Review Sepekan

BI Kasih Kode Setop Kerek Suku Bunga, Rupiah Tetap Perkasa!

Investment - Tim Riset, CNBC Indonesia
21 January 2023 11:30
Petugas menghitung uang  dolar di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Blok M, Jakarta, Senin, (7/11/ 2022) Foto: Ilustrasi Dolar dan Rupiah. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah sukses menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (20/1/2023), sehari setelah Bank Indonesia (BI) mengindikasikan era kenaikan suku bunga RI sudah berakhir.

Pada perdagangan Jumat (20/1) kemarin rupiah ditutup di harga Rp 15.070/US$ atau menguat 0,46% secara point-to-point dalam sepekan, melansir data Refinitiv. Lebih fantastis lagi sejak perdagangan hari terakhir tahun lalu, nilai tukar rupiah mengalami penguatan drastis hinga 3,18%.

Pada perdagangan kemarin, tampaknya pedagang tidak terlalu merasa terbebani atas pernyataan Gubernur BI, dengan rupiah ditutup menguat pada perdagangan hari terakhir pekan ini.

Gubenur BI Perry Warjiyo dan kolega di bank sentral, Kamis (19/1) kemarin menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Dengan demikian, BI sudah menaikkan suku bunga 6 bulan beruntun, dengan total 225 basis poin.

"Kenaikan 225 bps adalah yang terukur. Kenaikan secara akumulatif ini memadai untuk memastikan inflasi inti tidak akan lebih tinggi dari 3,7% pada Semester I-2023," tutur Perry, dalam konferensi pers pengumuman Hasil RDG Januari 2023,Kamis (19/1/2023).

Kata memadai tersebut menjadi kode BI tidak akan menaikkan suku bunga lagi. Hal tersebut ditegaskan Perry saat sesi tanya jawab dengan jurnalis.

"Kalau tidak ada informasi yang extraordinary, yang kita tidak bisa kita lihat dan kondisi di luar perkiraan, maka kata memadai sudah bisa menjawab pertanyaan tersebut," imbuh Perry menjawab pertanyaan apakah BI masih akan menaikkan suku bunga ke depan.

Di sisi lain, inflasi yang menurun di Amerika Serikat membuat pasar melihat bank sentral AS (The Fed) akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya.

Inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) di AS pada Desember 2022 dilaporkan tumbuh 6,5% year-on-year (yoy), jauh lebih rendah dari sebelumnya 7,1%. CPI tersebut juga menjadi yang terendah sejak Oktober 2021.

CPI inti yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan dalam perhitungan juga turun menjadi 5,7% dari sebelumnya 6%, dan berada di level terendah sejak Desember 2021.

Sebelumnya, Institute for Supply Management (ISM) awal bulan ini melaporkan sektor jasa Amerika Serikat mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun terakhir.

ISM melaporkan purchasing managers' index (PMI) jasa turun menjadi 49,6 jauh dari bulan sebelumnya 56,5. Angka di bawah 50 berarti kontraksi, sementara di atasnya adalah ekspansi.

Kontraksi tersebut menjadi tanda gelapnya perekonomian AS pada 2023, resesi sudah membayangi.

Untuk diketahui sektor jasa merupakan kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB) AS berdasarkan lapangan usaha. Kontribusinya tidak pernah kurang dari 70%.

Pasar kini melihat The Fed akan kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin pada Februari nanti, dan sekali lagi dengan besaran yang sama sebulan berselang. Sebabnya, inflasi yang terus menurun.

Ekspektasi tersebut lebih rendah dari proyeksi The Fed sebesar 75 basis poin, hingga menjadi 5% - 5,75%.

Kode berakhirnya era kenaikan suku bunga oleh BI saat The Fed masih akan menaikkan dua kali lagi menjadi langkah yang berani. Jika spread suku bunga menyempit, ada risiko rupiah akan mengalami pelemahan. Tetapi di sisi lain, hal itu menunjukkan BI pede dengan kondisi saat ini, dan menunjukkan optimisme rupiah masih akan tetap kuat.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(fsd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading