InvesTime

Belajar Saham dari Influencer Boleh Saja, tapi Ini Kuncinya!

Investment - Yuni Astuti, CNBC Indonesia
27 September 2021 12:45
Suasana seminar yang bertajuk kemudahan Investasi Pasar Modal di Era Ekonomi Digital di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/8). Seminar ini diisi oleh pembicara dari Ady F. Pangerang, Presiden Direktur Bareksa.com, Samuel Sentana, Head of Fintech Tokopedi, dan Destya Danang Pradityo, Head of Financial & Payment Services BukaLapak. Seminar ini merupakan satu rangkaian dari acara Investor Summit 2018. Dalam seminar ini selain menginformasikan bahwa pembelian reksa dana telah dapat dilakukan melalui aplikasi dari kedua perusahaan, Bareksa, Tokopedia, dan BukaLapak juga membeberkan rencana untuk lebih membuka akses dan kemudahan masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seiring dengan minat investor ritel yang tinggi di pasar modal, kini banyak bermunculan influencer atau para publik figur dan kreator konten di media sosial yang ramai mempromosikan saham tertentu. Hanya saja, keberadaan influencer saham ini ternyata bagai dua sisi mata uang.

Associate Director PT Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus dalam Investime Jumat (24/9) mengatakan, influencer ini memiliki kebutuhan untuk membuat konten.

Saat ini ada banyak sekali channel Youtube yang membahas terkait bagaimana belajar investasi saham.


"Bagaimana memilih yang tepat, salah tidak pom-pom [menggirim] ini? Sebetulnya kalau dilihat, kembali ke diri sendiri," jelasnya.

Sebab, meski kehadiran influencer saham ini marak sekali, namun investasi menurutnya harus didasari dengan pengetahuan dan jangan karena kata orang lain alias ikut-ikutan (FOMO, fear of missing out).

"Beli yang kita tahu dan kenal, jangan kata orang. Karena sudah tahu dan kenal misal BBCA [PT Bank Central Asia Tbk], semua hampir ada ATM-nya," katanya.

Dia melanjutkan, menonton saluran kanal Youtube para influencer tersebut boleh dilakukan sebagai bahan pembelajaran. Namun aksi selanjutnya seperti apa, ini menjadi kebutuhan dan preferensi setiap orang.

"Kalau mau ikut, dalam jumlah kecil. Kemudian tentukan cut loss [jual rugi], terkait bagaimana mengelola risiko," ujarnya.

Dia juga menyinggung terkait investasi dengan sebutan scalping alias trading saham dengan jangka pendek, yaitu hitungan jam bahkan menit.

Menanggapi hal ini, dia mengatakan jika gaya setiap orang dalam berinvestasi saham pasti berbeda. Ada saran yang harus diperhatikan untuk investor yang mencoba cara ini.

"Kalau mau investasi jangka pendek mesti punya cukup waktu, lihat layar jual dan beli dalam waktu singkat," tuturnya.

Kedua, mulai dengan dana kecil serta harus mulai membiasakan diri alias disiplin, dan yang terpenting juga adalah harus siap untuk cut loss.

"Kalau misal ternyata penurunan 1-3% atau 2-4% ngga boleh lagi yang namanya sayang untuk cut loss. Kalau memang waktunya cut loss, ya cut loss," tegasnya.

Hal ini yang harus menjadi perhatian, sebab arah geraknya akan lebih mudah dibaca dan harus didukung teknik analisa yang cukup. Menurutnya, jika ingin mencoba, ini bisa menjadi teknik menguntungkan. Namun yang harus diingat, sesuaikan keuntungan dengan biaya-biaya yang harus dibayar.

"Jangan sampai mengincar 1 titik, tapi habis untuk fee dan lainnya, Yang penting mindset, disiplin. Jangan menunda karena mesti tega terhadap diri sendiri, terutama jangan takut cut loss," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading