InvesTime

Ini Alasan Saham Konstruksi Masih Oke, Meski Utang Segunung!

Investment - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
19 February 2021 14:25
Progres Konstruksi Jalan Tol Layang Dalam Kota Jakarta Ruas Kelapa Gading-Pulo Gebang Capai 71%. (Dok. Kementerian PUPR)

Jakarta, CNBC Indonesia - Analis menilai saham emiten sektor konstruksi masih layak untuk dikoleksi investor pasar modal meski utangnya 'segunung'. Hal itu lantaran utang dari emiten konstruksi disebabkan banyaknya proyek yang harus dikerjakan dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan banyaknya proyek, ternyata pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga terbatas sehingga emiten konstruksi mau tidak mau harus menarik utang untuk menggarap proyek.

Mino, Analis Indo Premier Sekuritas mengatakan debt to equity ratio (DER) dari emiten konstruksi tidak menjadi masalah.


DER adalah rasio yang bisa digunakan untuk mencermati rasio utang dari sebuah perusahaan, membandingkan antara jumlah utang dengan jumlah ekuitas. Biasanya angka DER di atas 1 kali menjadi pertimbangan sebuah perusahaan punya utang besar atau kecil.

Mino menjelaskan, biasanya setelah proyek konstruksi rampung, proyek tersebut bisa dijual dan akan berdampak pada rasio utang yang cepat turun.

Tahun ini, dengan hadirnya lembaga pengelola investasi atau sovereign wealth fund (SWF), yang bernama Indonesia Investment Authority (INA) di sektor infrastruktur bakal menjadi angin segar untuk emiten konstruksi.

"Tahun ini dengan hadirnya SWF, ini juga salah satu solusi ya buat perusahaan konstruksi, agar DER bisa diturunkan," ungkapnya dalam InvesTime CNBC Indonesia, Rabu malam, (17/02/2021).

Pasalnya, jika SWF ini sukses dalam menggaet investor, ketika ada proyek investor langsung masuk dan bisa memberikan pembiayaan, maka tidak dihitung sebagai utang. Namun sebagai kepemilikan proyek. Hal inilah yang akan membuat DER perusahaan konstruksi turun.

"Ini yang sejauh ini jadi sentimen positif konstruksi, meski dengan DER tinggi, masih cukup prospek perusahaan terutama dengan hadirnya SWF," paparnya.

Dia mencontohkan salah satu emiten PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT). Saat ini WSKT masih diinvestasikan beberapa proyek yang rampung. DER yang berada di posisi 3,8 kali di mana batas maksimal DER 3 kali artinya rasio utang WSKT cukup tinggi.

Mengacu data BEI, per sesi II perdagangan saham Jumat ini (19/2), DER WSKT mencapai 688% atau 6,88 kali. Berikutnya ada PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dengan DER 363,89% atau 3,63 kali, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) 574,59%, dan PT PP Tbk (PTPP) sebesar 363,89%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading