Perempuan Lebih Berisiko Jadi Workaholic, Kok Bisa?

Lifestyle - Teti Purwanti, CNBC Indonesia
11 January 2022 19:26
Sad woman hug her knee,nobody

Jakarta, CNBC Indonesia - Workaholic atau kecanduan kerja bukan hanya mitos. Workaholic merupakan gangguan kesehatan mental yang kerap terjadi meski seringnya tidak disadari, terutama oleh mereka yang tinggal di kota besar.

Orang yang kecanduan kerja tidak dapat berhenti menghabiskan waktu berjam-jam di kantor, meski tidak perlu, dan terobsesi dengan kinerja pekerjaan mereka. 

Selain itu, ternyata workaholic juga mengacu pada mereka yang pecandu kerja, yaitu mereka yang menggunakan terlalu banyak waktu untuk bekerja sebagai pelarian dari masalah pribadi. Pecandu kerja juga dapat merusak hubungan dan kesehatan fisik dan mental.

Faktanya, kecanduan kerja lebih sering terjadi pada wanita dan orang-orang yang menggambarkan diri mereka sebagai perfeksionis. Menurut psikolog klinis Carla Marie Manly, PhD, jika Anda atau orang yang Anda cintai merasa bahwa pekerjaan menghabiskan hidup Anda, kemungkinan besar Anda berada dalam spektrum workaholism.

"Mampu mengidentifikasi tanda-tanda kecanduan kerja sangat penting jika ingin mengambil langkah awal untuk melakukan perubahan," kata Manly dikutip dari healthline.com, Selasa (11/1/2022).

Setidaknya ada beberapa tanda yang bisa menggambarkan apakah seseorang kecanduan kerja, misalnya selalu membawa pulang pekerjaan ke rumah, sering begadang di kantor, dan terus-menerus memeriksa email atau teks saat di rumah.

Selain itu, Manly mengatakan bahwa jika waktu bersama keluarga, olahraga, makan sehat, atau kehidupan sosial mulai terganggu akibat jadwal kerja yang padat, kemungkinan orang memiliki kecenderungan gila kerja.



Lebih Sering Terjadi pada Wanita

Baik pria maupun wanita memiliki risiko kecanduan dan stres kerja. Tetapi penelitian menunjukkan bahwa wanita cenderung lebih sering mengalami workaholism, dan kesehatan mereka tampaknya lebih berisiko.

Sebuah penelitian menemukan bahwa wanita yang bekerja lebih dari 45 jam seminggu berisiko terkena diabetes. Namun, risiko diabetes bagi wanita yang bekerja di bawah 40 jam menurun secara signifikan. Menariknya dari temuan ini adalah, pria tidak menghadapi peningkatan risiko diabetes dengan bekerja lebih lama.

"Wanita cenderung menderita stres, kecemasan, dan depresi terkait pekerjaan yang tingkatnya jauh lebih tinggi daripada pria. Ini karena adanya seksisme di tempat kerja. Selain itu, adanya tanggung jawab pada keluarga juga memberikan tekanan tambahan dalam karir mereka," jelas psikolog Tony Tan.

Menurut penelitian, tekanan tambahan di tempat kerja yang banyak dialami wanita, antara lain: 

  • Merasa harus bekerja dua kali lebih keras dan lebih lama untuk membuktikan bahwa mereka sebagus rekan pria mereka.
  • Merasa tidak dihargai (atau tidak dipromosikan).
  • Mendapatkan gaji yang lebih kecil dibanding rekan pria mereka.
  • Kurangnya dukungan manajerial.
  • Menanggung ekspektasi untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan keluarga.
  • Menanggung ekspektasi untuk melakukan segalanya dengan "benar".

Berurusan dengan semua tekanan tambahan tersebut sering membuat wanita merasa energinya benar-benar terkuras.

"Banyak wanita merasa mereka harus bekerja dua kali lebih keras dan dua kali lebih lama untuk dianggap setara dengan rekan pria mereka atau untuk maju," kata konselor profesional klinis berlisensi Elizabeth Cush.


[Gambas:Video CNBC]

(hsy/hsy)
Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
Baca Juga
Features
    spinner loading