Duh! Muncul Bintik di Matahari, Bakal Ada Badai Ngeri?

Lifestyle - Tim Redaksi, CNBC Indonesia
22 April 2022 12:20
An annular solar eclipse appears during a break in clouds over Taipei, Taiwan, Monday, May 21, 2012. The annular eclipse, in which the moon passes in front of the sun leaving only a golden ring around its edges, was visible to wide areas across China, Japan and elsewhere in the region before moving across the Pacific to be seen in parts of the western United States. (AP Photo/Wally Santana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Para peneliti baru-baru ini menemukan dua bintik berukuran raksasa yang muncul di permukaan Matahari. Bintik ini muncul berkelompok dan mencakup area seluas ratusan juta kilometer persegi, yang berarti jauh lebih besar dari diameter Bumi.

Kemunculan bintik tersebut disebabkan gangguan magnetik di fotosfer Matahari, bagian yang memperlihatkan lapisan yang relatif lebih dingin di bawahnya. Kemunculan bintik raksasa ini berpotensi merusak semburan matahari dalam beberapa bulan ke depan. 

Dua kelompok bintik matahari besar, yang dikenal sebagai AR 2993 dan AR 2994, terlihat beberapa hari yang lalu di bagian timur laut matahari setelah menjadi aktif saat masih tersembunyi oleh piringan matahari. (Kredit gambar: Observatorium Nasional Langkawi, MYSA/MOSTI)Foto: Dua kelompok bintik matahari besar, yang dikenal sebagai AR 2993 dan AR 2994, terlihat beberapa hari yang lalu di bagian timur laut matahari setelah menjadi aktif saat masih tersembunyi oleh piringan matahari. (Kredit gambar: Observatorium Nasional Langkawi, MYSA/MOSTI)
Dua kelompok bintik matahari besar, yang dikenal sebagai AR 2993 dan AR 2994, terlihat beberapa hari yang lalu di bagian timur laut matahari setelah menjadi aktif saat masih tersembunyi oleh piringan matahari. (Kredit gambar: Observatorium Nasional Langkawi, MYSA/MOSTI)

"Saya yakin kita akan melihat [wilayah aktif] yang lebih besar dalam beberapa tahun ke depan," kata fisikawan tata surya Dean Pesnell dari Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA, seperti dikutip dari Live Science, Jumat (22/4/2022).


Pesnell mengatakan siklus Matahari diperkirakan akan mencapai aktivitas maksimumnya pada akhir 2024 atau awal 2025. Energi dari wilayah aktif Matahari dapat dilepaskan sebagai radiasi (solar flare) dan coronal mass ejections (CMEs), yang merupakan bola plasma super panas.

Suar matahari dan CME semacam itu dapat menciptakan aurora yang indah, tetapi juga dapat menimbulkan bahaya bagi jaringan listrik, satelit, jaringan komunikasi, dan bahkan bisa memberikan dampak pada penjelajah ruang angkasa di luar perlindungan medan magnet Bumi.

Sejauh ini, sejumlah negara tampaknya sudah memiliki kesiapan untuk menghindari efek terburuk dari badai matahari. Selain itu, sejumlah operator jaringan listrik juga sudah memperkuat peralatan mereka agar terhindar dari gangguan tersebut.

Tetapi, sejarah pernah mencatat bahwa insiden semburan matahari terburuk pernah terjadi selama "badai Halloween" pada 2003 yang mematikan listrik di beberapa bagian Eropa dan di Afrika Selatan selama beberapa jam.

Sementara itu, Jan Janssens, seorang spesialis komunikasi di Solar-Terrestrial Center of Excellence di Brussels, mengatakan bahwa aktivitas matahari sudah sangat aktif selama beberapa minggu terakhir. Dan kelihatannya intensitas aktivitas tersebut tidak akan berkurang.

"Seiring siklus Matahari menuju aktivitas maksimumnya, daerah bintik Matahari yang semakin kompleks menjadi terlihat, yang kemudian dapat menghasilkan semburan matahari."


[Gambas:Video CNBC]

(hsy/hsy)
Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
Features
    spinner loading