Harga Emas Antam To the Moon, Bisa Tembus Rp 1 Juta/gram?

Investment - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
13 July 2021 06:50
Petugas menunjukkan emas batangan di sebuah gerai emas di Pegadaian, Jakarta. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Antam) Tbk (ANTM) atau Logam Mulia Emas Antam pada pekan lalu melesat tajam mencapai level tertinggi dalam sebulan terakhir. 

Sebab itu, pada pekan ini harga emas Antam ini diramal berpeluang naik lagi dan berpotensi mendekati angka Rp 1 juta/gram seiring dengan kenaikan harga emas dunia.

Pada 28 Juli tahun lalu, emas Antam berhasil tembus Rp 964.120/gram untuk emas kepingan 100 gram yang lumrah dijadikan acuan, sedangkan untuk kepingan 1 gram berada di Rp 1.022.000/gram.


Sementara itu, pada perdagangan Senin kemarin, data situs logammulia.com mencatat harga emas Antam dengan berat 1 gram dijual Rp 950.000/batang, masih stagnan dibandingkan harga Sabtu lalu. Posisi tersebut merupakan yang tertinggi sejak 11 Juni lalu, dan sepanjang pekan lalu menguat 0,85%.

Emas Antam dengan berat 100 gram juga stagnan di Rp 89.212.000/batang atau Rp 892.120/gram. Antam menjual emas batangan mulai satuan 0,5 gram hingga 1.000 gram. Harga tersebut belum termasuk pajak 0,9% bagi pembelian tanpa menggunakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan 0,45% dengan NPWP.

Gerak Harga Emas Antam Senin (12/7)

BeratHarga DasarHarga NPWP (+Pajak 0.45%)Harga Non NPWP (+Pajak 0.90%)
0.5 gr525,000527,000529,000
1 gr950,000954,000958,000
2 gr1,840,0001,848,0001,856,000
3 gr2,735,0002,747,0002,759,000
5 gr4,525,0004,545,0004,565,000
10 gr8,995,0009,035,0009,075,000
25 gr22,362,00022,462,00022,563,000
50 gr44,645,00044,845,00045,046,000
100 gr89,212,00089,613,00090,014,000
250 gr222,765,000223,767,000224,769,000
500 gr445,320,000447,323,000449,327,000
1000 gr890,600,000894,607,000898,615,000

Emas saat ini perlahan mulai jadi primadona lagi sebab pelaku pasar mulai waswas perekonomian global akan kembali merosot akibat serangan baru virus corona. Selain itu, yield obligasi AS (US Treasury) sedang dalam tren menurun.

Treasury dan emas sama-sama dianggap aset aman (safe haven). Bedanya, Treasury memberikan imbal hasil (yield) sementara emas tanpa imbal hasil, hanya mengandalkan capital gain. Sehingga ketika yield Treasury naik, emas menjadi tak menarik, tetapi ketika yield tersebut turun emas mulai dilirik.

Apalagi ketika yield lebih rendah ketimbang inflasi di AS, maka riil return yang diperoleh menjadi negatif. Di sisi lain, emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, semakin tinggi inflasi, maka permintaan emas berpotensi meningkat.

Hal tersebut membuat emas saat ini kembali menarik pelaku pasar. Hasil survei mingguan yang dilakukan Kitco juga menunjukkan di pekan ini emas dunia akan kembali menguat, yang tentunya bisa mengerek emas Antam.

Dari 16 analis Wall Street yang disurvei, sebanyak 12 orang atau 75% memberikan proyeksi bullish (tren naik), 2 orang memberikan proyeksi bearish (tren turun) dan sisanya netral.

Sementara itu survei yang dilakukan terhadap pelaku pasar atau yang disebut Main Street, dari 902 partisipan, sebanyak 61% memberikan proyeksi bullish, 20% bearish, dan sisanya netral.

Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, mengatakan ia masih tetap bullish terhadap emas dalam jangka pendek. Tetapi, akan mengalami naik turun sebab para trader sudah mulai mengambil libur musim panas.

Adapun konsensus pasar yang dihimpun Refinitiv memperkirakan median harga emas pada kuartal III-2021 berada di US$ 1.781/troy ons. Dari posisi harga saat ini yang di US$ 1.807,98/troy ons, ada risiko koreksi sebesar 1,5%.

Shrea Paul, Analis Refinitiv, bahkan memperkirakan harga emas dunia bisa turun ke kisaran US$ 1.600/troy ons. Level support emas untuk bulan ini diperkirakan di US$ 1.678-1.650/troy ons.

Namun bukan berarti tidak ada peluang naik. Paul memperkirakan level resistance (batas atas) harga emas berada di kisaran US$ 1.856-1.875/troy ons.

"Investor akan terus memantau dinamika di bank sentral AS terkait arah kebijakan moneter ke depan. Selain itu, fokus pasar juga akan tertuju ke berbagai data ekonomi AS untuk mengetahui seberapa kuat pemulihan ekonomi dan laju inflasi, yang akan berdampak terhadap kebijakan bank sentral," sebut Paul dalam risetnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading