Awas Kepleset, Jangan Terburu Nafsu Saat 'Nyerok' Saham!

Investment - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
24 December 2020 07:05
Layar pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (24/11/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2020 tinggal menghitung hari. Waktu berlalu begitu cepat dan lebih banyak waktu kita dihabiskan di rumah akibat pandemi Covid-19. Mobilitas sebagai darah bagi perekonomian global yang tersendat telah menyebabkan output mengalami kontraksi terparah sejak The Great Depression 1929.

Namun ada fenomena menarik yang patut dicermati. Meskipun dunia jatuh dan terpuruk ke jurang resesi tahun ini, ternyata tak serta merta menjadi halangan bagi pasar saham untuk mencapai titik tertingginya sepanjang masa (all time high).

Memang tidak semua pasar saham berhasil mencetak rekor sejarah barunya. Beberapa masih berada di zona negatif tahun ini dan diperkirakan akan tetap berada wilayah tersebut hingga akhir tahun. 


Namun hal tersebut tidak berlaku bagi S&P 500 yang mencetak rekor barunya di akhir pekan lalu. Ketika indeks saham acuan negara lain masih terjerembab di zona merah atau kalaupun tumbuh hanya minimalis, indeks S&P 500 berhasil membukukan kinerja yang ciamik.

Tak tanggung-tanggung, secara year to date (ytd) berhasil melesat 14,1%. Nilai kapitalisasi pasar S&P 500 mencapai US$ 31,08 triliun atau hampir setara dengan lebih dari 150% output perekonomian Negeri Paman Sam. 

Mengacu pada indikator yang dicetuskan oleh investor kawakan Warren Buffett, ketika rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB suatu negara berada di atas rata-ratanya secara tren historikal maka bisa dikatakan bahwa nilainya sudah kemahalan alias overvalued.

Sejak 1970-2020, secara rata-rata rasio kapitalisasi pasar saham terhadap PDB AS berada di angka 80%. Saat ini rasionya sudah di atas 100%. Bahkan hampir dua kali lipat dari rata-rata. 

Melihat indikator valuasi lain yaitu menggunakan rasio harga terhadap laba (price to earning/PE), secara rata-rata jangka panjang 10 tahun nilai PE S&P 500 adalah 14-15x. Namun sekarang sudah berada di angka 29,1x.

Banyak yang khawatir dengan fenomena reli pasar saham di AS ini. Sebagian menganggap market sedang bubble dan berpotensi akan pecah sehingga menjadi risiko yang patut diwaspadai, sementara yang lain menganggap fenomena ini sebagai hal yang wajar. 

Dari sudut pandang adanya bubble, ekonomi AS diramal terkontraksi tahun ini tetapi harga aset-aset ekuitas justru terus menerus mencetak rekor tertingginya. Ketika ekonomi sedang lesu, maka daya beli masyarakat melemah hal ini akan berdampak pada kinerja keuangan korporasi dan setoran dividen yang dibayarkan ke investor.

Ketika jumlah dividen yang disetorkan ke pemegang saham kecil kenapa harus membayar mahal harga sahamnya? Inilah dasar utama logic dibalik pandangan bahwa pasar sedang bubble untuk saat ini.

Bagi mereka yang menganggapnya kenaikan harga saham belakangan ini adalah wajar karena mengikuti growth story dibalik makin maraknya adopsi teknologi digital di kala pandemi. Fenomena ini terjadi hampir di seluruh dunia. 

Toh tidak semua saham mengalami kenaikan fantastis. Bisa dibilang saham-saham teknologi lah yang mengalami kenaikan paling pesat. Di antaranya adalah geng FAANG (Facebook, Apple, Amazon, Netflix  & Google).

Namun terlepas dari itu semua kenaikan pasar saham terutama di AS tidak bisa dilepaskan dari sentimen positif vaksin Covid-19 hingga paket stimulus fiskal maupun moneter yang bernilai jumbo.

Beberapa negara sudah mulai merestui penggunaan darurat vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech. Mereka adalah Inggris, Kanada, Bahrain, Arab Saudi bahkan AS. Program vaksinasi yang sudah berjalan di Inggris pun memberi optimisme ke pelaku pasar bahwa ekonomi on track di jalur pemulihannya.

Menambah sentimen positif ada kebijakan moneter ultra akomodatif the Fed yang membabat habis suku bunga acuannya (Federal Fund Rates) hingga mendekati nol persen (zero lower bound).

Tak sampai di situ kebijakan moneter ekspansif berupa quantitative easing (QE) yang sering disebut banyak pihak sebagai kebijakan cetak uang pada 2008 silam mulai dilakukan. Bahkan nilainya lebih fantastis.

Jika QE yang dilakukan the Fed pada krisis keuangan global 2008 membuat neraca (balance sheet) bank sentral mengembang sebesar US$ 3 triliun selama 3-4 tahun. Sekarang hanya butuh waktu kurang dari 12 bulan untuk membuat neraca bank sentral menggembung dengan nilai yang sama. 

Bayangkan saja yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang sudah jatuh ke teritori negatif dan besarnya injeksi likuiditas di pasar membuat dana ini harus dilarikan segera ke berbagai aset. Ada yang masuk ke aset minim risiko seperti emas, berisiko seperti saham bahkan sampai aset yang paling spekulatif pun seperti bitcoin.

Waspada Koreksi dalam Waktu Dekat
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading