Internasional

Bukan Cuma RI Batik Juga Milik China, Kok Bisa?

Lifestyle - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
02 October 2019 13:54
Bukan Cuma RI Batik Juga Milik China, Kok Bisa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Hari ini, Rabu, 2 Oktober 2019, diperingati sebagai hari batik nasional. Alasan ditetapkannya tanggal 2 Oktober sebagai hari batik nasional adalah karena pada 2 Oktober 2009 lalu, UNESCO menetapkan Batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Pada hari batik nasional, biasanya rakyat Indonesia akan mengenakan pakaian batik serta melakukan berbagai kegiatan lainnya yang berkaitan dengan upaya menjaga, melestarikan dan memperkenalkan batik ke dunia luar.

Namun ternyata, kegiatan melukis batik atau membatik bukan hanya ada di Indonesia, lho. Mengutip laporan China Highlight, budaya membatik dan kerajinan batik juga ada di Negeri Tirai Bambu.


Metode membatik atau melukis kain dengan cairan lilin (wax printing) merupakan salah satu dari tiga metode kerajinan China kuno dalam memproduksi tekstil. Proses membatik sendiri biasanya merupakan proses mewarnai kain polos dengan banyak warna dan corak dengan tahapan tertentu shingga menghasilkan corak khas.

Bukan Cuma RI, Batik Juga Milik China, Kok Bisa?Foto: Chinese Batik (chinahighlights.com)


"Pencetakan batik adalah metode pemblokiran pewarna mekanis di mana cairan lilin panas diterapkan, seringkali dalam bentuk pola geometris atau representasi artistik (mulai dari bunga hingga wajah manusia), ke bagian kain yang dipilih,"jelas China Highlight dalam laporannya.



"Ketika lilin telah cukup kering, kain dicelupkan ke dalam tong air dingin dengan larutan pewarna. Ketika proses pewarnaan selesai dan kain telah dibiarkan mengering sepenuhnya, kain tersebut kemudian dicuci dengan air panas, untuk melarutkan lilin, dan produk jadi adalah sepotong kain dengan pola, desain, gambar, dll. Pola di kain itu memiliki warna yang kontras dengan warna dalam bak celup, atau latar belakang kain."

Namun, menerapkan warna melalui metode pencetakan lilin, setidaknya merupakan kerajinan yang membutuhkan keterampilan tingkat tinggi. Paling tidak karena lilin panas harus diterapkan dalam jumlah kecil, dan dengan cepat.

"Jika tidak, lilin akan dingin dan tidak diserap dengan benar ke dalam serat kain, yang sering terjadi jika tidak dilakukan dengan cekatan," tambahnya. "Selain itu, jika metode yang digunakan salah, maka kontur gambar akan menjadi kurang tajam."

Menurut laporan, budaya membatik telah ada di China sejak awal Dinasti Qin (221-207 sebelum masehi) atau Dinasti Han awal (206 sebelum masehi). Namun, pengetahuan yang luas tentang keberadaan batik China sebagai produk jadi pertama kali dikenal selama era Dinasti Tang (tahun 618-907), ketika batik menjadi komoditas "Jalur Sutra" lain yang diekspor ke Eropa dan negara lain.

Sama seperti di Indonesia, tradisi membatik juga umumnya diturunkan dari generasi ke generasi. Namun, di China, budaya ini mulai menghilang. Saat ini hanya ada dua komunitas batik di China, yaitu komunitas Zhuang dan kelompok etnis Miao, yang tinggal di daerah kecil di Provinsi Guizhou, Guangxi, Sichuan dan Yunnan. Mereka telah melestarikan tradisi kuno membatik atau wax printing ini.

"Etnis minoritas Zhuang umumnya memiliki preferensi untuk kain berwarna biru dengan bunga-bunga putih yang seolah menyembul keluar dari kain. Sementara kelompok Miao menggunakan lebih banyak variasi gambar representasional dan non-representasional dalam batik mereka." Kata China Highlight.

Etnis Zhuang dan Miao juga tidak hanya membuat batik untuk penggunaan mereka sendiri, tetapi memproduksi batik untuk dijual. Wisatawan yang mengunjungi daerah-daerah etnis ini akan dengan mudah menemukan kain batik yang banyak dijadikan tirai, bantal, taplak meja, hiasan dinding, hingga barang-barang pribadi seperti tas, boneka, dan pakaian.

[Gambas:Video CNBC]





(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading