Ibu Kota Pindah, Cermati Investasi Properti di Area Potensial

Investment - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
09 September 2019 11:02
Ibu Kota Pindah, Cermati Investasi Properti di Area Potensial Foto: Suasana kawasan Sepaku di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Antara Foto/Akbar Nugroho Gumay/ via REUTERS)
Jakarta, CNBC Indonesia - Berinvestasi jadi pilihan yang tepat untuk dilakukan agar dapat menambah pundi-pundi uang atau untuk mendapatkan cuan. Salah satu sektor yang patut dipertimbangkan adalah properti, apalagi di kesempatan sekarang ini saat pemindahan Ibu Kota sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Pemerintah akan memindahkan ibu kota dari Jakarta, ke Kalimantan Timur. Oleh karenanya investasi properti di luar Pulau Jawa, utamanya di sekitar Kalimantan, cukup menjanjikan seiring dengan potensi pesatnya pembangunan di kawasan ini melalui berbagai program pemerintah.

Demikian seperti yang disampaikan Founder Panangian School of Property, Panangian Simanungkalit kepada CNBC Indonesia dikutip Senin (9/9)


Panangian menyebut ada beberapa instrumen yang bisa dijadikan tempat investasi di sektor properti, seperti lahan, rumah, dan apartemen.



"Kalau ada pindah manusia begitu banyak dari Jakarta ke sana tentu lahan kosong sebenarnya yang paling prioritas. Yang penting luas di sana rumah-rumah kan 100-200 meter juga nggak masalah. Karena yang penting kan efek investasinya," kata Panangian.

Selain lahan kosong, investasi di calon lokasi ibu kota baru bisa dilakukan dengan membeli rumah. Punya hunian di sana masih menjadi belum semacet Jakarta. "Apartemen ini kan kalau misalnya ada pekerja-pekerja yang dari luar kota yang tinggal di sana untuk sementara, kebanyakan lebih suka di apartemen," katanya.

Panangian menjelaskan bahwa properti seperti rumah-rumah untuk kelas menengah ke bawah merupakan instrumen yang jauh lebih menguntungkan untuk dipilih sebagai tempat investasi mengingat besarnya permintaan apalagi di lokasi baru seperti Kalimantan. Selain itu, risiko investasi dalam rumah menengah ke bawah juga lebih rendah dibandingkan di rumah-rumah besar untuk kalangan menengah ke atas.

"Menengah ke bawah dari segi demand jauh lebih masif. Jadi kalau dilihat dari risiko investasi, lebih enak membeli yang menengah. Karena mudah terjual. Kalau menengah ke atas itu biasanya slow dia. Cepat dia bereaksi, tapi kalau soal harga belum tentu dia sustainable. Tapi kalau yang menengah, pasti sustainable," jelasnya.

Namun, Panangian juga mengimbau agar investor tetap waspada sebelum memilih instrumen dan wilayah investasi, mengingat ada berbagai risiko yang bisa saja terjadi. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah mengetahui lokasi dan pengembangan lokasinya hingga perizinan.

"Jadi kalau kita mau beli, kita harus dapat informasi yang utuh dari misalnya ini dari pemerintah, lahan yang akan dikembangkan. Kalau rumah, kita bisa informasi dari broker juga bisa di mana yang paling banyak dicari misalnya."


Ia juga mengingatkan tetap harus dihindari aspek spekulasi, artinya walaupun lokasi ibu kota sudah ditetapkan, tapi investor harus tetap jeli, tak mudah cepat-cepat mengambil keputusan.

"Kalau di sana tidak akan dibuat jadi sebuah, katakan kawasan, tapi orang berpikir itu akan dijadikan kawasan. Itu kan bisa spekulasi seperti di Jonggol," tegasnya. (hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading