Efek Samping Vaksin Booster: Pfizer, Sinovac, Moderna & Astra

Lifestyle - Tim Redaksi, CNBC Indonesia
24 January 2022 12:40
Botol dengan label vaksin Pfizer-BioNTech, AstraZeneca, dan Moderna coronavirus disease (COVID-19). (REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Program vaksinasi Covid-19 dosis ketiga atau booster sudah dimulai sejak 12 Januari 2022 lalu dan terus digencarkan. Presiden Joko Widodo memastikan bahwa dosis vaksin booster akan diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia secara gratis.

Saat ini, vaksin booster baru diberikan kepada kelompok prioritas. Adapun masyarakat yang akan mendapatkan tiket vaksin booster melalui aplikasi PeduliLindungi adalah yang memenuhi syarat berikut ini:

  • Usia 18 tahun ke atas.


  • Kelompok prioritas (lanjut usia dan penderita masalah kekebalan tubuh atau imunokompromais).

  • Sudah mendapatkan dosis lengkap (vaksin primer dosis satu dan dua).

  • Dosis vaksin Covid-19 kedua sudah diterima lebih dari 6 bulan.

Efek Samping Vaksin Booster Covid-19

Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) resmi memberikan persetujuan kepada lima vaksin Covid-19 yang bisa digunakan sebagai vaksin booster atau dosis lanjutan homolog (vaksin booster sama dengan vaksin primer) dan heterolog (vaksin booster beda dengan vaksin primer).

Kelima vaksin yang telah menerima izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) sebagai vaksin booster di antaranya adalah:

  1. Sinovac atau Coronavac PT Bio Farma;

  2. Comirnaty oleh Pfizer;

  3. AstraZeneca atau Vaxzevria dan Kconecavac;

  4. Moderna, dan

  5. Zifivax

Kepala Badan POM, Penny K. Lukito menjelaskan bahwa sejak bulan November 2021, pihaknya sudah melakukan kajian keamanan dan khasiat dari beberapa vaksin Covid-19 yang memiliki potensi menjadi vaksin booster. Kajian keamanan dan khasiat tersebut dilakukan untuk vaksin yang telah memperoleh EUA sebagai vaksin primer. Kemudian vaksin dievaluasi sebagai dosis booster atau dosis lanjutan berdasarkan data hasil uji klinik terbaru yang mendukung.

Berikut penjelasan mengenai lima vaksin yang sudah menerima persetujuan BPOM sebagai vaksin booster beserta efek sampingnya.

1. Vaksin Sinovac dari Bio Farma

Vaksin Coronavac atau Sinovac dari Bio Farma adalah vaksin pertama yang diizinkan sebagai vaksin booster atau vaksin dosis lanjutan homolog yang diberikan sebanyak 1 dosis minimal setelah 6 bulan dari vaksin primer dosis lengkap Coronavac atau Sinovac untuk usia 18 tahun ke atas.

BPOM mengatakan, Sinovac sebagai vaksin booster dapat meningkatkan titer antibodi netralisasi hingga 21 - 35 kali setelah 28 hari pemberian booster atau dosis lanjutan.

Adapun efek samping vaksin booster dari Bio Farma adalah:

  • Menimbulkan reaksi lokal atau nyeri pada lokasi suntikan.

  • Tingkat keparahan efek sampingnya adalah grade satu dan dua.

2. Vaksin Pfizer

Vaksin Comirnaty dari Pfizer sebagai vaksin booster atau dosis lanjutan homolog dapat diberikan sebanyak 1 dosis minimal setelah 6 bulan dari vaksin primer dosis lengkap Pfizer untuk usia 18 tahun ke atas.

Vaksin ini memiliki tingkatan nilai titer antibodi netralisir setelah satu bulan pemberian booster sebesar 3,29 kali.

Adapun efek samping yang mungkin timbul setelah suntikan dosis booster vaksin ini adalah:

  • Nyeri pada lokasi suntikan

  • Nyeri otot

  • Nyeri sendi

  • Demam

3. Vaksin AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca (Vaxzevria dan Kconecavac) merupakan vaksin yang sudah diizinkan menjadi vaksin booster homolog dan diberikan sebanyak 1 dosis setelah 6 bulan dari vaksinasi primer dosis lengkap AstraZeneca untuk usia 18 tahun ke atas.

Vaksin AstraZeneca sebagai vaksin booster memiliki peningkatan nilai rata-rata titer antibodi IgG dari 1792 (sebelum suntik dosis vaksin booster) menjadi 3746.

Adapun efek samping yang mungkin ditimbulkan dari vaksin booster AstraZeneca adalah:

  • Nyeri di lokasi suntikan.

  • Kemerahan.

  • Gatal.

  • Terdapat pembengkakan.

  • Sakit kepala.

  • Meriang atau demam.

  • Mual.

  • Rasa lelah.

4. Vaksin Moderna

Vaksin Moderna sebagai vaksin booster homolog dan heterolog dengan vaksin primer AstraZeneca, Pfizer atau Jenssen dapat diberikan dengan dosis setengah (half dose) untuk usia 18 tahun ke atas yang diberikan setelah 6 bulan dari vaksinasi primer.

Vaksin Moderna sebagai vaksin booster memberikan kenaikan respon imun antibodi netralisasi sebesar 12,99 kali sesudah pemberian vaksin booster homolog.

Adapun efek samping vaksin booster Moderna yang bisa terjadi adalah:

  • Rasa lemas.

  • Sakit kepala.

  • Meriang atau demam.

  • Mual.

5. Vaksin Zifivax

Vaksin Zifivax diizinkan sebagai vaksin booster heterolog dengan dosis penuh untuk yang berusia 18 tahun ke atas dan diberikan sekurang-kurangnya 6 bulan setelah mendapatkan vaksin primer dosis lengkap dari Sinovac atau Sinopharm.

Vaksin Zifivax memiliki tingkatan titer antibodi netralisir lebih dari 30 kali bagi yang telah mendapatkan dosis primer Sinovac atau Sinopharm.

Efek samping yang bisa timbul setelah pemberian vaksin booster Zifivax adalah:

  • Nyeri pada lokasi suntikan.

  • Nyeri otot atau myalgia.

  • Sakit kepala.

  • Merasa kelelahan.

  • Demam.

  • Mual.

  • Diare (tingkat keparahan grade satu dan dua).

  • Rasa mual.

Hasil evaluasi BPOM terhadap aspek keamanan lima vaksin booster atau dosis lanjutan di atas menunjukkan bahwa frekuensi, jenis dan keparahan dari Kejadian Tidak Diinginkan atau KTD yang dilaporkan setelah pemberian dosis booster pada umumnya bersifat ringan dan sedang. Jadi, kamu pilih vaksin booster yang mana?


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Daftar Orang yang Tidak Boleh & Boleh Disuntik Vaksin Sinovac


(hsy/hsy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading