Oalah! Gegara RI Demam Kripto, Harga Emas Antam Rontok Terus

Investment - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
27 April 2021 14:55
Petugas menunjukkan koin emas Dirham di Gerai Butik Emas Antam, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Bank Indonesia (BI) mengajak masyarakat dan berbagai pihak untuk menjaga kedaulatan Rupiah sebagai mata uang NKRI.    (CNBC Indonesia/ Tri Susislo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas Antam rontok sepanjang tahun ini akibat berubahnya tren investasi di pasar keuangan global, termasuk di Indonesia. 'Mata uang' kripto yang dimotori bitcoin kini sedang menjadi sensasi akibat harganya yang naik gila-gilaan.

Melansir data dari Refinitiv, bitcoin mencapai rekor tertinggi sepanjang masa US$ 64.899.97/BTC pada 14 April lalu. Di bandingkan posisi akhir tahun 2020 hingga ke rekor tersebut, harga bitcoin meroket sekitar 120%.

Jika kenaikan harga bitcoin tersebut sangat tinggi, maka kenaikan harga mata uang kripto lainnya, dogecoin, bisa dikatakan "gila". Kenaikan mata uang kripto berlogo anjing Shiba Inu (anjing asli Jepang) tak tanggung-tanggung nyaris 10.000% di tahun ini.


Melansir data Coin Market Cap, dogecoin di akhir tahun 2020 berada di US$ 0,0041612/koin, sementara pada 20 April lalu berada di US$ 0,412305/koin, artinya dalam harganya meroket lebih dari 9800%. Harga dogecoin pada 20 April tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang masa.

Kenaikan tajam mata uang kripto tersebut tentunya menarik minat pelaku pasar untuk mencari cuan jumbo. Alhasil, nilai transaksi di pasar kripto naik berlipat-lipat, dan transaksi di investasi tradisional mengalami penurunan.

Emas menjadi salah satu yang terkena dampaknya, harga emas Antam sepanjang tahun ini turun 3,63% mengikuti penurunan harga emas dunia yang turun lebih dari 6%. Padahal tahun lalu emas merupakan investasi favorit, harganya meroket hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Emas kini bersaing dengan bitcoin yang digadang-dagang sebagai emas digital, dan sudah banyak diadopsi oleh investor institusional hingga perusahaan-perusahaan besar sejak tahun lalu.

"Adopsi bitcoin oleh investor institusional baru saja dimulai, sementara emas sudah diadopsi sejak lama. Jika tesis tersebut benar, maka harga emas akan menderita akibat beralihnya aliran investasi dalam beberapa tahun ke depan," tulis ahli strategi dari bank JP Morgan sebagaimana dikutip Kitco pada Agustus tahun lalu.

Prediksi tersebut mulai terbukti, JP Morgan di awal bulan ini melaporkan pada periode Oktober 2020 hingga Maret 2021, terjadi capital outflow dari ETF emas sebesar US$ 20 miliar, sebaliknya terjadi capital inflow sebesar US$ 7 miliar ke bitcoin.

Nilai transaksi mata uang kripto di Indoensia juga mengalami kenaikan yang signifikan. Di Indonesia ada 13 perusahaan perdagangan aset kripto yang terdaftar. Indodax salah satunya, nilai transaksi per harinya lebih dari 1 trilun. Berdasarkan data dari Coin Market Cap, dalam 24 jam terakhir, nilai transaksi di Indodax lebih dari US$ 88 juta (Rp 1,27 triliun, kurs Rp 14.500/US$).

Itu baru dari satu perusahaan perdagangan, belum yang lainnya.

Menurut Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, total investor kripto di Indonesia kini lebih dari 4,2 juta orang. Angkanya nyaris menyamai jumlah investor di pasar modal (saham, obligasi, reksa dana, dan produk lainnya) yang mencapai 4,5 juta.

Jumlah investor bitcoin jauh lebih banyak dari investor saham yang sudah berpuluh-puluh tahun ada di Indonesia. Per Februari, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah Single Investor Identification (SID) saham mencapai 2 juta akun atau tepatnya 2.001.288 akun.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading