Terungkap, Banyak Pekerja Kantor Tak Mau Lagi WFO 100%

Lifestyle - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
16 September 2021 13:50
Ilustrasi pekerja kantoran wfh. (Dok: Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak pandemi Covid-19, work from home (WFH) atau bekerja dari rumah kencang digerakkan demi menekan angka infeksi. Namun setelah hampir dua tahun berjalan, para pekerja rupanya enggan kembali bekerja dari kantor atau work from office (WFO).

Hasil survei pendapat YouGov untuk BBC mengatakan sebanyak 70% dari 1.684 orang yang disurvei memperkirakan bahwa pekerja tidak akan pernah kembali ke kantor dengan kecepatan yang sama setelah pandemi usai.


Mayoritas pekerja mengatakan mereka lebih suka bekerja dari rumah baik secara penuh (full-time) atau setidaknya beberapa waktu, sehingga dapat diselang-seling dengan WFO sesekali.

Tetapi para manajer dari berbagai perusahaan mengemukakan kekhawatiran bahwa kreativitas di tempat kerja akan terpengaruh. Setengah dari 530 pemimpin senior yang juga disurvei mengatakan bahwa pekerja WFH akan berdampak buruk pada kreativitas dan kolaborasi, atau hanya terhadap 38% orang biasa.

Bos di perusahaan besar seperti bank investasi Goldman Sachs dan perusahaan teknologi raksasa Apple menolak seruan untuk lebih banyak fleksibilitas. Mereka bahkan menyebut WFH sebagai "penyimpangan".

Meski begitu, manajer dan anggota masyarakat yang disurvei setuju jika produktivitas maupun ekonomi tidak akan dirugikan dengan melanjutkan kebijakan kerja dari rumah.

Salah satu pekerja bernama Antony Howard menemukan manfaat besar WFH selama 16 bulan terakhir, dari menghindari kedai kopi yang mahal hingga mengurangi waktu perjalanan. Ia bekerja di bagian pengadaan sebuah perusahaan pertahanan besar di Manchester, Inggris.

"Kesehatan dan jejak karbon saya tidak pernah sebaik ini. Saya tidak lagi bepergian sejauh 92 mil sehari dan saya lebih produktif," katanya, menambahkan ia telah menghemat uang belanja.

Meski begitu Howard mengatakan khawatir mengenai kolega barunya di perusahaan. "Kami memiliki (anak) magang berusia 17 tahun mulai bulan September yang belum pernah WFO," katanya.

"Bagi saya sebagai pekerja hibrida berusia 57 tahun adalah skenario yang bagus, tetapi untuk yang lebih muda memulai, mereka membutuhkan pengalaman di tempat kerja, struktur itu."

Maisie Lawrinson, pekerja yang baru bergabung dengan TalkTalk melalui skema pekerjaan Kickstart pemerintah Inggris pada Juli lalu, ingin WFO sebanyak mungkin. Selama kontrak kerja enam bulan, ia ingin membuat kesan yang baik bagi perusahaan dan bertemu dengan koleganya.

"Saya tidak pernah memiliki pekerjaan di mana saya berbicara dengan orang secara online atau mengirim email," katanya, mengacu pada pengalaman masa lalunya di ritel.

"Saya lebih produktif ketika saya di kantor karena ini lebih merupakan lingkungan profesional dan Anda bisa melihat orang-orang."

Setelah memulai WFH, dia akhirnya bertemu dengan rekan-rekannya untuk pertama kalinya secara langsung belum lama ini.

"Kami baru-baru ini mengadakan minuman tim dan akhirnya saya bertemu dengan semua orang. Sangat menyenangkan, saya dapat melihat semua orang secara langsung dan mendapatkan gambaran tentang siapa mereka, bukan hanya apa email mereka," katanya.

Lebih dari 60% dari mereka yang disurvei berpikir bahwa kaum muda bisa maju tanpa kontak tatap muka atau bimbingan langsung. Namun para ahli mengatajan, anak-anak di bawah 25 tahun sangat terpukul akibat kehilangan pekerjaan atau pengurangan jam kerja pada awal pandemi.

Penelitian menunjukkan bahwa beberapa ketidaksetaraan juga dapat diperburuk oleh pandemi, sementara yang lain mungkin membaik. Setengah dari pekerja yang disurvei berpikir bahwa karier pekerja perempuan malah akan membaik dengan WFH, tugas mengasuh anak juga dikatakan tidak terlalu menjadi penghalang.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading