InvesTime

Perhatian! Ini Dia '1001' Pantangan Investasi Saham

Investment - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
14 April 2021 15:47
Kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham saat ini menjadi satu pilihan masyarakat dalam berinvestasi di pasar modal. Apalagi melihat potensi cuan yang besar dibandingkan dengan instrumen investasi lain. Koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini di tengah pandemi Covid-19 juga dinilai menjadi momen berinvestasi saat saham-saham berada pada level murah alias undervalued.

CEO PT Elkoranvidi Indonesia Investama, Fendy Susiyanto menjelaskan '1001' tips dalam berinvestasi saham. Jika ingin cuan dalam berinvestasi saham maka harus memahami dulu produk yang akan dibeli. Pelajari jenisnya dan sesuaikan dengan risiko yang diinginkan.

Dalam konteks saham, maka perlu dipahami dulu saham emiten yang mau dibeli, prospek bisnis, kinerja keuangan, dan indikator lainnya sebelum membeli.


"Prinsipnya dalam investasi saham kita tidak boleh melakukannya sebelum tahu caranya, bagaimana barangnya dan kondisinya seperti apa," ujarnya dalam program InvesTime CNBC Indonesia, Rabu (14/4/2021).

Selain itu, ia menyebutkan ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan dalam berinvestasi saham. Mulai dari menggunakan transaksi margin, short selling hingga mengandalkan modal dari uang pensiunan orang tua.

Margin trading adalah fasilitas yang disediakan oleh perusahaan sekuritas (broker) kepada nasabahnya dengan syarat minimal saldo tertentu (biasanya nasabah dengan akun Rp 200 juta ke atas). Fasilitas ini memungkinkan para nasabah membeli saham beberapa kali lipat, dari jumlah yang seharusnya didapat dengan dana yang tersedia.

Adapun short selling adalah transaksi yang digunakan dalam perdagangan saham di mana investor meminjam dana dari broker untuk menjual saham yang belum dimiliki dengan harga tinggi. Ini dilakukan dengan harapan dia akan membeli kembali pada saat harga saham turun. Artinya short selling secara sederhana disebut jual kosong, karena transaksi dilakukan tanpa ketersediaan efek.

Menurutnya, investasi saham bagi investor pemula sebaiknya menghindari transaksi margin maupun short selling. Sebab, kedua instrumen itu biasanya dilakukan oleh trader profesional atau ahli dalam trading saham.

Trader pro sudah pasti memiliki pengetahuan tentang saham, punya kemampuan menahan risiko dan paham kapan waktunya harus masuk dan keluar dari saham.

"Kalau pemula yang gunakan margin akan gambling dan kalau ada risiko bisa jual tapi jatuhnya paksa. Makanya hanya orang-orang pro yang lakukan transaksi margin. Untuk pemula saya tidak sarankan," kata dia.

Begitu pula dengan short selling yang dilakukan oleh trader pro.

"Jangan masuk short selling atau margin untuk pemula. Disarankan masuk ke saham-saham blue chip, nggak harus banyak dulu tapi nggak tinggi risikonya," jelasnya.

Selain itu, ia juga menekankan agar berinvestasi saham modalnya tidak boleh menggunakan uang panas seperti uang utangan, dana pensiun hingga uang arisan.

Jika menggunakan uang dari meminjam atau berutang maka saat terjadi koreksi dan harga turun maka masalah yang ditimbulkan akan semakin berat. Investor rugi dan juga harus tetap membayar utang.

Begitu juga dengan uang arisan yang biasanya memiliki batas waktu untuk dikembalikan. Sehingga saat batas waktu pengembalian dan harga saham turun maka akan terjadi kerugian.

Uang dana pensiun juga sebaiknya jangan digunakan untuk membeli saham jika untuk jangka waktu pendek. Uang yang harusnya untuk memenuhi kebutuhan bisa hilang saat terjadi penurunan harga saham.

Namun, jika ingin berinvestasi dalam jangka panjang maka dana pensiun bisa digunakan. Sebab, dalam jangka waktu panjang, saham akan memberikan keuntungan.

"Saat ini tepat untuk portofolio jangka panjang. Sekarang saat Covid-19, timing yang bagus, banyak yang turun dan 5 tahun ke depan itu bagus," imbuhnya.

Saat ini, terkait dengan jumlah investor, data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, jumlah investor baru sepanjang 2020 telah tumbuh 53,47% dari total jumlah investor pada 2019. Jumlah investor saham pada akhir 2020 telah mencapai 1.695.268 Single Investor Identification (SID).

Terdapat pertumbuhan sebanyak 590.658 SID jika dibandingkan dengan total jumlah investor saham pada akhir 2019 yang berjumlah 1.104.610 SID.

Investor baru pada 2020 secara signifikan didominasi oleh kaum milenial dengan rentang usia 18-30 tahun yang mencapai 411.480 SID atau 70%dari total investor baru tahun 2020. Pertumbuhan ini menguatkan dominasi kaum milenial sebagai investor di pasar modal Indonesia.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading