Investor Ritel Beralih ke Small Cap, Masih Oke Lirik LQ45?

Investment - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
27 July 2021 18:55
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat ini tengah ramai investor ritel memilih emiten small caps atau berkapitalisasi kecil yang tercermin dari pergerakan harga saham kategori ini yang agresif.

Padahal saham-saham kategori ini belum memiliki fundamental yang baik sehingga dianggap cukup berisiko untuk investasi jangka panjang.

Apakah demikian tren yang terjadi saat ini? Lantas bagaimana dengan emiten kapitalisasi besar (big cap) yang tergabung dalam Indeks LQ45, apakah masih menarik untuk dikoleksi?


Saham-saham yang tergabung Indeks LQ45 (45 saham) memang sebagian sedang lesu, yang terlihat dari pergerakan harga dalam 6 bulan terakhir yang cenderung menunjukkan tren menurun. Walaupun dalam 5 hari terakhir ada kenaikan mencapai 1,64%.

Sebab itu, Analis PT Indo Sekuritas Mino menjelaskan saham-saham yang tergabung dalam indeks LQ45 masih menarik untuk dikoleksi.

Hal itu karena tidak sembarangan satu emiten yang bisa masuk dalam indeks berisi 45 saham paling likuid itu.

Paling saham-saham yang masuk harus memenuhi unsur volume perdagangan yang tinggi dalam beberapa bulan terakhir dan kapitalisasi pasar yang besar, juga fundamental yang prospektif ke depan.

"Jadi sampai saat ini saham-saham LQ45 masih relevan dan bagus," kata Mino dalam Investime CNBC Indonesia, Jumat (23/7).

Investor ritel memang memburu saham-saham yang sedang mengalami tren bullish. Namun dia menepis harga saham-saham di LQ45 saat ini sudah kemahalan atau overvalue. Karena menurut Mino ada masih ada beberapa saham yang LQ 45 yang undervalue alias murah.

"Valuasi bukan hanya dari nominal transaksi. Banyak di Indeks LQ45 yang undervalue tertekan di masa pandemi. Saham LQ45 itu juga banyak yang undervalue dari nominal juga masih ada yang cukup murah," katanya.

Mino mencontohkan saham besar perbankan masih undervalue, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Sementera untuk harga murah di bawah Rp 1.000 per saham ada yang berada di sektor energi dan media.

Di sisi lain, untuk saham consumer goods, Mino merekomendasikan saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan anak usahanya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Pada saham tambang, saham seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga dinilai masih positif dengan rekomendasi buy di target harga Rp 3.500, begitu juga dengan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan emiten jaringan menara PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dengan rekomendasi buy.

Sebagai informasi, dalam literatur dan jadi informasi umum bahwa saham-saham disebut sebagai mid-cap stocks atau second-liner, biasanya memiliki kapitalisasi pasar antara Rp 500 miliar - Rp 10 triliun, dan ada pula yang mematok di bawah Rp 100 triliun.

Adapun saham lapis ketiga atau junk stocks alias small-cap stocks biasanya kapitalisasinya berada di bawah angka Rp 500 miliar.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading