Mau Borong Bitcoin cs, Apakah Aman buat Investasi?

Investment - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
24 February 2021 16:50
A Bitcoin (virtual currency) coin is seen in an illustration picture taken at La Maison du Bitcoin in Paris, France, June 23, 2017. REUTERS/Benoit Tessier/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia - Aset kripto seperti Bitcoin saat ini trennya sedang naik daun, istilah anak muda Jakarta, lagi hype-hype-nya.

Tentu kita mengetahui, harga aset sekeping Bitcoin terus merangkak naik, belakangan bahkan menyentuh level hampir Rp 700 juta perkepingnya. Salah satu kenaikan tersebut sebagai efek dari sentimen pasar CEO Tesla, Elon Musk yang memborong investasi Bitcoin senilai US$ 1,5 miliar.

Kenaikan Bitcoin, ternyata juga diikuti oleh aset-aset kripto lainnya seperti Ethereum, Ripple, Litecoin, IOTA, Dash, dan Dogecoin.


Lantas, apa itu Bitcoin dan apakah aman berinvestasi di blockchain seperti ini?

COO Tokocrypto dan Chairman Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo), Teguh Kurniawan menjelaskan, pada dasarnya aset kripto seperti Bitcoin adalah sebuah aset virtual yang di-generate atau ditautkan (hashrate) melalui sebuah blok satu dan blok lainnya atau disebut juga blockchain.

Tidak ada aset dasar atau underlying dalam investasi Bitcoin seperti layaknya reksa dana.

"Bitcoin tidak mempunyai underlying fisik, tapi punya catatan di blockhain, tidak ada batasan sampai nantinya blok terakhir, Bitcoin punya limited supply 21 juta akan habis atau berakhir," kata Teguh, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia di program InvesTime, Rabu (24/2/2021).

Teguh melanjutkan, saat ini investasi aset kripto di Indonesia sudah diawasi oleh PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) sebagai regulator dan Bappebti atau Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi di bawah Kementerian Perdagangan.

Oleh sebab itu, masyarakat tak perlu khawatir mengenai risiko yang sering jadi anggapan umum Bitcoin sebagai tempat cuci uang dan pendanaan terorisme. Saat ini juga sudah ada 13 agen pedagang aset kripto yang sudah legal.

"Pencucian uang dan pendanaan teroris musuh bersama, kita tidak hanya fokus perdagangan tapi transaksi mencurigakan, jika menemuka wajib melaporkan ke pihak berwenang, Bappebti dan PPATK," ungkapnya.

Dia juga menjelaskan, yang membedakan investasi aset kripto, pergerakan harganya memang cenderung volatile dan mengikuti tren pasar. Namun, sejauh pengamatannya, saat ini investasi di aset kripto belum menunjukkan tren penurunan, bahkan cenderung meningkat.

Teguh menambahkan, dengan aset kripto ini, peran bank sentral tidak akan tergantikan karena aset Bitcoin sebagai komoditas layaknya emas bukan menjadi alat pembayaran atau nilai tukar.

"Peran bank sentral tidak akan tergantikan," jelasnya.

Adapun terkait dengan likuiditas, saat ini terbilang cukup melimpah, pasalnya saat ini banyak investor yang berinvestasi di aset kripto dengan volume puluhan triliun. Hanya saja, saat ini, kebijakan investasi uang kripto di Indonesia baru diperbolehkan bagi investor individu belum untuk segmen korporasi.

"Sejauh ini tidak ada nasabah kami yang melakukan pengaduan likuiditas yang kurang, Indonesia jadi market potensial bagi aset kripto. Likuiditas besar, tidak perlu khawatir aset akan berhenti posisinya," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading