InvesTime

Apa Benar IHSG Jeblok Gegara Investor Ritel?

Investment - Yuni Astuti, CNBC Indonesia
28 September 2021 09:10
Public Expose Live 2019 (CNBC Indonesia/Monica Wareza)

Jakarta, CNBC Indonesia - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir masih saja bergerak fluktuatif, meski ditutup di zona hijau pada perdagangan Jumat (24/9) 6.144 dan kembali minus pada perdagangan Senin kemarin (27/9).

Pada awal pekan lalu, pergerakannya sempat terpantau ada zona merah meski akhirnya bisa kembali ke jalur hijau.

Senin kemarin, IHSG sempat menguat 0,3%, kemudian berbalik melemah dan mengakhiri perdagangan di 6.122,495, minus 0,36%. Meski akhirnya melemah, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih sebesar Rp 312 miliar.


Sejumlah pelaku pasar menilai koreksi IHSG lantaran banyaknya investor ritel yang memilih saham-saham berkapitalisasi rendah dan kurang berkontribusi terhadap IHSG, ditambah lagi asing belum banyak masuk ke saham big cap (saham kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun).

Mengenai hal ini, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, dalam program Investime CNBC Indonesia, mengatakan, memang pergerakan IHSG ini tidak terlepas dari campur tangan investor ritel, yang terbukti dari kepemilikan Single Investor Identification (SID) yang saat ini sudah menembus 2,7 juta hingga Agustus 2021.

SID adalah bukti untuk kepemilikan investor pasar modal, mulai saham, reksa dana, hingga obligasi. 

"Kalau kita lihat ini sesuatu yang sangat menyenangkan. Semakin banyak yang bermain [investasi saham] semakin folatilitas. Artinya semakin banyak yang melek investasi. Ujung-ujungnya semua jadi makmur," katanya.

Sebetulnya, lanjut dia, ada efek yang ditimbulkan dari bertambahnya investor ritel ini.

Sebab sesuai dengan mekanisme pasar, semakin banyak yang terjun ke pasar modal, maka akan semakin menyenangkan. Meski begitu, dia berpesan jangan sampai tujuan investasi di pasar modal hanya karena FOMO, alias fear of missing out atau takut ketinggalan.

"Jangan sampai, ikut investasi yang dilihat manisnya saja, pahitnya engga, inib ahaya. Sempet melihat juga, apa yang dibeli pasti naik. kenyataannya market tidak semudah itu. Contohnya, saham sektor farmasi, ini banyak nyangkut. Ini jadi perhatian, kenaikan SID [jumlah investor] diikuti dengan edukasi yang baik. Apakah institusi atau ritel semua akan kembali lagi bisa kasih warna, volume atau volatilitas," jelasnya.

Berbicara mengenai perbedaan, menurut dia tak ada bedanya. Kedua investor yaitu baik ritel dan institusi memiliki sifat investasi jangka panjang dan jangka pendek, di mana sifat investasi tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing investor.

"Baik institusi atau ritel tujuannya sama, mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin dengan tingkat risiko kecil. Saya mau risiko hilang tak bisa. Ada nilai yang harus dikelola. Mau menangnya aja, tidak bisa. Tujuan investasi akan menentukan gaya investasinya," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading