Saham-saham Ini Pernah Hype, Masih Oke Diserok?

Investment - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
27 August 2021 09:30
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tidak dimungkiri sejumlah saham pernah menjadi primadona di pasar saham RI. Kendati demikian, setelah melonjak signifikan dalam beberapa bulan terakhir, kini saham-saham tersebut belum terdengar lagi kesaktiannya.

Nico Laurens, Head of Research PT Panin Sekuritas Tbk (PANS) mengatakan bahwa investor saham jangan hanyut dalam animo saham yang sedang hype. Kenaikan dalam waktu singkat atas saham tertentu punya risiko yang mungkin timbul di kemudian hari, sehingga perlu menjadi perhatian investor pemula.

Dia menilai, ada banyak investor pemula yang kemudian mencoba berinvestasi saham hanya karena ingin mendapatkan keuntungan besar dengan cara yang instan. Akibatnya, banyak yang justru terjebak melakukan kesalahan saat mulai akan berinvestasi dan memilih saham-saham yang kurang baik fundamentalnya.


"Perlu diketahui saham itu enggak naik terus. Jadi investor baru yang enggak punya fundamental kuat atau ikut-ikutan itu bakalan sedikit trauma. Kayak akan rugi dan Itu ibaratnya ada sentimen negatif. Investor yang kayak gitu bakal mundur, jadi yang stay investor yang paham saja," ujar Nico pada acara InvesTime CNBC Indonesia, Kamis malam (26/8/2021).

Nico menjelaskan meskipun saham-saham hype sedang mengalami kenaikan, hati-hati dalam menyerok saham. Investor jangan pernah asal beli tanpa membuat analisa lebih dahulu.

Nico menilai bahwa saat ini saham small caps atau berkapitalisasi pasar kecil, tengah menarik di tengah kondisi pasar yang saat ini khawatir dengan lonjakan Covid-19.

Hal itu karena pola pergerakan cenderung sideways [menyamping] dan recovery-nya lebih cepet daripada saham emiten kapitalisasi besar atau large cap.

"Jadi sebenernya kenapa kalau kita lihat saham-sahan yang small cap draft-nya lebih signifikan dibanding large cap mungkin kita bisa back testing historically zaman 2003, 2008 umumnya saham-saham small cap recovery-nya lebih cepet dibanding large cap. Karena ibarat ekonomi enggak begitu bagus," papar ia.

Namun kondisi ini berbeda dengan investor besar seperti institusi yang lebih suka pada saham yang memiliki fundamental baik. Nico pun melihat saat ini pasar modal juga sedang dipenuhi investor ritel yang mencari saham murah dan naik.

"Investor lagi looking for growth. By nature kalau foreign institusi biasanya approach-nya lebih ke fundamental. Mereka kayak pegang jangka panjang karena dominasi retail karena pandemi banyak yang main saham jadi itu yang bikin saham ada driver karena faktor informasi tersebut," ungkap ia.

Data CNBC Indonesia mencatat, sejumlah saham pernah menjadi primadona pasar saham RI setelah melonjak signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Di akhir tahun lalu, ada saham-saham emiten farmasi PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) dan kawan-kawannya, lalu emiten-emiten nikel akibat sentimen Tesla. Ada PT Antam Tbk (ANTM) hingga PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Lalu ada saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dan emiten gas oksigen PT Aneka Gas Industri Tbk (AGII).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading