Hari Kartini

Maya Arvini, Women in IT yang Berkelana dari IBM hingga QLUE

Lifestyle - Linda Sari Hasibuan, CNBC Indonesia
20 April 2019 18:27
Maya Arvini, Women in IT yang Berkelana dari IBM hingga QLUE
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri teknologi informasi kini banyak dilirik wanita sebagai pilihan karier. Ini pula yang sudah dijalani Maya Arvini selaku Chief Comercial Officer (CCO) pada aplikasi QLUE.

Sebelumnya, Maya juga pernah berkarier di top multinational company seperti IBM dan Microsoft. Di dunia perusahaan tersebut, Maya banyak belajar banyak dan mengembangkan kariernya di usia muda, khususnya di bidang IT (Information Technology).

"Jadi awal karier saya dulu sebagai sales di IBM Indonesia kemudian saya menjabat sebagai Business Group Head di Divisi Marketing & Operations Microsoft Indonesia, saya mampu mengembangkan skala bisnis yang dikelola menjadi 250% atau tumbuh jauh lebih cepat dari para pesaing," kata Maya kepada CNBC Indonesia di Jakarta, pekan ini.


Maya Arvini, Women in IT yang Berkelana dari IBM hingga QLUEFoto: maya arvini/ instagram : @mayaarvini



Setelah tiga tahun bekerja di IBM, Maya memutuskan untuk keluar dan pindah ke Microsoft. Selama berkarier, Maya selalu konsisten dan memberikan performa terbaiknya.

Terbukti dia pun mendapatkan banyak penghargaan baik di tingkat nasional maupun Internasional. Di antaranya seperti juara kompetisi Young Women Future Business Leader dari Majalah Bisnis SWA, Best ASEAN Sales Representative dari IBM ASEAN, dan IBM Golden Circle Award sebagai penghargaan tertinggi dari IBM International atau worldwide untuk karyawan berprestasi.

Tidak hanya itu, kemampuannya memperluas bisnis hingga 200 persen sewaktu berkarier di Microsoft Indonesia mengantarkannya meraih penghargaan Share Fighter Award dari Microsoft Asia Pacific.

Sementara pada tahun 2014, Maya memutuskan untuk berkarir di perusahaan lokal Indonesia. Dia pun bergabung dengan Grup Gunung Sewu dan menjabat sebagai Associate Director, Market Development & Head of (Strategic Business Unit) Office. Di usia muda, Maya memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan unit-unit usaha serta mendapat kepercayaan dari pemilik untuk mengerjakan beberapa fungsi strategis.



Seiring dengan berkembangnya dunia startup di Indonesia, tahun 2019, Maya bergabung dengan QLUE sebagai CCO (Chief Commercial Officer).

"Ada perbedaan culture yang sangat besar jadi saya baru join dengan QLUE sekitar beberapa bulan dan usianya baru tiga tahun masih baby dan banyak hal yang harus saya kembangkan. Jadi kerja di lokal yang saya rasakan lebih rileks dan kalau multinational penuh tekanan tapi sudah jelas daily job-nya," kata dia.

Sebelum bekerja, pemilik nama lengkap Meisari Arvini Hidayati dulunya adalah mahasiswi double degree. Ia berkuliah di jurusan agribisnis Universitas Padjadjaran dan manajamen di kampus yang sama. Tahun berikutnya ia diterima di jurusan manajemen Universitas Padjadjaran. Pikirnya kala itu sarjana ekonomi lebih mudah mendapat pekerjaan.

Pengorbanannya memang patut diacungi jempol, Maya juga mendapatkan kesempatan beasiswa S2 di Universitas Indonesia dari Sampoerna Foundation. Ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik UI dengan IPK 3,9 dan menyandang gelar master dalam waktu kurang dari dua tahun.



Berbicara perempuan di dunia teknologi, Maya mengatakan bahwa kini banyak wanita terjun di bidang teknologi. Ini berbeda dari 10 tahun hingga 15 tahun yang lalu.


"In general sudah banyak wanita di bidang IT. Bicara dunia perkembangan IT selama 10 tahun hingga 15 tahun terakhir memang masih sedikit untuk women leadership-nya," papar Maya.

Dia menuturkan, kondisi ituberbeda bila perusahaan yang basisnya teknologi dari Amerika Serikat (multinational) dapat dipastikan bahwa 3-5 persen pekerjanya adalah wanita. Mengingat perkembangan start up sedang menggeliat, dia menuturkan bahwa kini juga sudah banyak wanita menjadi founder di berbagai bidang start up atau disebut women in tech.

Bahkan menariknya, tidak hanya yang lebih dewasa, kini juga banyak para wanita muda atau milenial yang berkecimpung di bidang start-up.

"Perkembangan sedang baik memang in term bila perusahaan nasional yang punya basis di Eropa dan punya representatif di sini para wanitanya tidak banyak. Untuk detail persentasenya tidak tahu tapi banyak wanita kini mendirikan start-up nya sendiri," ucap dia.

Maya Arvini, Women in IT yang Berkelana dari IBM hingga QLUEFoto: maya arvini/dok QLUE


(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading