Bisakah Menjadi Kaya jika Investasi di Reksa Dana?

Investment - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
25 November 2019 14:15
Foto: Reksa Dana (CNBC Indonesia/Irvin Avriano Arief)
Jakarta, CNBC Indonesia - Investasi merupakan salah satu metode untuk menambah pundi-pundi kekayaan meskipun ada risiko merugi. Salah satu produk investasi yang tergolong aman adalah reksa dana atau mutual fund.

Risiko kerugian yang melekat pada instrumen reksa dana boleh dibilang relatif lebih rendah dibanding investasi saham secara langsung, khususnya untuk pemula. Risiko yang lebih rendah ini membuat banyak kalangan berpikir sulit menjadi kaya jika berinvestasi di produk reksa dana.

Untuk diketahui, produk investasi satu ini tidak dikelola oleh individu secara langsung, tapi oleh manajer investasi. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih manajer investasi yang kompeten dan dapat dipercaya agar imbal hasil dari reksa dana  yang kita miliki menjadi maksimal.



Di Indonesia produk reksa dana diterbitkan pertama kali oleh perusahaan BUMN bernama PT Danareksa. Reksa Dana diciptakan sebagai salah satu alternatif baik bagi pemodal kecil maupun besar yang memiliki uang tetapi tidak memiliki banyak waktu dan keahlian menjalankan investasinya.

Komposisi aset keuangan dalam portofolio reksa dana dilampirkan dalam prospektus produk reksa dana yang ditawarkan, ada yang sepenuhnya berisi saham, obligasi, atau campuran dengan produk pasar uang.

Melansir situs infovesta, produk reksa dana yang mencatatkan tingkat pengembalian paling tinggi setahun terakhir (hingga 22 November 2019) adalah reksa dana saham, seperti Mandiri Investa Equity Movement (+47,39%) dan OSO Syariah Equity Fund (+49,36%). Artinya potensi untuk mendapatkan imbal hasil tinggi tetap terbuka pada reksa dana. Namun ada juga produk reksa dana saham jyang menorehkan kerugian paling besar.


Lebih lanjut, berikut karakteristik jenis-jenis produk reksa dana:

Pertama adalah reksa dana saham. Reksa dana ini dapat berisi saham yang setiap tahunnya selalu mendistribusikan dividen yang besar atau berisi kumpulan saham dengan cuan jumbo.

Jika investor fokus pada pembayaran dividen tahunan, umumnya manajer investasi tidak akan terlalu sering memperdagangkan sahamnya, sehingga potensi untuk rugi/untung dari pergerakan harga saham juga kecil.

Sedangkan, jika investor berfokus pada capital gain alias cuan dari pergerakan harga saham, maka manajer investasi akan secara aktif memperdagangkan saham dalam portofolio investor. Namun sebagai gantinya tingkat resiko juga jauh lebih besar.

Kedua ada pilihan reksa dana obligasi. Meskipun obligasi biasanya dikategorikan investasi yang aman karena memberikan yield tahunan yang moderat dan pengembalian dana awal, tetap ada resiko dari jenis reksa dana satu ini, yakni dari pergerakan harga obligasi.

Akan tetapi, investor juga dapat memperoleh keuntungan dengan memperjualbelikan obligasi tertentu, seperti junk bonds atau obligasi dengan peringkat utang yang rendah alias memiliki resiko gagal bayar yang tinggi.

Karena ada resiko gagal bayar, perusahaan penerbit junk bonds menawarkan kupon yang lebih besar. Manajer investasi yang mengelola reksa dana obligasi umumnya membeli junk bonds pada harga yang sangat murah dan menjualnya sebelum jatuh tempo, di saat harganya naik.

Investor terkadang dapat memperoleh durian runtuh ketika peringkat utang perusahaan penerbit obligasi meningkat, membuat harga obligasinya memiliki daya tawar yang lebih besar.

Begini Tren Kinerja Reksa Dana 2019
[Gambas:Video CNBC]

Reksa Dana Resiko Moderat & Rendah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading