InvesTime

Transaksi Sepi, Benarkah Investor Saham Pindah ke Kripto?

Investment - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
14 April 2021 10:51
A Bitcoin (virtual currency) paper wallet with QR codes and a coin are seen in an illustration picture shot May 27, 2015. REUTERS/Benoit Tessier

Jakarta, CNBC Indonesia - Transaksi di bursa saham Indonesia mendadak sepi. Transaksi saat ini hanya berada di kisaran Rp 8 sampai Rp 10 triliun dibandingkan biasanya bisa mencapai Rp 20 triliun per harinya.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, Selasa kemarin (13/4), ada 175 saham naik, 313 saham merosot dan 153 saham stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp 8,903 triliun dan volume perdagangan mencapai 13,65 miliar saham.

Ramai kabar di pelaku pasar menyebutkan bahwa transaksi di bursa saham mulai sepi karena investor beralih ke cryptocurrency alias komoditas kripto seperti bitcoin, ethereum, ripple, dan kawan-kawannya.


Benarkah hal tersebut?

CEO PT Elkoranvidi Indonesia Investama, Fendy Susiyanto mengatakan, tidak benar adanya informasi ini. Menurutnya, transaksi di bursa saham mendadak sepi disebabkan oleh dua faktor.

Pertama, karena kondisi yang ada di global terutama AS. Tren penguatan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (US Treasury) menyentuh di atas level 1,7% dibandingkan biasanya yang sangat rendah. Sebab dengan kenaikan itu memicu peralihan investor ke pasar obligasi yang memburu yield tinggi.

Kemudian perekonomian AS juga kembali on track serta inflasi yang mulai meningkat menandakan sudah terjadinya aktivitas ekonomi.

"Jadi ini yang membuat [mereka] investor mengurangi porsi portofolionya [net sell asing]. Ini yang membuat terjadi penurunan volume transaksi," kata dia dalam program InvesTime CNBC Indonesia, Selasa malam (13/4/2021).

Kedua, karena pergerakan harga komoditas. Menurutnya, harga komoditas sejak Maret lalu kembali terkoreksi setelah sebelumnya pada awal tahun sudah mulai beranjak naik. Seperti harga nikel, batu bara, kemudian emas juga bahkan terus turun sejak Desember lalu.

"Ini semua jadi trigger [pemicu] yang membuat volume transaksi mengalami penurunan. Jadi ada shifting portofolio dan di satu sisi juga melakukan profit taking [aksi ambil untung]," jelasnya.

Lanjutnya, memang ada fenomena yang luar biasa yakni kenaikan harga dari bitcoin dan lain-lainnya yang sangat luar biasa. Apalagi ada juga tokoh dunia seperti Elon Musk, bos pabrikan mobil listrik Tesla, yang ikut masuk ke kripto sehingga menarik banyak minat investor.

Namun, ia mengingatkan agar para investor terutama milenial yang baru mulai berinvestasi, bahwa bitcoin memiliki keuntungan besar tapi juga risiko yang besar.

"Jangan lupa ini high return dan high risk," kata dia.

Ia mengingatkan kembali, bahwa pada 2017 lalu bitcoin juga pernah meningkat tajam, tapi kemudian turun juga sangat tajam. Ini lah yang dinilai perlu diwaspadai jika tidak tidak siap dengan risiko yang tinggi.

"Saya kalau kasi rekomendasi ke milenial hati-hati kalau cepat naik disini bitcoin, seperti sekarang banyak yang bilang bitcoin bagus, tapi kalau terjadi penurunan, maka penurunan juga dalam. Jadi hati-hati dan waspada dengan bitcoin," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading