Emas Katanya Sudah Mahal, Aset Apa yang Masih Terjangkau?

Investment - Haryanto, CNBC Indonesia
29 July 2020 16:12
Karyawan gerai emas  memperbaiki perhiasan warna emas (chrome) berupa cincin di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/20). harga emas Antam juga berhasil naik Rp 25.000 menjadi Rp 964.120/gram untuk emas kepingan 100 gram yang lumrah dijadikan acuan. Sedangkan untuk kepingan 1 gram berada di Rp 1.022.000/gram berhasil menembus level 1 juta per gram. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga logam mulia emas nyaris menyentuh level US$ 2.000/troy ons pada perdagangan Selasa kemarin dengan harga tertinggi harian berada di level US$ 1.980/troy ons akibat pandemi virus corona mendorong sejumlah negara masuk jurang resesi, sehingga mengangkat aset safe haven sebagai lindung nilai.

Sementara untuk harga emas Antam juga telah menembus di atas Rp 1 juta per gram nya, mengikuti lonjakan harga emas dunia kemarin. Angka yang fantastik ini cenderung membuat investor berfikir ulang untuk membeli di level saat ini yang dianggap sudah terlalu mahal.

Untuk jangka pendek mungkin hal tersebut masuk hitungan, namun jika untuk jangka menengah hingga jangka panjang emas masih akan mencetak rekor baru, seperti yang telah diramalkan oleh beberapa analis.


Bahkan yang paling ekstrim hingga menyentuh level US$ 10.000/troy ons atau setara dengan nyaris Rp 5 juta per gram (asumsi kurs Rp 15.000/US$).

Lalu investasi apa yang masih bisa terjangkau dan berpotensi menghasilkan pundi-pundi keuntungan?

Dalam pasar keuangan ada beberapa jenis investasi yang bisa jadi pilihan karena mudah untuk dilakukan dan memiliki risiko yang tidak terlalu besar. Investasi tersebut mulai dari saham, obligasi hingga reksa dana, yang  kesemuanya punya karakter dan keunggulan masing-masing.

Berinvestasi adalah salah satu cara yang strategis untuk dapat menghasilkan uang yang lebih. Kendati demikian, banyak hal yang perlu diperhatikan dalam memilih jenis dan produk atau instrumen investasi. Hal ini dikarenakan setiap orang memiliki kebutuhan, tujuan dan pribadi yang berbeda-beda.

Obligasi

Selain emas yang dianggap sudah agak mahal, ada instrumen investasi seperti obligasi, investasi jenis obligasi ritel negara, imbal hasilnya dapat dibayarkan setiap bulan dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder, biasanya lebih tinggi dari rata-rata deposito bank BUMN. Ada dua produk, pertama yaitu obligasi negara ritel (ORI) dan sukuk ritel (SR).

Banyak investor yang melirik instrumen ini karena minim risiko dan juga menghasilkan pendapatan yang tetap. Jadi sangat berpotensi untuk menambah pundi-pundi uang.

Sebagai informasi, hasil penjualan obligasi ritel negara Seri ORI017 yang berakhir pada 9 Juli 2020 sebesar Rp18,33 triliun.

Minat masyarakat terhadap ORI 017 ini sangat besar, hal ini terlihat dari pemesanan yang sudah melebihi target penerbitan senilai Rp 10 Triliun. Apalagi ORI 017 bersifat tradable atau bisa diperdagangkan kembali setelah masa holding period.

Meski ditawarkan saat pandemi Covid-19, masyarakat ternyata cukup antusias untuk menyerap ORI017. Terbukti seri ORI017 ini memecahkan rekor penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel tertinggi sejak dijual secara online pada 2018 lalu. Hal ini baik secara nominal, jumlah total investor hingga jumlah investor baru.

Sebanyak 2.002 orang investor tercatat membeli ORI017 dengan nominal Rp 1 juta, angka ini naik 123% dibanding dengan pembelian sebelumnya yaitu ORI016 dengan nominal yang sama.

Berdasarkan keterangan resmi Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan Kementerian Keuangan RI di Jakarta, Senin (13/7/2020) dari total investor ORI017 sebanyak 42.733 orang, porsi investor baru lebih dominan, yaitu 56% dari total investor atau sebanyak 23.949 orang.

Sementara mengacu data sepanjang bulan berjalan (month to date/MTD), harga obligasi rupiah pemerintah Indonesia yang bertenor 10 tahun terapresiasi 5,64% dengan penurunan yield  38,6 basis poin (bps) menjadi 6,847% dari 7,233%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya.  Yield menjadi acuan keuntungan investor di pasar surat utang dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

Saham

Lalu ada juga saham, yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sepanjang bulan ini terpantau menguat sebesar 4,23% ke level 5.113,11 pada penutupan perdagangan hari ini (29/7/2020) dari level 4.905,39 pada penutupan perdagangan 30 Juni 2020.

Sebagai referensi carilah saham-saham dengan fundamental yang baik dan harga nya masih terjangkau, sehingga tidak perlu merogoh kantong yang dalam, namun tetap menghasilkan keuntungan alias cuan.

Dari kedua jenis instrumen investasi ini, yaitu obligasi dan saham, yang paling menguntungkan sepanjang bulan ini adalah investasi obligasi yang naik sebesar 5,64%, sedangkan saham membukukan kenaikan yang sebesar 4,23%.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(har/har)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading