 'Narco-Saints' dan 'Little Women'.

Pemerintah Suriname sempat mengancam akan menggugat secara hukum produser Narco-Saints, serial drama Korea Selatan yang tayang di Netflix. Karena  serial yang dibintangi Ha Jung Woo ini dinilai menciptakan pandangan negatif Suriname sebagai "negara narkoba".

Drama ini menceritakan kisah seorang pria yang mempertaruhkan nyawanya demi bergabung dengan misi rahasia untuk menangkap bandar narkoba Korea Selatan di Suriname.

"Suriname sudah tidak lagi memiliki imej seperti yang digambarkan pada serial tersebut (Suriname) dan tidak lagi bergabung dalam kegiatan praktik semacam ini," sebut Menteri Luar Negeri Suriname, Albert Ramdin, melalui pernyataan yang dipublikasikan melalui laman resmi pemerintahannya.

"Apapun praktik yang ditampilkan, maupun benar ataupun salah, itu menciptakan persepsi negatif di dunia tentang negara ini (Suriname). Hal itu tidak baik," lanjutnya.

Serial 'Little Women' sendiri dikecam karena penggambarannya soal perang Vietnam.

Kata Kritikus

Kritikus budaya, Hwang Jin-mi mengatakan, konten Korea saat ini harus memperhatikan masalah kepekaan budaya karena konten-konten tersebut sudah dinikmati oleh khalayak yang lebih luas.

"Selain popularitas global konten Korea, negara kita sendiri juga sedang menuju masyarakat multikultural. Masalah ini perlu ditangani dengan hati-hati," kata Hwang, dikutip dari The Korea Herald, Kamis (10/11/2022).

"Perlu dicatat, banyak kasus perampasan dan diskriminasi budaya melibatkan negara-negara Afrika atau Asia Tenggara. Banyak orang Korea tampaknya memiliki persepsi yang salah bahwa mereka tidak perlu memperhatikan negara-negara yang memiliki ekonomi lebih kecil ini," kata kritikus itu, seraya menambahkan tindakan serius perlu diambil terhadap diskriminasi semacam ini.

Seorang profesor sastra Prancis di Ewha Womans University dan kepala Ewha Multicultural Institute, Jang Han-up mengatakan, pendekatan yang cermat perlu diambil dalam tahap produksi konten Korea.

"Keragaman masih belum cukup dihormati di Korea. Ini dapat menciptakan banyak masalah bagi Korea untuk menjadi masyarakat yang benar-benar multikultural," kata Jang.

Jang menjelaskan, konten Korea tidak hanya dinikmati oleh pemirsa asing di luar negeri, tetapi juga anak muda Korea dengan latar belakang multikultural. Dia percaya, pertunjukan dan drama tanpa naskah perlu melakukan upaya maksimal untuk menawarkan presentasi yang tepat dan tidak memihak.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Extraordinary Attorney Woo Picu Perdebatan di Korea, Kenapa?


(dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading