InvesTime

Berani Beli Saham Gocap-Gopek? Begini Tipsnya Kalau Tertarik

Investment - Monica Wareza, CNBC Indonesia
21 July 2021 09:35
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyaknya jumlah saham dengan harga terendah Rp 50 alias gocap menjadi momok bagi para investor terkait dengan risiko berinvestasi di saham-saham ini. Tak hanya itu, ketakutan juga terjadi pada saham-saham di harga Rp 500 per saham alias gopek di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hal ini lantaran sebelumnya, di beberapa kasus, banyak investor yang 'nyangkut' di saham ini. Hanya saja, di tengah ketakutan sebagian investor, justru tak sedikit yang berani mengambil risiko untuk masuk ke saham gocap ini dan berharap harganya akan naik di kemudian hari, termasuk juga ke saham-saham gopek.

Founder Ellen May Institute dan EMTrade, Ellen May mengatakan bahwa saham-saham dalam kategori gocap ini berisiko untuk tetap stagnan di harganya saat ini, bahkan berpotensi untuk terus turun dari harga Rp 50 itu, dengan catatan saham tersebut masuk papan akselerasi yang bisa terendah di bawah Rp 50/saham.


"Kalau dilihat dari risiko itu tadi berisiko stagnan lama. Tapi mungkin mindset saham murah value investing buat dapet [saham] mutibagger," kata Ellen dalam program Investime, dikutip Rabu (21/7).

Saham multibagger merupakan saham yang bisa memberikan gain atau keuntungan berkali-kali lipat dari harga perolehannya

Menurut dia, untuk memilih saham dengan harga dan valuasi murah (undervalued) harus teliti sebab tidak semua saham di harga rendah memiliki potensi kenaikan dan bisa ditahan hingga jangka panjang.

Sebab itu, diperlukan pendekatan baik secara teknikal dan fundamental untuk mencermati saham-saham mana yang bisa diinvestasikan hingga harganya naik.

Dari sisi fundamental, misalnya, dengan adanya tren akuisisi di pasar saham saat ini untuk perbankan dan sektor teknologi, maka bisa dicermati saham-saham perbankan yang melakukan aksi korporasi namun harga sahamnya masih murah.

Sedangkan dari segi teknikal history, perlu dicermati pergerakan harga saham. Sebab, menurut dia jika saham secara historical terus turun, maka potensinya untuk kembali naik bisa bisa dibilang sudah tidak ada.

"Kalau ga ada sentimen apa-apa jadi risikonya stagnan atau terus turun karena mindset-nya saham yang naik akan lanjut terus naik dan yang turun akan terus turun. Itu teori tren harga saham," terang dia.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading