Kisah Haru dokter Twindy Rarasati Bergelut dengan Covid

Lifestyle - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
23 November 2020 14:27
Anggota perawat dan staf Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) melakukan aksi di tengah penyebaran penyakit COVID-19, di luar Downing Street di London, Inggris. (AP/Kirsty Wigglesworth)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tenaga kesehatan menjadi orang-orang yang paling rentan terpapar virus covid-19, karena pekerjaan mereka yang bersinggungan langsung dengan pasien.

Salah satunya adalah apa yang dialami dr. Twindy Rarasati, yang menjadi salah satu pasien Covid-19 sekitar bulan April.

"Saya kena (Covid-19) early April, sudah banyak membaca. Saya prepare sebagai petugas kesehatan, ada risiko tinggi. Saya sudah mitigasi, terutama dari rumah," katanya di Jakarta, Senin (23/11/2020).


Dirinya mengaku sudah sejak lama menetapkan protokol kesehatan secara pribadi, bahkan sebelum protokol kesehatan masif diumumkan dan harus dilakukan masyarakat. Mulai dari bagaimana setelah kembali bekerja hingga hal sederhana lainnya.

"Saya menetapkan protokol kesehatan di rumah. Saya ada ruangan terpisah di rumah, dan untuk alurnya saat pulang ke rumah langsung ke kamar mandi. Aktivitas makan bersama dan lainnya tidak ada lagi, untung mengurangi risiko," jelasnya.

Dia mengaku sempat merasa bosan akibat 2 minggu harus diisolasi. Bahkan hingga pekan kedua dirinya harus isolasi, virus tersebut tak juga kunjung pergi. "Saya berpikir, virus ini lama," ujarnya.

Dia mengingat kenapa bisa terpapar. Menurutnya, kala itu protokol kesehatan belum semasif sekarang. Hal itu karena Covid-19 baru menyebar ke Indonesia 2-3 bulan.

"Masyarakat belum aware seperti sekarang. Saya ada kemungkinan kena Covid-19 (ketika merawat pasien), jadi saya tidak bisa menunjukkan saya terpapar pasien a b c d," jelasnya.

Adapun proses penyembuhan menurutnya berbeda. Namun, hampir semua parameter bisa didasari dari pemeriksaan laboratorium, mulai dari CT Scan dada, hingga hasil PCR test yang dinyatakan negatif.

"Terbaru ada kategori tak memerlukan PCR follow up. Setelah 10 hari bebas gejala boleh pulang, kontrol kembali dan evaluasi. Kalau ada gejala tambah 3 hari. Berbeda di setiap negara. WHO menyatakan, boleh pemeriksaan lagi 2x negatif kalau ada sarana prasarana cukup. Misal di RS besar ada kapasitas, boleh dilakukan itu," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading