Mau Investasi Saham, Belajar Dulu atau Langsung Nyemplung?

Investment - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
27 January 2021 10:50
Presiden Joko Widodo resmi menutup perdagangan bursa tahun 2017 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (29/12/2017). Perdagangan bursa ditutup menguat pada angka 6,355

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam beberapa waktu terakhir, investasi saham menjadi topik yang cukup hangat diperbincangkan. Mulai dari orang biasa, hingga influencer dan artis ibu kota mulai menampilkan unggahan terkait investasi saham, bahkan blak-blakan memberikan rekomendasi saham tertentu.

Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang tergiur dengan keuntungan investasi saham, sehingga mereka membeli tanpa mempelajarinya terlebih dahulu. Bahkan ada yang membeli saham menggunakan 'uang panas', seperti meminjam uang dari financial technology (Fintech) atau pinjaman online (pinjol), hingga menggadaikan BPKB.

Meningkatnya investasi di pasar modal tentu membuat isu tersendiri, terutama terkait dengan literasi atau pengetahuan para pemula yang masuk ke pasar saham.


Melihat fenomena ini, Direktur The Indonesia Capital Market Institute (TICMI) Dwi Shara Soekarno mengatakan orang-orang yang ingin berinvestasi seharusnya mempelajari lebih dalam soal investasi, termasuk produk-produk yang ingin dibeli.

"Menurut saya, ketika ingin berinvestasi dimanapun, mau itu real asset, mau itu saham, properti, emas, people assets seperti saham atau obligasi, kita harus belajar dulu, gak asal nyemplung, gak langsung," kata Shara dalam program Investime CNBC Indonesia, Selasa (26/1/2021).

Shara menganalogikan investasi dengan membeli sebuah produk biasa. Menurutnya "Ini sama halnya dengan investasi di pasar modal, tentu kita harus belajar dulu sebelum kita memutuskan untuk membeli apa."

"Sama saja dengan membeli sebuah produk, biasanya gak langsung membeli produk tersebut, tapi kita harus tahu produk tersebut seperti apa, dibandingkan dengan produk lain yang menjadi alternatif," tambahnya.

Namun, kata Shara, meledaknya isu investasi saham saat ini juga membuat pertumbuhan investor baru hingga 400 ribu Single Investor Identification (SID) selama tahun 2020, dimana jumlahnya tuh lebih dari 90% dari total SID tahun 2019.

"Dominasi investor retail domestik tuh kalau dilihat dari rata-rata nilai transaksi harian bursa. Rata-rata nilai transaksi harian," ujarnya.

Secara tahunan, dari Januari hingga November 2020, jumlah transaksinya mencapai 8,4 triliun. Sebanyak 4,9 triliun diantaranya dikontribusi oleh aktivitas transaksi yang dilakukan oleh investor retail.

"Investor retail itu adalah orang yang individual, orang yang kemungkinan besar pendatang baru di pasar modal," lanjutnya. "Investor retail ini cukup banyak, dimana sebagian besar didominasi oleh investor milenial. Ini luar biasa, menjadi gaya hidup investasi pasar modal di kalangan milenial. Jumlahnya pun mencapai lebih dari 50% dari demografinya usia 30 tahun ke bawah."


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading