InvesTime

Masih Oke Gak Koleksi Saham Ritel-Konsumer Usai Lebaran?

Investment - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
06 May 2021 15:25
Pengunjung berbelanja di Matahari Store dikawasan Jakarta, Senin (30/11/2020). PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) menutup 6 gerainya hingga akhir tahun ini. Jumlah gerai perusahaan ritel ini akan berkurang dari 153 toko menjadi 147 toko.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang momen Idul Fitri dan cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) ternyata tidak mampu membuat semua emiten ritel dam konsumen di Bursa Efek Indonesia (BEI) tumbuh positif. Meski banyak juga yang mengalami kenaikan, namun kinerja sahamnya belum begitu memuaskan sejauh ini.

Di sisi lain, di tengah upaya bangkitkan ekonomi, Pemerintah juga berencana menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) yang dinilai akan berpengaruh pada sektor ritel dan konsumer ke depan.

Analis PT Jasa Utama Capital Sekuritas, Chris Apriliony menilai rencana ini seakan menjadi sentimen negatif bagi sektor ritel.


"Belakangan Bu Sri Mulyani [Menteri Keuangan] mau menambah PPN. Itu berpengaruh pada konsumsi masyarakat ke depan. Sekarang saja belum pulih, ditambah apabila PPN diperbesar maka konsumsi turun, sehingga nggak berdampak [positif] ke ritel maupun konsumer. Makanya saham-saham konsumer susah naik, turun terus karena memang daya beli masyarakat turun," kata Chris dalam program Investime, dikutip Kamis (6/5/21).

Rencana untuk menaikkan PPN sudah disampaikan Sri Mulyani dalam paparannya di acara Musrenbangnas 2021 secara virtual pada Selasa (4/5/2021). Dalam paparannya itu, tertulis bahwa Pemerintah RI berencana untuk menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN).

Alasannya demi menggali potensi dan peningkatan tax ratio perluasan basis pajak terutama dengan adanya era digital ekonomi dan e-commerce. Namun, rencana itu menjadi sentimen buruk pada sektor ritel.

"Untuk tahun ini saya nggak melihat sektor konsumer terlebih dahulu untuk berinvestasi dalam satu tahun ini karena daya beli masyarakat belum pulih. Kapan waktu yang tepat? mungkin Ketika daya beli masyarakat dapat kembali meningkat," sebutnya.

Daya beli konsumsi belum pulih. Menurut data Badan Pusat Statistik, konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2021 masih berkontraksi atau -2,23% secara tahunan (year on year/yoy).

Selain itu, perkembangan sektor ritel juga menurun hingga -0,24% (yoy) pada kuartal I-2021. Salah satu sentimen lainnya dengan tingginya kasus positif Covid-19 di India.

"Belakangan ter-distract dengan yang terjadi di India, jadi ketakutannya ke Indonesia dan seluruh dunia. Itu jadi pemicu orang untuk menahan daya beli serta melihat situasi lebih lanjut. Jadi konsumsi masih kurang menarik," jelas Chris.

Adapun beberapa saham sektor ritel dan konsumen yang tercatat di BEI di antaranya PT Ramayan Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF), PT Hero Supermarket Tbk (HERO), PT ACE Hardware Indonesia Tbk (ACES), dan PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA). 

Lainnya di bidang konsumer di antaranya emiten PT Unilever Indonesia tbk (UNVR), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). 

Data BEI menunjukkan, saham RALS sebulan terakhir hingga perdagangan sesi II, Kamis ini (6/5), minus 8% dan year to date (ytd) turun 5%. Begitu pula saham ACES minus 3% sebulan dan ytd turun 14%. Saham UNVR bahkan ambles 16% sebulan dan ytd jeblok 24%, sementara saham turun 3% sebulan dan ytd turun 5%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading