Punya Duit 20 Juta, Beli iPhone 11 atau Investasi?

Investment - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
14 September 2019 19:29

Jakarta, CNBC Indonesia - Apple Inc resmi memperkenalkan tiga iPhone barunya pada tanggal 10 September 2018. Ketiga iPhone baru tersebut adalah iPhone 11, iPhone 11 Pro, dan iPhone 11 Pro Max.

Mengutip Business Insider, Kamis (12/9/2019), harga termahal iPhone tersebut adalah iPhone 11 Pro Max dengan penyimpanan (storage) internal 512 GB senilai US$1.450 atau setara Rp 20,3 juta (asumsi US$1 = Rp 14.000). Sementara Untuk model termurah, iPhone 11 ditawarkan dengan harga US$699 atau setara Rp 9,79 juta (asumsi US$1 = Rp 14.000).

Seperti biasa dalam dunia smartphone, jika muncul produk baru, maka produk lama akan mengalami penurunan harga. Decluttr, situs jual-beli ponsel bekas, menemukan harga ponsel iPhone lawas turun banyak setelah iPhone baru diluncurkan. Meski begitu, harga perangkat Android biasanya turun lebih cepat dari harga perangkat iOS.



Berdasarkan Decluttr, nilai iPhone akan turun 40% sebulan setelah dirilis. Sebagai contoh, Decluttr menunjukkan bahwa iPhone XS telah kehilangan 49% nilainya dalam 11 bulan, sekarang nilai jual kembalinya US$512 (Rp 7,21 juta).

Berdasarkan riset Decluttr, rata-rata nilai Apple iPhone akan turun 30% ketika model-model terbaru diumumkan.

Sebagai barang yang memiliki umur ekonomis, maka wajar jika harga iPhone akan mengalami penurunan. Tapi tetap saja penurunan yang terjadi jika ada produk terbaru muncul terbilang cukup signifikan.

Dengan harga termahal di atas Rp 20 juta, mungkin sebagian orang akan berfikir "sayang duitnya" membeli produk yang harganya turun begitu cepat. Dengan uang Rp 20 juta rupiah, bisa dialihkan ke investasi yang nilainya memiliki potensi untuk berkembang.

Memang investasi juga memilki risiko penurunan, tapi potensi peningkatan nilai investasi juga cukup besar. Ada berbagai jenis investasi mulai dari yang memberikan fixed income seperti deposito, hingga yang memberikan return tinggi seperti saham atau reksa dana.

Dengan kondisi perekonomian global yang masih dipenuhi ketidakpastian, risiko berinvetasi di saham atau reksa dana tentunya akan meningkat. Investasi di reksa dana misalnya, untuk tahun ini diperkirakan akan menghasilkan rata-raya return 3%.

"Untuk reksa dana saham juga kami revisi sekitar 3% secara rata-rata, kalau individu jelas itu akan ada yang lebih unggul," kata Wawan Hendrayana Head of Market Research Infovesta Utama dalam talkshow dengan CNBC Indonesia TV, Rabu (11/9/2019).

Jenis investasi yang sedang cemerlang saat ini adalah emas. Di tengah ketidakpastian global, harga emas terus bersinar.

BERLANJUT KE HALAMAN 2>>>>>>>>>>

 

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading