Premier League Boikot Media Sosial, Ini Penyebabnya!

Lifestyle - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
26 April 2021 14:10
Leeds United players wear t-shirts with the logo 'Football Is For The Fans' as they warm-up ahead of ahead of the English Premier League soccer match between Leeds United and Liverpool at the Elland Road stadium in Leeds, England, Monday, April 19, 2021. (Clive Brunskill/Pool via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mulai 30 April, Premier League akan melakukan boikot pada media sosial. Liga tersebut ikut dalam boikot platform selama empat hari sebagai upaya memerangi pelecehan dan kekerasan.

Dalam kampanye itu, ikut pula English Football League dan klub Women's Super League. Selain itu juga ada Football Association serta organisasi anti diskriminasi Kick it Out.




Ketua Kick It Out, Sanjay Bhandari mengatakan boikot tersebut jadi tanda kemarahan mereka. Dia juga mengajak orang lain untuk ikut gerakan ini.

"Media sosial saat ini menjadi tempat regular untuk penyalahgunaan. Dengan melepaskan diri dari platform kami membuat tanda simbolis kepada mereka yang memiliki kekuasaan. Kami membutuhkan Anda untuk bertindak, kami butuh Anda untuk membuat perubahan," ujarnya, dikutip dari BBC, Senin (26/4/2021).

Dia menambahkan pelecehan sudah terjadi pada banyak pemain. Sangat mudah untuk aktivitas tersebut terjadi di media sosial.

Salah satu yang menjadi sasaran online adalah penyerang Brighton, Neal Maupay. Kepada Sky Sports, dia mengatakan boikot merupakan langkah yang sangat baik.

"Para pemain banyak mendapatkan pelecehan online dan kami butuh untuk melawannya. Ini adalah cara terbaik melakukannya. Ini baik bahwa kami bersama-sama dalam hal ini," ungkapnya.

Boikot pada Twitter, Instagram dan Facebook juga akan dilakukan oleh asosiasi Suporter Sepak Bola dan Asosiasi Manajer Liga. Kejuaraan wanita, Women in Football serta klub dan Profesional Game Match Official Limited atau PGMOL ikut serta juga.

Gerakan ini akan dilakukan berselang tiga minggu setelah Swansea City melakukan hal yang sama pada akun media sosialnya selama satu minggu. Alasannya untuk melawan pelecehan yang dialami oleh sejumlah pemain klub itu.

Birmingham City dan Rangers juga mengikuti langkah Swansea untuk memboikot media sosial.

Protes dengan adanya rasisme dan bullying di media sosial, membuat Thierry Henry menghapus akunnya pada Maret lalu. Mantan stiker Arsenal dan Perancis itu mengatakan sudah cukup dan menurutnya harus melawan rasisme di media sosial.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading