Indra Penciuman Bermasalah, Apakah Indikasi Kena Covid-19?

Lifestyle - Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
16 May 2020 12:51
Rapid Test  Covid-19 (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah studi terbaru dari para peneliti di AS dan Inggris menemukan bahwa pengumpulan data berbasis aplikasi atau crowdsourcing ternyata bisa menampilkan mengenai gejala awal Covid-19 dan dapat digunakan untuk memprediksi kasus di masa depan.

Studi yang dipublikasikan di Nature Medicine mencatat aplikasi bernama COVID Symptom Study ini sudah dipakai 2,6 juta pengguna setelah tiga minggu di AS, Inggris dan Swedia. Aplikasi ini mampu mengumpulkan data dari pasien tanpa gejala serta mereka yang memiliki gejala Covid-19.

Para peneliti menemukan bahwa ternyata pengguna yang kehilangan rasa dan penciuman menjadi indikator paling dekat untuk melihat apakah orang tersebut kena gejala Covid-19, indikasi ini lebih baik ketimbang demam dan batuk.


"Kami melaporkan bahwa kehilangan penciuman dan rasa adalah prediktor potensial Covid-19 selain gejala lain yang lebih mapan, termasuk suhu tinggi dan batuk persisten baru," tulis para peneliti itu, dikutip Nw York Post, Sabtu (16/5/2020).


"Covid-19 tampaknya menyebabkan masalah reseptor bau, sejalan dengan banyak virus pernapasan lainnya, termasuk virus corona sebelumnya yang dianggap bertanggung jawab atas 10-15 (persen) kasus anosmia (hilangnya penciuman)," tulis mereka.

Para peneliti juga mengidentifikasi kombinasi gejala, termasuk anosmia, kelelahan, batuk terus-menerus dan kehilangan nafsu makan, yang bersama-sama dapat mengidentifikasi individu terkena gejala Covid-19.

Selain mengumpulkan data dari pasien asimptomatik dan simtomatik, peneliti melacak secara real time bagaimana penyakit berkembang dengan mencatat informasi kesehatan yang dilaporkan sendiri setiap hari, termasuk gejala, rawat inap, hasil tes PCR (RT-PCR) transkripsi balik, informasi demografis dan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya.

Aplikasi COVID Symptom Study dibuat oleh Zoe Global bersama dengan King's College London dan Rumah Sakit Umum Massachusetts dan tersedia untuk iOS dan Android.

Para peneliti mencatat tingkat akurasi mencapai hampir 80% ketika menggunakan indikasi kehilangan rasa dan bau saat memprediksi gejala Covid-19, dikombinasikan dengan gejala lain seperti batuk, kelelahan dan kehilangan nafsu makan.

Pada pertengahan Maret, Fox News melaporkan bahwa kehilangan rasa dan indera penciuman bisa menjadi tanda-tanda awal dari virus corona. Saat ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) dan WHO mencatat batuk dan demam adalah gejala paling umum untuk melihat orang tersebut terpapar corona atau tidak.

Kendati demikian, kehilangan rasa dan penciuman memiliki peringkat lebih rendah atau dianggap kurang umum, menurut CDC dan WHO.


"Hasil kami menunjukkan bahwa kehilangan rasa atau penciuman adalah tanda peringatan dini kunci infeksi Covid-19 dan harus dimasukkan dalam skrining rutin untuk penyakit ini," kata salah satu penulis penelitian, Tim Spector.

Para peneliti juga mendesak pemerintah dan otoritas kesehatan dunia untuk membuat informasi ini lebih dikenal luas dan menyarankan siapa pun yang mengalami kehilangan bau atau rasa secara tiba-tiba untuk berasumsi bahwa mereka punya gejala awal terinfeksi dan segera mengikuti pedoman isolasi diri.

[Gambas:Video CNBC]



(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading