Jumbo! Emiten Menara Milik Sandi Dapat Utang 10 Bank Rp 4 T

Investment - tahir saleh, CNBC Indonesia
21 January 2021 20:52
Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno/ Twitter @sandiuno

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan penyedia menara milik Grup Saratoga, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) mendapatkan pinjaman revolving (revolving credit facility/RCF) dari perbankan senilai US$ 275 juta atau setara dengan Rp 4,10 triliun dengan kurs tengah Bank Indonesia per September 2020 Rp 14.918/US$.

Jumlah RCF adalah bagian dari total komitmen senilai US$ 645 juta bagi TBIG yang disebut sebagai Fasilitas F.

Hardi Wijaya Liong, CEO TBIG, mengatakan dana tersebut akan digunakan untuk melunasi pinjaman eksisting perseroan senilai US$ 275 juta atau Fasilitas D.


Fasilitas F yang baru ini akan jatuh tempo pada Juni 2026 dan memiliki bunga Libor (London Interbank Offered Rate) ditambah 175 basis poin atau lebih rendah 25 bps dibandingkan bunga pinjaman Fasilitas D.

"Kami memiliki struktur utang yang sangat kuat dengan utang jangka panjang yang telah terlindung nilai dan ketersediaan komitmen kredit yang cukup serta ruang yang cukup besar berdasarkan financial convenants kami," katanya, dalam siaran pers, Kamis (21/1/2021).

"Fasilitas F dan Surat Utang 2026 yang baru ini telah mengurangi biaya bunga kami serta memperpanjang rata-rata tenor struktur utang kami," jelasnya.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis ini, Direktur Keuangan atau CFO TBIG, Helmy Yusman Santoso, mengungkapkan sejumlah bank yang tergabung dalam konsorsium pemberi kredit tersebut yang mencapai 10 bank.

Konsorsium bank itu yakni PT Bank BNP Paribas Indonesia, PT Bank CIMB Niaga Tbk (IDX:BNGA), Credit Agricole Corporate and Investment Bank, DBS Bank Ltd, dan PT Bank HSBC Indonesia.

Lainnya yakni PT Bank Mizuho Indonesia, Oversea-Chinese Banking Corporation Limited, PT Bank OCBC NSIP Tbk (IDX:NISP), Sumitomo Mitsui Banking Corporation (Singapore Branch), dan United Overseas Bank Limited.

Bertindak selaku Security Agent yakni United Overseas Bank Limited.

Pekan lalu, TBIG juga telah menetapkan surat utang senior tanpa jaminan jatuh tempo 2026 sebesar US$ 300 juta dengan suku bunga 2,75% (Surat Utang 2026).

Surat Utang 2026 telah mendapatkan peringkat BBB- Investment Grade dari Fitch Ratings. Surat Utang 2026 digunakan untuk membiayai kembali sebagian utang yang masih terutang berdasarkan RCF yang ada.

"Setelah memperhitungkan penerbitan Surat Utang 2026, kami akan memiliki lebih dari US$ 500 juta fasilitas berkomitmen dan belum ditarik berdasarkan RCF kami yang ada, yang akan tersedia dan dapat dipinjam kembali," kata Helmy.

Dia mengatakan TBIG terus memiliki cukup ruang untuk menggunakan pinjaman tambahan berdasarkan financial covenants untuk tidak lebih dari 5,0 kali rasio pinjaman senior bersih (net senior debt) terhadap EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi) yang disetahunkan untuk pinjaman bank.

"Kami mempertahankan strategi lindung nilai kami dengan menggunakan instrumen derivatif lindung nilai yang sesuai dengan jatuh tempo utang. Kami memiliki fleksibilitas untuk terus tumbuh secara organik, membiayai akuisisi dan menerapkan kebijakan pengembalian untuk pemegang saham," tambah Helmy.

TBIG adalah perusahaan yang sahamnya tercatat di BEI dan dimiliki oleh Saratoga Group dan Provident Capital.

Pemegang saham terbesar TBIG adalah PT Wahana Anugerah Sejahtera 35,61%, PT Provident Capital Indonesia 26,73%, sementara sisanya publik 36,32%.

Sisa saham lain dipegang investor perorangan termasuk Winato Kartono dan Edwin Soeryadjaya, petinggi dari Grup Saratoga. Grup Saratoga yang dikendalikan Edwin dan Sandiaga Uno ini masuk ke TBIG sejak 2004.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading