InvesTime

Ramai Merger-Akuisisi, Investor Ritel Mesti Borong Saham Apa?

Investment - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
24 September 2021 10:52
ISAT dan TRI/detik

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa waktu terakhir banyak perusahaan yang melakukan aksi merger atau akuisisi (M&A). Terakhir ada PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT Hutchison 3 Indonesia (H3I) atau Tri Indonesia yang memutuskan untuk melakukan merger.

Lalu di tengah sentimen ini, investor ritel sebaiknya ikut arus membeli saham-saham yang melakukan M&A atau harus beli saham apa?

Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia, Yosua Zisokhi mencontohkan untuk merger Indosat dan Tri Indonesia, memang membuat saham sektor telekomunikasi menjadi menarik

Namun dia merekomendasikan saham operator lain yakni PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL).


"Merger ISAT dan Tri membuat sedikit menarik, sehingga saya bukan merekomendasikan ISAT, tapi merekomendasikan Telkom dan XL karena konsolidasi yang ada cukup menarik," kata Yosua dalam InvesTime CNBC Indonesia, Kamis (23/9/2021).

Selain saham perusahaan telekomunikasi, investor ritel menurut dia juga bisa juga melirik saham yang masih berkaitan dengan penunjang sektor tersebut. Menurutnya sektor menara telekomunikasi ini menarik secara valuasi jangka panjang dan pendek.

"Saham teknologi masih berbau telekomunikasi CENT [PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk] dan TOWR [PT Sarana Menara Nusantara Tbk], dan kita menunggu Mitratel IPO bisa dilirik. Menarik secara valuasi jangka panjang dan pendek," ungkapnya.

Mitratel atau PT Dayamitra Telekomunikasi, anak usaha Telkom, memang tengah berencana menawarkan saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam kesempatan itu, Yosua juga menjelaskan cukup wajar perusahaan melakukan merger atau akuisisi. Sebab saat ini ada perusahaan ada yang kinerja keuangannya turun, dan wajar melakukan konsolidasi saat beberapa perusahaan memiliki uang lebih.

Dengan akuisisi atau merger, menurutnya ini menjadi sentimen positif jangka panjang. Sebab emiten-emiten tersebut akan bagus di masa depan.

"Didukung grup di belakangnya juga otomatis seharusnya jikalau merger-akuisisinya memang untuk bisnis berkelanjutan otomatis ada gerakan bagus," kata dia.

Namun aksi korporasi saat ini tidak akan jadi tren apalagi setelah era pandemi usai. Dia menyebut saat berakhir, kemungkinan merger dan akuisisi memang tetap ada namun tidak akan sebanyak sekarang,

Sektor teknologi sendiri memang memiliki keuntungan saat pandemi. Sebab era sekarang membuat digital semakin besar baik tahun lalu dan sekarang.

"Saya lihatnya ini cuman satu kali menurut saya. Belum akan ada lagi ke depannya. Karena memang secara umum digital marak karena pandemi yang mem-boost mereka lebih besar lagi di tahun ini dan tahun kemarin," ungkapnya.

"Kalau saya lihat pandemi berakhir kelak otomatis semua sudah settled dan ekonomi berjalan lagi, sehingga kemungkinan merger dan akuisisi ada, saya rasa tidak sebanyak sekarang ini," tambah Yosua.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Saham-saham Big Cap Rontok Berjamaah, Saatnya Masuk!


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading