Internasional

Belajar New Normal China, Kala Corona Mengubah Segalanya

Lifestyle - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
15 May 2020 11:44
Visitors, wearing face masks, wait to enter the Disneyland theme park in Shanghai as it reopened, Monday, May 11, 2020. Visits will be limited initially and must be booked in advance, and the company said it will increase cleaning and require social distancing in lines for the various attractions. With warmer weather and new coronavirus cases and deaths falling to near-zero, China has been reopening tourist sites such as the Great Wall and the Forbidden City palace complex in Beijing.(AP Photo/Sam McNeil)
Jakarta, CNBC IndonesiaChina  belum bisa bernafas lega meskipun angka kasus terjangkit COVID-19 menurun, dengan angka kematian yang tetap stabil dan pasien berhasil sembuh makin naik.

Setelah melepaskan aturan penguncian (lockdown) di beberapa daerah, Otoritas Kesehatan China membuat tindakan pencegahan untuk COVID-19 dalam jangka panjang menjadi aturan 'new normal' dalam menjalani keseharian.

Melalui sebuah aplikasi yang diluncurkan oleh Dewan Negara pada bulan lalu, Pemerintah China akan memantau 2.857 kabupaten dan memperbarui informasi kepada publik mengenai risiko penyebaran virus dengan nama resmi SARS-CoV-2 ini.


Shi Xiao Ming, kepala Pusat Lingkungan China untuk Pengendalian Penyakit dan Pencegahan, mengatakan hidup tidak akan kembali seperti semula.

Students wearing protective face masks to help curb the spread of the new coronavirus walk in social distancing as they arrive to a high school in Wuhan in central China's Hubei province, Wednesday, May 6, 2020. Senior students returned to classes on Wednesday in the central Chinese city of Wuhan, the epicenter of the coronavirus pandemic, after no new cases or deaths were reported from the outbreak that had prompted a 76-day quarantine in the city of 11 million. (Chinatopix via AP)Foto: Siswa di Wuhan Mulai Bersekolah. (Chinatopix via AP)
Students wearing protective face masks to help curb the spread of the new coronavirus walk in social distancing as they arrive to a high school in Wuhan in central China's Hubei province, Wednesday, May 6, 2020. Senior students returned to classes on Wednesday in the central Chinese city of Wuhan, the epicenter of the coronavirus pandemic, after no new cases or deaths were reported from the outbreak that had prompted a 76-day quarantine in the city of 11 million. (Chinatopix via AP)



"Pembukaan kembali [tempat-tempat umum] itu bersyarat," kata Shi di Beijing sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Jumat (15/5/2020).

Semua wilayah di China Daratan dianggap berisiko rendah, kecuali di beberapa distrik di provinsi timur laut dan satu distrik di Wuhan yang dilaporkan masih memiliki kasus terjangkit, Shulan.

Shi mengatakan bahwa di daerah berisiko tinggi dan menengah, bioskop dan tempat hiburan lainnya harus tetap ditutup. Sedangkan bioskop di daerah berisiko rendah bisa dibuka kembali jika didesinfeksi dan berventilasi baik.

Pihak bioskop juga harus menyediakan tiket bisa dipesan secara online, mewajibkan pelanggan untuk mengenakan masker, melakukan pemeriksaan suhu, dan mematuhi aturan duduk setidaknya satu meter terpisah.

"Lihat film dengan keluargamu dan cobalah untuk tidak pergi dengan temanmu," kata Shi. "Jangan terlalu banyak bicara di bioskop. Kurangi pertemuan atau berbicara."

Catatan Shi ini muncul berbarengan dengan pernyataan Kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Soumya Swaminathan. Ia adalah orang yang memperkirakan dunia baru bisa mengendalikan COVID-19, empat atau lima tahun lagi.

"Saya akan mengatakan dalam jangka waktu empat hingga lima tahun kita bisa melihat cara mengendalikan ini," katanya dalam konferensi digital Global Boardroom dari Financial Times, seraya menambahkan "tidak ada bola kristal" dan pandemi itu "berpotensi menjadi lebih buruk".

Swaminathan mengatakan, panjang pendeknya waktu ditentukan oleh mutasi virus tersebut, tindakan penahanan yang dilakukan, dan pengembangan vaksin yang efektif.

Hal senada juga dikatakan spesialis penyakit menular China di Rumah Sakit Youan Beijing, Zhang Ke. Menurutnya virus corona kemungkinan akan ada untuk waktu yang lama.

"Sama seperti virus flu," katanya. "Suatu hari kita mungkin tidak dapat menemukan sumber infeksi yang eksplisit dalam beberapa kasus baru. Itu tidak dapat dicegah tetapi tidak layak untuk langkah-langkah ketat yang kami adopsi selama masa darurat."

He Qinghua, dari biro pengontrol penyakit Komisi Kesehatan Nasional, mengatakan bahwa elemen penting lain dari kehidupan "new normal" adalah persyaratan bagi institusi kesehatan untuk terus mendeteksi, melaporkan, mengisolasi dan merawat pasien secara tepat waktu.

"Persyaratan utama adalah kemampuan pengujian nukleat," katanya. "Kita harus membagi wilayah secara ilmiah menjadi unit-unit kecil untuk dikenali dan mengeluarkan wabah sesegera mungkin."

China juga akan memperkuat dukungan sains dan teknologi untuk upaya penahanan, membuka jalan untuk penelitian tentang vaksin, obat-obatan, dan tes cepat, dan memastikan bahwa masyarakat harus mengkarantina diri sendiri saat tidak sengaja berkontak dengan pasien positif COVID-19.

Kini sudah ada beberapa perusahaan China yang memiliki lima dari sembilan kandidat vaksin yang sudah memasuki uji coba manusia. Namun akibat rendahnya kasus terjangkit kini, mereka terhalang untuk melanjutkan percobaan tahap ketiga dan terakhir pada manusia.

Fase ketiga biasanya melibatkan lebih dari 1.000 sukarelawan dan menyediakan data paling penting untuk membuktikan vaksin itu aman, efektif, dan sangat protektif. Namun kini China hanya memiliki setidaknya 3 kasus baru dalam sehari.

China Daratan sendiri menduduki posisi ke-11 dengan 82.933 kasus positif. Sedangkan tidak ada penambahan kasus kematian, masih bertahan 4.633 kasus, dengan 78.195 kasus berhasil sembuh.
(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading